Monday, February 10, 2020

Cara Menghilangkan Bintik Hitam di Baju



Aku mau share tentang cara menghilangkan bintik hitam di baju. Soalnya nih ya para emka pasti related banget nih soal bintik-bintik hitam di baju gini ya kaaan???


Sebelumnya aku cerita dulu nih, kenapa akhirnya aku mau nulis tentang cuci-mencuci ini. Ga lain ga bukan karena emang salah satu agenda kerjaan domestikku ya cuci baju.

Entah kenapa juga nih, aku paling suka sama warna putih. Baju-baju Baby F pun paling banyak kubelikan yang warnanya putih. Padahal, nyuci pakaian warna putih tuh sebenernya superrr duperr challenging looh.

Pertama, karena pakaian putih itu mesti dicuci terpisah. Ini urusannya demi warnanya ga nyampur. Jadi, tetap putih bersinar gitu.

Kedua, pakaian putih itu gampang buluk sekalipun sudah dicuci dengan cara dipisah. Ini aku alami langsung sih. Baju-baju putihnya kami sekeluarga itu udah dicuci dengan hati-hati, tapi masih aja warnanya ga seputih awal beli. Cenderung gampang menguning dan ujung-ujungnya jadi buluk. Sebel banget kan tuh!

Dua alasan tadi itu sudah sangat cukuplah bagiku buat menjelaskan betapa challengingnya merawat baju-baju putih ini.

Apalagi nih ya, kalau bajunya sering dipake dan ga rajin digantung, akan ada kejutan yang bikin kita ngedumel. Yaitu, bintik hitam!!!

Semua serat kain sebenarnya rentan terpapar noda bintik-bintik hitam. Tanpa pengecualian warna apapun. Apalagi buat warna putih. Makin nampak jelas jika sudah terpapar noda bintik hitam.

Aku akan share beberapa caraku menghilangkan noda bintik hitam pada baju-bajuku selama ini. Ini berdasarkan pengalamanku yaa...

Nah, untuk itu kita perlu tahu dulu apa saja penyebab noda bintik-bintik hitam itu. Sepanjang pengetahuanku yang modal pengalaman doang ini, bintik-bintik hitam itu muncul karena serat kain kita lembab.

Seringnya aku temukan pada mukenah nih. Kan habis berwudhu, kemudian kita pakai mukenah. Otomatis air sisa wudhu tadi membuat kain mukenah basah. Idealnya, gantung mukenahmu setelah dipakai. Baik menggunakan gantungan baju (hanger) atau dikaitkan di tempat gantungan belakan pintu.

Tujuannya agar kain yang sempat basah tadi bisa terkena angin dan perlahan mengering. Sayangnya, kebiasaan yang ada setelah pakai mukena tidak langsung digantung melainkan dilipat dan digulung dalam sejadah. Betul ga?

Kebiasaan inilah yang berpotensi membuat bintik-bintik hitam pada kain mukenah. Karena kondisi lembab itulah ia muncul. Seperti jamuran.

Pada bajupun demikian. Seringnya, baju sekolah atau seragam yang telah selesai dipakai, tapi belum akan dicuci. Baiknya ya digantung juga. Jangan asal ditumpuk karena bisa menyebabkan lembab seperti kasus mukenah tadi.


Kalau memang sudah terlanjur jadi bintik-bintik hitam, maka lalukan beberapa hal ini untuk menghilangkannya.


  1. Pisahkan baju yang terkena noda bintik-bintik hitan dengan yang masih aman. 
  2. Rendam dengan air hangat.
  3. Kemudian baru dicuci (agak disikat yaaa...)

Semoga bajumu kembali bersih tanpa bintim hitaaam.

Thursday, February 06, 2020

Menanamkan Sopan Santun Pada Anak Usia Dini




Ada banyak sekali cerita maupun video yang beredar. Tentang tingkah laku anak-anak masa kini. Jujur, sebagai seorang ibu ada sedikit rasa khawatir dalan hati. Aku takut jika kelak ada norma yang terlewat olehku dalam menanamkan nilai moral pada Faraz (dan mungkin adik-adiknya kelak. *uhuk).

Well, sopan santun adalah suatu keniscayaan rasanya ketika melihat kepesatan teknologi di sekitar kita. Apa mungkin aku masih bisa mengontrolnya saat ia sudah piawai bergawai ria? Tentu jawaban adalah tidak. Maka, menyiapkan nilai-nilai moral sehingga betul-betul terpatri dalam alam bawah sadar anak-anak ini menjadi PR besar bagi para orang tua.

Secara teknis, ada banyak sekali teori berseliweran. Tentang cara menanamkan nilai moral pada anak usia dini. Cara A, B, C, hingga Z tersedia. Namun, pada akhirnya orang tua harus memilah dan memilih sesuai dengan kemampuan kedua belah pihak. Yaitu kemampuan si orang tua dalam mengimplementasikannya, juga kemampuan si anak dalam peluang penerimaannya.

Kali ini aku membatasi PR nilai moral yang akan ditanamkan. Karena ada banyak sekali nilai-nilai penting kehidupan yang memang harus dikenalkan pada anak sejak diri. Dengan harapan agar kelak ia terbiasa dan tercermin dalam tingkah lakunya. Maka dari itu, batasan bahasan kali ini seputar sopan santun dulu yaa...



Disclaimer: 
Aku bukanlah ahli parenting. Sharing ini adalah sedikit dari pengalamanku membersamai anakku sendiri dengan beragam trial and error pengalikasian beragam teori yang kubaca. Semoga bermanfaat.



Aku mengikuti akun IG Retno Hening, Ibunya Kirana dan Rumaysa sejak mereka masih awal-awal berbagi di Instagram dulu. Waktu itu aku belum menikah alias masih gadis.

Jujur, Bu Retno Hening ini menjadi salah satu idolaku. Bahkan saat aku menikah, belum juga dipercayakan untuk menjaga buah hati, aku bahkan mendaftar ikut kuliah online-nya melalui whatsapp. Aku juga selalu menyimak dan membeli buku-bukunya. Katakanlah, aku belajar dari dia.

Satu hal yang sangat aku highlight dari buku yang ditulisnya adalah kesannya pada ibunya. Betapa belum pernah sekalipun ibunya marah. Pertanyaanku, kok bisa?

Masa ada ibu yang ga pernah marahin anaknya?

Aku maulah begitu juga ke anakku nanti.


Kira-kira begitu yang ada dalam benakku kala itu. Hingga akhirnya aku punya anak, beragam tantangan muncul. Tak mudah mengadopsi cara seseorang berinteraksi, bahkan mendidik anak-anak mereka. Ada banyak sekali faktor yang akan membuat kita berbeda.

Sebut saja latar belakang secara umumnya. Kemudian ada banyak lagi perintilannya. Mulai dari cara didik orang tua pada kita yang juga memengaruhi cara kita pada anak. Sederhananya dalam bahasa ilmiah: inner child.

Dan aku terkukung di dalamnya juga.

Sosok Bu Retno dan ibundanya yang ideal dalam mendidik juga menanamkan nilai moral itu tak bisa serta merta kuduplikasi. Sussyaaah cyint ternyata. LOL


Lalu, bagaimana cara menanamkan sopan santun pada anak usia dini?

Jawabannya: tergantung.


Tergantung pada siatuasi dan kondisi masing-masing keluarga. Tapi, satu hal yang bisa menjadi kunci adalah petuah tentang jadilah anak-anak saat membersamai anak-anak.

Petuah itu yang kupegang dan alhamdulillah sedikit memudahkanku dalam menyisipkan sedikit pelajaran tentang sopan santun.

Seringnya dengan bermain peran. 
Faraz suka sekali jika diceritakan dengan beragam tokoh hewan. Setelah aku bercerita, maka kemudian dia akan menjadi tokoh tersebut.

Alaaamaaak, sungguh sederhana sekali sebenarnya pola pikir anak-anak itu. Memang kita orang dewasa saja yang terlalu memperumit keadaan.

Ketika aku berkisah tentang keluarga beruang, maka setelahnya ia berpura-pura menjadi baby bear. Sooo cute.

Kemudian, seharian dia bisa menjadi baby bear. Dia akan menyebut dirinya sendiri sebagai baby bear, dan memanggilku dengan panggilan mommy bear.

Atau kadang seenaknya saja dia menyampur bahasa. Nanti dia sebut dirinya anak bear dan aku mama bear. Hahahaha...

Ketika kita masuk dalam dunia 'bear' yang dia harapkan itu, maka pelan-pelan bisa disisipkan pesan moral tentang sopan santun.

Biasanya aku akan membujuknya ketika ia memberikan barang dengan cara melempar seenaknya. Aku akan berakting sebagai mama bear sesuai panggilan yang diberikannya tadi.

Dan berkata: "Duh, mama bear lupa bilang ya? Anak bear harusnya kalo mau kasih barang itu sambil disamperin ke sini. Letakkan pelan-pelan ya..."

Lalu, dia akan sumringah dan mengikuti inatruksiku. Sambil tertawa bilang: "Oh, anak bear lupa. Ini mama bear (sambil memungut kembali barang yang dilemparnya dan memberikan padaku)."


Sesederhana itu.

Aku banyak belajar saat membersamainya ini. PR besar kita masih banyak. Tak hanya soalan sopan santun, tapi banyaaaak lagi.

Semangat ya, buibu dan pakbapak.
Selamat mencoba!


Ps. Soal marah-marah, jujur aku belum bisa tanpa marah sama sekali seperti ibuknya bu retno itu. Sering auto nada tinggi saat melarang juga masih. Tapi, aku berusaha untuk mengontrol dan belajar lagi. Bismillah yaa...
COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES