Sabtu, Maret 30, 2019

Begini atau Begitu? Gamel Level 1 Komunikasi Produktif #Day3


Yang jadi gambar untuk postingan ini adalah kutipan dari Canva. Aku merasa ini tuh pas banget dengan apa yang sedang aku perjuangkan: berjuang jadi lebih baik.

Karena sadar kemampuan fokusku yang tidak terlalu baik, aku targetkan minimal satu hal saja yang bisa meningkat levelnya jadi baik hari ke hari.

Sampai hari ini fokus utamaku adalah membersamai Faraz. Sembari berusaha juga melakoni peranku sebagai pelajar di IIP ini. Sebenarnya aku agak 'keteteran' dengan tugasnya. Tapi semangat untuk belajar selalu mengakar. Doakan aku bisa lulus dan berhasil menerapkan ilmu-ilmunya yaaa...

Baru hari ketiga untuk entri tantangan 10 hari di level 1 ini. Sebenarnya kondisiku ini mungkin lebih leluasa dibandingkan teman pembelajar lainnya. Baru punya 1 anak ditambah kesempatan membersamai yang cukup banyak. Tantangan ini harusnya bisa dilakukan dengan baik.

Teman-teman sekelas pun sangat memotivasi. Bisa sukses submit tugas pada waktunya bahkan ada pula yang mengaplikasikan ilmu ini kepada seluruh anggota keluarga di rumah.

Hari ini saat membersamai Faraz, kembali kupraktekan poin dari komunikasi produktif.

***

Ceritanya, pagi ini Faraz mau minum susu kemasan. Dengan semangat dia buka kulkas dan mmeilih sendiri susunya. Awalnya dia duduk di kursi untuk minum susu itu seperti biasanya.

Entah kenapa atau entah ada ide apa yang terbersit di kepalanya, ia beranjak menuju kamar main. Tentu saja sambil membawa susu tadi.

Aku tak curiga.

Pagi itu aku memang sambil cuci piring dan membersihkan dapur. Faraz minum susu dan kupikir akan berjalan lancar seperti hari-hari sebelumnya.

Ketika kulihat ia tak ada lagi di kursi serta hening tak ada kericuhan sedikit pun, aku pun melongok ke dalam kamarnya.

Kaget.

Dia tengah menumpahkan susunya dan asyik memainkan tangan di genangan coklat itu.

Aduh!

Kalau mengikuti refleksnya diri, aku sudah mai teriak: Faraaaaaaz!!! Karena panik dan juga kesal kamar jadi kotor mungkin.

Aku ingat diskusi materi kemarin. Saran Uni Lisa, ada baiknya tarik nafas dulu. Konon katanya begitu sukses membuat otak berpikir jernih  Jadi ga akan mengikuti kalut hati yang mau marah.

Oke.
Inhaleeeee....
Exhaleeee....

Aku dekati Faraz. Dia mematung  Mungkin mengira-ngira apa aku akan marah atau apa. Jurus komunikasi produktif pun aku lancarkan.

"Duh, kasihan adek. Susunya tumpah ya?" tanyaku.

Dia menangguk dengan tmapang lucu. Menurutku dia masih mencoba menebak reaksiku berikutnya.

"Ga apa-apa ya tumpah. Minum aja yang ada ini lagi. Kalo habis berarti selesai." sambungku.

Dia geleng-geleng pertanda sudah tak ingin minum susu itu. Sebenarnya masih ada sisa sedikit di dalam kotaknya. Tapi memang nampaknya dia hanya ingin bermain dengan susunya. Alias dia memang sengaja tumpahkan itu.

" Ayok, kita lap dulu basah ini. Mana lapnya? Bisa tolong ambilkan lapnya, Dek?" aku mengajaknya.

Faraz cepat menuju dapur dan membawakan lap yang kupinta. Kemudian dia langsung sibuk meletakan lap itu tepat di atas genangan susu yang ia tumpahkan. Lagaknya sedang membersihkan. Hahha lucunyaaa...

"Pinternya, Faraz dah bantu mama bersihkan susu tumpah. Makasih ya, Dek. Allah sayang anak yang bertanggung jawab." sekalian saja aku puji dia. Tak sisa-sia. Senyum manisnya merekah sempurna.

Siapa yang mau marah sama anak lucu ini??? Akupun langsung memeluk dna menciumi pipinya.

Masyaallah Tabarakallah.


Setelah kuulangi mengelap genangan susu tadi, kami berdua main dengan mobil-mobilannya. Aku bertanya dengan lembut pada bayi setahunku itu.

"Kok adek tumpahkan susunya? Dah kenyang ya?" tanyaku.

Dia jawab dengan babbling yang hanya dimengertinya. Cuma sebuah gelengan yanh membuatku menebak bahwa dia tidak setuju kubilang kenyang.

Akhirnya kuberikan sebuah pilihan.
Apakah ia mau menghabiskan susunya dan minum di kursi atau sisa susu tadi dibuang saja.

Faraz merespon dengan mengambil kursinya lalu duduk di atasnya. Artonya ia memilih untuk menghabiskan susunya tadi.

Sekarang dia tenang minum susu sambil duduk di kursinya. Mama pun tenang ga jadi marah-marah.

Oh, senangnyaaa dapat ilmu ini  Semoga sukses jadi kebiasaan hidup. Aaamiiin.

Kita bertumbuh dan belajar bersama ya, Nak. Terima kasih sudah membersamai mama.


#hari3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halo!
Terima kasih sudah membaca. Ayo tinggalkan jejaknya di kolom komentar yaaa...

COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES