Rabu, Maret 27, 2019

Tantangan Berwirausaha Kuliner


Wisata kuliner memang sedang hype saat ini. Urusan perut memang ga ada habisnya. Kadang bukan hanya dilatarbelakangi naluri lapar, tapi kuliner juga sudah menjadi sebuah gaya hidup. Tak heran banyak usaha pada bidang kuliner yang makin berkembang. Menjamurnya wirausahawan bidang kuliner ini tentu memberikan tantangan tersendiri.

Tantangan berwirasusaha kuliner bisa berasal dari dalam diri sendiri dan juga dari faktor luar. Sebelum kita bahas beberapa tantangan dalam wirausaha kuliner, aku mau sharing pengalaman pribadiku.


Bakat Dagangku


Sejak kecil aku sudah akrab dengan perniagaan. Waktu masih SD, aku membawa es lilin buatan ibuku ke sekolah. Ramai teman-teman yang beli daganganku saat itu. Walau tak jarang, di hari-hari tertentu pernah juga tak laku.

Naik kelas, ganti pula musim dagangan kala itu. Aku tak lagi menjajakan es lilin. Selain tempat es-nya berat dibawa, saat itu anak-anak sedang gemar ngemil di dalam kelas.

Apa yang kujual?
Kacang goreng bikinan ibuku juga. Malam-malam aku dan adikku membantu ibu mengemasi kacang yang sudah dingin dari penggorengan. Dimasukkan ke dalam plastik panjang, kemudian direkatkan dengan bantuan panas api lilin.

Kadang terlalu panas hingga plastik itu meleleh dan membuat kulit nyeri. Tapi, membayangkan esok semua plastik berisi kacang itu akan bertransformasi menjadi rupiah, kami tak peduli pada nyeri.

Itu kisahku berdagang semasa SD yang masih kuingat. Entah apalagi yang pernah kujajakan. Es dan kacang gorenglah yang masih terbayang.

Saat duduk di bangku kuliah pun aku masih melakoni perdagangan. Kebetulan teman sekamarku gemar membuat kerajinan tangan.



Kalian tahu boneka karakter dari kain flanel? Tahun 2011-an rasanya boneka itu hits. Banyak peminatnya tapi masih dikit suppliernya. Yuk Septi membuat sendiri boneka-bonekanya berdasarkan pesanan khusus pelanggan.

Ada yang pesan boneka polisi dan ibu bhayangkari-nya. Ada juga pesanan karakter tentara dan ibu persitnya. Karakter dokter, pemain bola, dan banyak lagi pesanan datang. Hampir kerepotan kami memenuhi permintaan.

Kali ini aku ikut membantu Yuk Septi tak hanya sebagai marketer-nya, tapi ikut pula menjahit bagian-bagian boneka flanel itu. Bisa kubilang, Yuk Septi ini pengusaha yang telaten. Hingga akhirnya di tahun akhir kuliahku, aku tak lagi mengurus boneka-boneka Yuk Septi.

Yuk Septi membeli banyak aksesoris. Baik berupa gelang, kalung, ikat pinggang, dan banyak lagi. Aku diperbolehkan menjual dengan hargaku sendiri. Ya, aku jadi reseller-nya. Daganganku laku keras di kampus.

Sampai hari ini Yuk Septi masih berjualan hasil karyanya. Membuat banyak aksesoris cantik, dompet, dll. Di sini nampak bahwa beliau selalu melakukan pembaruan. Dalam usaha kuliner pun hendaknya demikian.

Berdagang mungkin sudah melekat dalam diriku. Bisa dibilang bahwa aku ada bakat menjajakan barang. Hanya saja aku kurang pandai mengatur perputaran uangnya. Setelah kuhitung dan kusisihkan uang modal, ternyata ada selisih dibelakangnya.

Alhasil, aku kelabakan. Uangku habis saja.

***

Belajar dari pengalaman itu, ada beberapa hal yang bisa kubagikan tentang berwirausaha.

Apapun jenis dagangan kita, mau itu makanan, aksesoris, ataupun mainan, berdagang adalah sebuah karya seni.

Bagiku berwirasusaha adalah sebuah seni yang dipadukan dengan keberanian dan tekad yang kuat. 


Mengatasi Tantangan Berwirausaha 


Melihat peluang usaha yang menjanjikan saat ini, yaitu wirausaha kuliner, kita bisa mengembangkan sayap ke sana. Perhatikan beberapa hal berikut terkait membuka usaha:

  1. Riset. Penting sekali untuk melakukan riset sebelum memulai usaha kuliner. Kita harus jeli melihat jenis makanan atau minuman apa yang cocok dan menarik oleh orang sekitar. 
  2. Berani. Setelah menentukan isi menu untuk usaha kuliner kita, saatnya mengambil keputusan untuk berani mencoba. Mungkin diawal akan butuh waktu untuk menyesuaikan ritme dagang. Bisa jadi laku atau tidak laku. Berani mengambil resiko ini adalah awal mula keberhasilan. 
  3. Inovasi. Ketika percobaan awal menarik perhatian pembeli kemudian laku keras, kita bisa mempertahankannya dalam menu sebagai sajian khas/utama. Tapi, inovasi atau pembaruan tetap perlu. Kita tak mau pelanggan lari karena bosan toh? 
  4. Fleksibel. Pada era industri 4.0 ini pelayanan dalam berdagang pun sudah apik dan canggih. Layanan pesan-antar bahkan bayar online sudah tersedia. Saatnya mendaftarkan konter usaha kuliner kita agar dapat diakses secara fleksibel oleh calon pembeli. 
  5. Kemudahan transaksi. Ini adalah sebuah fasilitas yang tak hanya memenangkan pelanggan semata. Sebagai pemilik usaha kuliner pun akan sangat terbantu jika setiap transaksinya teratur dan mudah diakses pembeli. 

Poin nomor 5 itu sebenarnya sebuah jawaban atas masalahku yang lalu. Sudah baca cerita bakat dagangku tadi? Dagangan laris manis tapi uangku habis. Hahaha...

Konyol tapi itulah kenyataannya. 

Kurang rapi dalam urusan catatan keuangan, ketidakselarasan hitunganku sehingga uang modal malah bocor deh!

Jadi, memang penting untuk memfasilitasi diri dan juga pelanggan dengan kemudahan bertransaksi. Baik dari urusan pesan-memesannya, juga termasuk urusan bayar-bayarannya. 

Misalnya, karena kelalaianku soal catat pemasukan dan hitung keuangan dagang, memang perlu pakai mesin kasir. Agar meminimalisir kerugian. 



Jaman industri 4.0 ini ada jawaban untuk kebutuhan wirausahawan kuliner itu. Ga perlu mahal beli mesin kasir. Ada loh ni aplikasinya. Sebut aja SPOTS POS.



Coba dilihat-lihat dulu nih. Sudah menjawab tantangan berwirausaha kuliner kan ya? So, jangan ragu untuk memulai!

Artikel ini didukung oleh SPOTS

1 komentar:

  1. Wah, kecil2 udah bisa dagangan yah kak. Aku pas kuliah juga dagangan roti dari kos ke kos hehe seru yah kak.

    BalasHapus

Halo!
Terima kasih sudah membaca. Ayo tinggalkan jejaknya di kolom komentar yaaa...

COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES