Aliran Rasa: Setiap Anak adalah Bintang



You are my sunshine
My only sunshine
You make me happy
When skies are gray
You'll never know, dear
How much I love you
Please don't take my sunshine away

Penggalan lirik lagu di atas berasal dari salah satu lagu kesukaanku. Bahkan aku menjadikannya sebagai nada dering di HP. Konon katanya, setelah menjadi orang tua kita akan menjadi lebih perasa. Segala sesuatu tentang anak akan jadi topik utama. Dan aku akui memang begitu adanya.

Ketika akhirnya berkeluarga kemudian diamanahi seorang putra, orientasiku pada hidup hampir separuhnya berubah. Apa-apa keluarga yang didahulukan. Termasuk akhirnya aku giat mencari tahu komunitas yang bisa membuatku makin berdaya dalam hal berkeluarga ini.

Alhamdulillah, bertemu dengan IIP. Ceritanya sudah pernah aku tuliskan di sini.

Baca:

Siap Belajar di Institut Ibu Profesional (Harapanku)



Ada banyak sekali ilmu, pengalaman, serta keluarga baru yang aku dapatkan. Sejak dari kelas Matrikulasi hingga kelas Bunda Sayang ini. Berkenalana dengan beragam orang secara virtual saja, kemudian ada kesempatan berjumpa dengan yang satu wilayah, masyaallah senangnya rasa hati. Dari sini aku pun mendapatkan bintang-bintang yang indah.

Yang berbeda dari kelas Bunda Sayang dibandingkan kelas Matrikulasi adalah jam praktek yang lebih banyak. Kusebut saja hari menjalani tantangan. Waktu untuk membahas teorinya singkat. Selebihnya adalah 17 hari beraksi.

Awalnya tentu ada rasa kaget. Tapi jelas jiwa menggelora meras tertantang. Ingin memberikan yang terbaik yang bisa. Yang paling kusuka adalah saat game tentang komunikasi produktif. Energiku besar sekali untuk praktek dan menuliskan cerita selama tantangan itu berlangsung.

Baca:

Faraz Berenang: Melatih Kemandirian #Day1



Niat hati ingin meninggalkan jejak tulisan sembari melaksakan tantangan keren-keren itu. Sayang beribu sayang, terkait beberapa hal jadi tak memungkinkan. Waktu dan hal lainnya membuatku megap-megap persis ikan mas kekurangan oksigen. Istilah sini sih: keteteran.

 Pada game berikutnya, aku berubah media. KAhirnya memanfaatkan akun media sosial Instagram @celotehmamak sebagai tempat bercerita. Pertimbangannya adalah caption tak perlu sepanjang artikel blog. Entah mengapa, kalau di blog rasanya kurang enak kalau tulisan sedikit. Jadinya, aku agak tertekan. Lebih tepatnya tertekan karena sifat sedikit perfeksionisku, tapi tak didukung dengan kedisiplinanku. Tentang pengaturan waktu masih menjadi PR serius untukku.

Kemudian, pergantian semester. Memasuki semester kedua dengan pergantian fasilitator, juga permulaan game baru. Antara siap dan tak siap sebenarnya. Tapi aku tekadkan untuk bisa menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Allah  maha baik kan? Niat saja sudah dihitung pahala loooh...


Jeng... Jeng... Jeng...
Game level 7 dimulai!!! 

Judulnya adalah setiap anak adalah bintang. Setelah membaca materi yang diberikan oleh fasilitator, aku bersemangat. Karena materi ini bagus sekali. Saatnya aku kembali mengobservasi putraku. Tujuannya adalah untuk Meninggikan Gunung BUKAN Meratakan Lembah.

Aku suka sekali dengan istilah itu. Kemudian aku bersiap dengan catatan kecilku, juga kamera HP yang senantiasa siap untuk mengabadikan momen. Memang aku selalu membuat footage tentang anakku. Untuk kenangan saja awalnya. Tapi, semakin hari aku sadar bahwa ini bisa jadi portofolio lembar pengamatanku tentangnya.

Sehari, aku kumpulkan tugas. Senang sekali akhirnya berhasil mengumpulkan tanpa terlambat pada hari pertama. Walaupun sebenarnya aku deg-degan. Berkaca dari level- level yang lalu, aku patah semangat jika gagal kirim. Karena artinya potensi dapat badge yang kuinginkan akan sirna. Dan jujur aku belum pernah dapat selain badge dasar. Sedih rasanya.

Ternyata yang kutakutkan kejadian. Hari kedua aku gagal kirim link setoran. Aiiiih.... kesalnya bukan main. Yasudahlah. Aku tetap mengirimkannya walaupun terlambat. Lalu akhirnya aku absen mengirim link setoran. Tapi, aku sudah mengunggah pekerjaanku di media sosial sebenarnya. Akan aku kumpulkan untuk disetor serempak saja, begitu pikirku.

Malam terakhir setor, aku gagal. Hanya 3 dari 17 hari unggahan catatan aktivitas faraz disetorkan. Sisanya, absen. Hari itu Faraz demam tinggi. Bintangku melemah. Tak ada yang lain kupikirkan kecuali dia. No HP. Hanya termometer yang kudekatkan demi memantau kondisinya.

Mulanya suhu tubuh Faraz berada di 38,6 celcius. Hari itu masih siang. Aku masih berusaha tenang. Sambil mengompresnya, memberi paracetamol, membaluri tubuhnya dengan parutan bawang merah bercampur minyak telon sudah kulakukan.

Pukul 10 malam, panasnya mencapai 39 derajat. Aku mulai panik. Ingin langsung memboyongnya ke IGD saja rasanya. Untunglah, hari itu suami sedang off kerja. Ada teman membersamai. Aku sedih dan panik. Semalaman kami tak tidur. Faraz merasa tidak nyaman dan menangis terus. Mungkin kepalanya pusing. Tak laam, ia muntah banyak sekali. Kuukur suhunya 39.8 derajat. Hari sudah pagi kembali.

Itu hari Minggu. Masa setor sudah berlalu tengah malam tadi. Biasanya aku meminta tolong pada teman sekelas untuk menyetorkan. Sekelas kami biasa saling membantu begitu. Saling mengingatkan dan membantu setor link bila teman kesulitan karenasatu dan lain hal. Tapi aku sudah tak sempat lagi menghubungi salah satunya. Fokusku hanya pada bintang hatiku yang tengah sakit itu.

Aku sedih karena gagal pada level ini. Tapi lebih sedih mendapati anakku kesakitan begitu.
Aku menyesal karena tak berhasil menjadi lebih baik dari aku di level sebelumnya. Singkatnya, mungkin aku  masih jalan di tempat. Tapi, aku sayang teman sekelasku. Mereka terus menyemangatiku yang serba kurang tapi berani-beraninya menunjuk diri sebagai ketua mereka.

Level ini, aku malu pada diriku sendiri. Aku merasa kecewa dan menyesal, tapi aku tau itu konsekuensi tersendiri.


Terlepas dari semua itu, aku bangga pada bintangku. Untuk 17 hari mengamati, aku senang dengan setiap perkembangannya. Semua adalah hal yang bersinar bagiku. Mari kita lihat terus apa lagi yang mungkin bisa kita optimalkan.



 

Aliran Rasa: Setiap Anak adalah Bintang
  1. Iya ya mbak kalau udah jadi seorang ibu mungkin orientasi hidup kita bakal berubah rasanya tuh semua tentang anak contohnya. Pengen belajar terus, apapun itu yang berhubungan dengan anak kita.

    Tetap semangat mba, meskipun gagal di level yang mbak maksud tapi ya setidaknya sudah berusaha kok. hihihi

    ReplyDelete
  2. Kalo anak sakit emang kitanya sedih dan remuk redam. "Laporan-laopran" tumbuh kembang anak di sosial media tak penting lagi. Tetep semangat :))

    ReplyDelete
  3. Perjuangan seorang ibu untuk anaknya memang sangat keren. Semoga nanti aku juga bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku nanti :).

    ReplyDelete
  4. kesehatan anak memang menjadi nomor satu ya kak, untuk pengalaman gagal akan selalu bisa terkejar, yang penting dan utama sang bintang pulih dahulu. ayo semangat kembali!

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap, anak adalah yg utama. saya rasa ketimbang kita pegang gadget, lebih baik banyak peluk sang buah hati. apalagi dia lg sakit. saya cm pegang gadget saat anak tidur atau nonton video

      Delete
  5. Begini ya kekhawatiran ibu terhadap anaknya. Aku masih belum bisa relate sekarang, tapi jadi keingat mama

    ReplyDelete
  6. Kecewa itu manusiawi. Hanya saya kecewa berlarut-larut itu gak baik juga untuk pengembangan selanjutnya. Tetap fokus atas apa yang ingin dicapai. Sesekali keplincek biasa itu. Yang penting bisa menyeimbangkan langkah lagi. Semoga Faraz sehat terus ya mamak.. dan semoga kelas selanjutnya bisa lebih all out!!

    ReplyDelete
  7. Kalau anak sakit memang pikiran gak bisa lepas dari si anak ya Mbak, gak bisa seperti biasanya mamak bisa multi tasking ngapain aja bahkan di saat yg bersamaan.

    Sehat selalu ya Faraz. *anak kita namanya sama lho Bun. Heheheh.

    Udah lama jg pengen ikut IIP ini tapi blm berjodoh. Moga tahun ini jika ada buka pendaftaran lagi bisa ikutan gabung dan terpilih.

    ReplyDelete
  8. Lagunya lagu favorit aku juga. Saya masih mahasiswa usia 21, tapi udah mulai kepikiran untuk merencanakan hidup selanjutnya. Mudah2an di usia 28 bisa punya anak 1, hehe. Kayanya punya anak itu bagi saya, salah satu tujuan hidup, hihi, peace :)

    ReplyDelete
  9. Wah Mba gabung di kelas IIP bukan ya? Beberapa teman maya yang juga rasanya bergabung di sana juga membahas soal ini. Dan saya setuju, setiap anak itu bintang, punya sinarnya sendiri. Sebenarnya saya juga berimpian untuk bergabung dalam kelas di IIP, hanya saja, saya sudah ciyut duluan karena kesibukan saya terlalu segambreng binti bikin keteteran.

    ReplyDelete
  10. Bener kak..kalau anak demam..hawanya panik super duper..tugas blogger atau tugas lainnya dikesampingkan dahulu... dulu sempat punya pengalaman serupa

    ReplyDelete
  11. Mbak, nanti klo ada iip lg tlg kabari saya ya. Udah lama sy kepengen daftar iip. Aku jg sama kyk mbak, kesusahan menhatur waktu,.keteteran sana sinj

    ReplyDelete
  12. Wah ternyata memang kompleks ya.. dan harus teliti jugaa

    ReplyDelete
  13. Tetap semangat dan percaya diri..

    ReplyDelete
  14. Tetap semangat mbak. Semoga anaknya selalu sehat dan mamaknya diberikan kekuatan yang enerjik untuk tumbuh kembang anaknya. Gak sabar baca cerita berikutnya. Ehe

    ReplyDelete