Kamis, Maret 28, 2019

Komunikasi Produktif Game Level 1 #Day1



Whoaaah tak terasa sudah dimulai kelas Bunda Sayang (Bunsay) Batch 5 Kelas Sumatera 1 ini. Sebenarnya memang sudah dimulai sejak beberapa minggu yang lalu. Tapi, baru semacam pemanasan saja. Dimulai dengan perkenalan, lalu penunjukan pengurus kelas, pembagian kalender akademik untuk semester pertama, juga beberapa latihan Pra-Bunsay.


Eh? Tadi kamu bilang 'Penunjukan Perangkat Kelas' , Al? Ga salah tuh? Kan biasanya pemilihan.

Nah, inilah istimewanya kuliah di IIP (Institut Ibu Profesional). Kita semua dilatih untuk berani dan bertanggung jawab. Kalau ada 'lowongan' tugas, para mahasiswi IIP tuh berbondong-bondong menunjuk dirinya sendiri.

Bukan karena songong loh yaaaa...
Lebih karena ingin memanfaatkan kesempatan untuk belajar lebih banyak. Jadi, yang menunjuk dirinya sendiri ga mesti udah ahli atau apa. Justeru, nanti akan ada kelas trainingnya. Semua dari nol. Kita dilatih dan dibimbing agar bisa menjalankan peran yang sudah dipilih sendiri tadi.

Konsep ini aja udah bikin aku cinta sama IIP sejak gabung kelas matrikulasi-nya tahun lalu. Ditambah lagi materi-materi dan kegiatannya yang daging semua.

Alhamdulillah aku beruntung bisa berkumpul dalam lingkungan ini.

Nah, hari ini aku akan berbagi tentang materi pertama kelas Bunsay kami. Yaitu tentang Komunikasi Produktif.

Penjabaran materinya bisa liat di sini nanti yaa...

Sekarang adalah hari pertama tantangan 10 hari. Jadi, menurut kalender akademik, akan ada 10 hari pertama, 10 hari kedua, ketiga, dan seterusnya yang kemudian disebut level.

Postingan kali ini adalah entri untuk Game Tantangan 10 Hari Level 1 (Day 1).

Tugasnya adalah sebagai berikut:



Singkatnya adalah kami akan mempraktekan materi tentang komunikasi produktif. Ada beberapa poin yang sudah dijadikan acuan untuk itu.

Berkomunikasi produktif dibagi menjadi dua. Yaitu komunikasi dengan anak-anak dan komunikasi dengan orang dewasa.

Untuk tantangan di kelas ini, aku akan mempraktekannya pada anakku (Faraz, 15 bulan) dan suamiku (29 tahun).

Kalau boleh sedikit curhat, game ini tuh betul-betul sebuah tantangan bagiku pribadi. Betapa pola berkomunikasi kita sebagai orang dewasa ini sudah terbentuk dan menjadi perangai kan? Ibarat kata: udah dari sononya gini.

Padahal, hal tersebut ada sumbangan hasil dari tempaan hidup. Bisa saja dari faktor lingkungan, latar belakang komunikasi dalam keluarga, lingkaran pertemanan, hasil pendidikan, pengalaman hidup, bahkan bisa juga berasal dari daerah.

Pernah dengar orang bilang kalo Bahasa Palembang itu keras? Orangnya kasar?

Hello...
Itu karena kamu tak terbiasa di lingkungannya. Bagi kita ya itulah nada dan intonasi daerah, bukan sedang marah. Kira-kira begitulah ilustrasinya.

Nanti kita bahas soal ini lebih jauh pada postingan terpisah yaaaa...

Kembali ke tantangan hari ini. Berikut poin- poin penting untuk berkomunikasi positif dari materi kelas Bunsay IIP:


Hari ini, 28 Maret 2019 aku coba praktekan komunikasi produktif kepada anakku. Niatnya ingin praktek kepada kedua cintaku, Faraz dan Papahnya. Sayangnya belum bisa langsung praktek ke Paksu. Mungkin kita coba besok yaaaa...


Mengendalikan Emosi

Bagian ini nampaknya aku gagal. Karena aku masih suka teriak ke Faraz. Seperti tadi ketika dia gigit tanganku. Langsung teriak karena sakit. Tapi kasih ekspresi marah juga sampe dia takut kayanya (liat ekspresinya). Pas sadar, aku buru-buru pasang senyum. Baru deh dia ketawa trus mau gigit lagi. Jurus emak keluar akhirnya: Manggil papahnya. Hahahaa. .
Mission failed! X


Keep Information Short and Simple (KISS)

Bagian ini sebenarnya memang sudah kupraktekan dari awal. Jadi tidak terlalu susah. Respon Faraz juga bagus. Mungkin karena sudah tahu.

Tadi pagi, belum mandi masih pake piyama. Faraz keukeuh mau minta bukain pena. Kebetulan ada buku yang masih tergeletak di ruang keluarga. Dia pernah lihat bagaimana aku pakai buku dan pena. Akhirnya, aku bukakan penanya. Aku gambarkan sebuah ikan (jangan berharap gambar ikannya bagus ya...).

Faraz kasih makan ikan


"Tadaaa... Ini ada ikan buat teman Faraz. Coba kasih makan, Dek."

Kemudian dia arahkan pena ke ikannya  Hehhee. Mamam yang banyak ya, Ikan.


Intonasi Suara dan Nada yang Ramah

Selama berinteraksi menemani Faraz main, aku menerapkan kaidah Intonasi Suara dan Nada yang Ramah. Responnya memang bagus. Apa yang kusampaikan bisa dipahami dengan baik. Misalnya ketika ngemil siang, aku berikan semangka untuknya.

Pada momen ngemil itu pula aku cobakan KISS.


Keep Information Short and Simple 


Makan semangka dulu yaaa


Biasanya aku potongkan semangka dengan ukuran kotak kecil atau bulat dengan alat kerok es buah. Hari ini aku coba dengan potongan besar.

"Dek, pegangnya gini ya..." kataku sambil membimbing kedua tangannya.

Takjub juga ketika dia langsung mengikuti dan paham maksudku. Kemudian semangka tandas dilahapnya. Alhamdulillah.


***


Ternyata menyampaikan apa yang ada dalam benak kita tuh susah-susah gampang juga nih. Untungnya langsung praktek komprod (Komunikasi Produktif) ke anak bayi. Notabenenya kan doi masih suci, masih polos bak sebuah kertas. Jadi, kasoh input positif agar masuk ke sanubari.

Semoga nanti bisa jadi perangai baik yang melekat pada pribadinya. Juga padaku. Aaamiiin.

Ga sabar mau praktek hari berikutnya. Penasaran sama respon-respon lainnya. Apalagi kalo praktek ke orang dewasa yaa...

Wuih, gimana responnya? Aku sih ngebayangin awalnya pasti canggung. Karena perangaiku kan sudah terbaca sebagaimana dia melihatku selama ini.

(((dia)))

Mau praktekin komprod gini antara antusias, ragu, dan juga malu. Aiih, gimana mulainya besok ya?

Doakan aku, Teman-teman.



#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

2 komentar:

  1. Wow, info menarik. Tapi baru akan dipraktikkan ntah kapan ini aku hahaha.

    omnduut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke ponakan ucul kakak kan banyaak Hehhee

      Hapus

Halo!
Terima kasih sudah membaca. Ayo tinggalkan jejaknya di kolom komentar yaaa...

COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES