Sabtu, Maret 30, 2019

Cara Gampang Membuat Kolam Lele Sederhana



Rabu sore kemarin ayah kirim pesan WA.
Jum'at Nek Anang ke rumah Faraz yooo. Nak buatin Faraz kolam ikan lele samo Nek Buyut dan Cik Putri. Siapin lah tempatnyo.

Pesan singkat yang bikin aku senyam-senyum. Cepat saja ku-forward WA ayah itu ke Papahnya Faraz.

Hehehehe...

Kok sesenang itu aku sampe senyam-senyum sendirian? Simply karena aku suka main-main di pekarangan belakang rumah itu. Me time-ku itu misal Faraz main sama Papahnya ga rewel atau pas dia tidur, trus cuaca ga panas menyengat (syukur-syukur pas teduh), asyik deh aku merumput.

Setelah itu sibuk ubah susunan pot bunga yang bisa dihitung jari. Atau sibuk tanam jahe, kunyit, dan teman sebangsanya. Rasanya puas kalo lihat kebun kecilku itu bersih dan rapi.

Nah, ditawari ayah buatkan kolam ikan pula? Makin senanglah aku. Ada kesibukan baru: ngasih makan ikan! Yeayyy!!!

Trus jadi makin enak bebersih kebun belakang. Ada pemandangan baru. Hehehe.

Sebenarnya, sudah dari beberapa waktu lalu ayah berniat bikin kolam ikan di pekarangan rumah kecil kami ini. Katanya ga rugi pelihara ikan. Selain untuk hiburan, nanti bisa dipanen sendiri juga.

Aku saaaangat setuju dengan ide itu. Pernyataan ayah sudah sangat terbukti. Di rumahnya di Karang Endah sana ada dua buah kolam Ikan Gurame. Waktu acara nikahanku dulu, kita panen gurame yang besaaaaar sekali.

Puas rasanya bisa makan ikan peliharaan sendiri. Apalagi ukurannya bikin semua orang terperangah. Hihihi...

Sampai-sampai, di malam sebelum walimahanku, ada acara lomba kartu gaple. Pemenangnya ayah beri ikan Gurame besar. Diperkenankan tangkap sendiri. Semua senang, kamipun senang. Barakallah ayah dan ibu.

Setelah acara pernikahanku, ayah beli bibit ikan lagi. Untuk panen saat acara adik-adikku kelak katanya. Memang benar tak ada rugi dan bikin hati senang ketika kita punya peliharaan yang bermanfaat toh?

Di belakang rumah kami di Muara Enim ini ada sebuah tempat bekas bak air. Cocok untuk dijadikan penampungan bakal kolam ikan. Ini adalah bekas para pekerja perumahan sini dulu. Dipakai untuk menadah air dan aduk semen. Sayangnya, sudah bocor besar. Jadi, pengawas perumahan sini bilang bahwa akan dibuang saja. Bahkan meminta bantuan Papah Faraz untuk membakarnya waktu itu.

Karena sayang dan mungkin berguna untuk jadi kolam nanti (dalam benak kami), bekas bak air itupun kami minta. Jadilah ia teronggok di belakang rumah hingga saat ini. Kemudian ketika ayah WA akan datang dan buatkan kolam ikan, Papah Faraz cepat membersihkan bekas bak bocor tadi. Nanti akan diberi alas terpal saja. Begitu idenya.

Tak sabar aku menanti Hari Jum'at. Tak sabar mau lihat ayah buat kolam lele, juga tak sabar berjumpa ayah, nenek, dan adikku. Senangnya ada teman malam hari. Kebetulan dalam minggu ini Papah Faraz dinas malam. Hiks.

Pukul 10:30 pagi Waktu Indonesia Barat, ayah sampai ke rumah mungil kami. Ada nenekku (Nek Buyutnya Faraz), Adikku nomor dua (Putri), dan Ayah pastinya. Ya iyalah kan ayah yang nyetir mobil. Wk.

Saat sampai banyak sekali oleh-oleh Ayah. Selalu begitu. Apa saja hasil kebun yang ada dibawakannya jika ia ke rumah saudaranya, dan anaknya ini. Kali ini ayah bawa pisang, pucuk daun ubi (singkong), serai, bibit pisang, dan tanaman lalapan untuk ditanam. Sebagian disiapkan oleh ayah, dan sebagian lagi oleh nenekku. Dari merekalah mungkin aku dapat minat dalam berkebun ini.

Aku sudah masak dan beberes rumah. Sudah siap mau ikut dan lihat ayah membuat kolam ikan lele. Antara penasaran dan senang sekali rasanya hatiku. Kebetulan ayah juga membawa golok dan pengajah tanah (semacam alat untuk menggali). Papahnya Faraz yang memang niat potong rumput pun akhirnya kesampaian niatnya. Dibabat habis rumput dan semak tinggi yang menutupi pinggiran sungai di belakang rumah kami itu.

Aura segar karena luas mata memandang membuatku bergairah. Yihaaa!!! Aku suka berkebun!!!

Kulihat nenek pun sudah sibuk mengambil cengkuit (entah apa Bahasa Indonesia-nya). Ia membersihkan rumlut pendek dan mulai menanamkan bibit-bibit yang dibawanya.

Ini adalah kali pertama nenek datang ke rumah kami. Memang baru sebulan yang lalu kami pindah menempati rumah ini. Senang hati nenek ada lahan untuk dieksplor. Hehehe... Sehati ya kita, Nek.

Sebelum Jum'atan, Ayah dan suamiku mulai menyiapkan tempat untuk kolam ikan lele. Berhubung bak bekas penampungan air itu bocor, akhirnya tidak jadi dipakai. Percuma kalau mau dilapisi terpal kata ayah. Bak bekas itu bagus dan kuat, nanti kita tampal saja untuk tempat kolam jika ikan sudah besar. Untuk kolam bibit ikan lele sekarang kita buat saja menggunakan papan dan dilapisi terpal katanya.


Alat dan Bahan Membuat Kolam Lele


Alat dan bahan membuat kolam lele


Cara Membuat Kolam Lele Sederhana


Pertama, Ayah menyusun kayu sebagai kerangka kolam. Karena halaman belakang rumah kami belum ditimbun tanah, jadi tak perlu membuat galian. Dan untuk efisiensi, Ayah membuat kolam bersebelahan dengan dinding bak pembuangan. Tujuannya agar tak perlu bikin kerangka di satu sisi itu.

Cara mudah membuat kolam lele sederhana


Jika, teman-teman ingin membuat di tanah datar pun tak mengapa. Kata ayah tak harus digali kok. Asal kerangka kuat biar kolam tidak jebol. Kalau ingin aman, ya bikin galian tanah.



Kolam lele sederhana kami ini salah satu yang tidak menggunakan galian. Alasannya, karena dalam beberapa bulan lagi insyaallah akan kami timbun halaman belakang ini. Maka dari itu, ayah memastikan kerangka kayu untuk sandaran papan dan triplek sebagai dinding kolam ini betul-betul kokoh. 

***

Tahap kedua adalah memadatkan dasar kolam. Dasar kolam lele ini hanya menggunakan tanah. Agar makin kuat ketika dilapisi terpal nanti, tanah harus dipastikan padat yaaa...

Lalu, rencananya mau dibuatkan saluran pembuangan saat menguras kolam. Ayah menggunakan pipa pvc (paralon) bekas untuk saluran itu. Sudah diukur dan dipotong sesuai letak posisi, tapi kemudian urung. Kata ayah, nanti malah bocor. 

**

Selanjutnya, pembuatan kolam dihentikan. Sudah mendekati azan panggilan sholat Jum'at nih. Ayah dan Papah Faraz pun bebersih dan bersiap ke masjid. 

Selain halaman belakang dan pemandangan sungai, salah satu hal yang kusukai dari rumah kami adalah posisinya yang strategis. Dekat dengan pasar, pusat kota, dan juga masjid serta sekolah. Tak jauh berbeda dengan rumah kontrakan kami sebelumnya yang dekat masjid dan sekolah. Hanya saja ada nilai plus lain di sini, yaitu dekat dengan pasar dan fasilitas umum lainnya. Aku bisa bersepeda bahkan jalan kaki saja untuk pergi ke minimarket terdekat, ke puskesmas ajak Faraz imunisasi, juga ke perpustakaan. Alhamdulillah.

Selepas sholat Jum'at, kami makan bersama. Rasanya lebih nikmat karena makan bersama. Biasanya hanya berdua hahaha... 

Sore hari setelah istirahat, aku ikut ayah ke pasar membeli plastik hitam untuk alas kolam lele sederhana kami tadi. Harganya Rp20.000/meter dengan ukuran lebar 4 meter. Di Muara Enim sini harga barang memang sedikit lebih mahal. Ayah biasa beli 15 ribu saja per meternya. 

Ukuran kerangka kolam yang sudah dibuat ayah dibantu Papah Faraz tadi sekitar 1.35 x 1.25 meter. Jadi, kami akan membeli 2.5 meter plastik hitam untuk kolam itu. Sayangnya, ya g tersedia hanya 2.3 meter saja. Penjualnya memberi harga Rp45.000. Deal! Plastik kolam lele pun kami bawa pulang. 


Pekerjaan membuat kolam lele sederhana ini dilanjutkan keesokan harinya. Udara sangat sejuk dan matahari tidak terik. Pas sekali untuk berlama-lama di luar. Dengan semangat ayah melanjutkan pembuatan kolam lele sederhana yang katanya untuk Faraz, cucu imutnya itu. 

Aku tak kalah semangat ikut melihat dan tak lupa mendokumentasikannya. Usai sarapan dan masak, kami main lagi di halaman belakang. 

Langkah berikutnya setelah kerangka dinding kolam sudah kokoh dan tanah dasarnya sudah padat, saatnya melapisi kolam dengan terpal atau plastik hitam untuk kolam yang sudah kami beli kemarin. 


Caranya, lebarkan plastik dan susun dengan rali dan teliti hingga membentuk persegi sesuai kerangka dinding kolam. Jangan lupa bagian sudutnya dilebihkan untuk dilipat. 

Kemudian, gunakan paku kecil untuk menempelkan ujung-ujung plastik pada kerangka. Gunanya agar saat kolam diisi air, plastik tidak turun/jatuh. 

Pastikan setiap bagian merekat kuat yaa... 

Setelah yakin semua dasar dan dinding kolam tertutup plastik rapi, saatnya kita isi air. Cek apakah ada kebocoran atau tidak. 

Terakhir adalah masukkan ikan lelenya. 
Tadaaaa!!! 
Kolam lele sederhana sudah jadi!!! 



Ayah sudah membelikan 100 ekor anak lele untuk dilepas di kolam lele sederhana Faraz ini. Jauh sekali perjalanan para lele untuk sampai ke rumah Faraz  Hahaha... 

Terima kasih, Ayah! 
Terima kasih Nek Anangnya Faraz! 

Puas hati ayah akhirnya jadi bikin kolam lele untuk Faraz. Hehehe...

Kami pun senang sekali sudah ada kolam ikan di rumah sini. Semoga nanti lelenya sehat semua dan kita panen bikin pecel lele yaaa...


Barakallah...

Itulah cara gampang membuat kolam lele sederhana ala ayahku. Teman-teman bisa coba bikin di rumah juga yaaa...

Oya, selain model kerangka kayu begini, kita juga bisa pelihara ikan dengan ember bekas cat itu loooh... Bagian atas bisa diberi tanaman juga kata ayah.

Waaah, penasaran juga ga kaya aku? Nanti kita minta tolong ayah untuk ajarkan bagian itu juga ya. Nah, teman-teman minat bikin kolam juga ga nih? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halo!
Terima kasih sudah membaca. Ayo tinggalkan jejaknya di kolom komentar yaaa...

COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES