Jumat, Maret 29, 2019

Aku Bisa! Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day2


Aku ingat kisah tentang saudaraku. Mereka yang laki-laki selalu disandingkan dengan kami, anak-anak ayah yang semuanya perempuan.

Entahlah.
Waktu itu kami masih kecil sehingga tidak terlalu paham maksud dan tujuannya. Hingga kami beranjak dewasa dan hingga aku merasakan sensasi jadi seorang ibu ini barulah kutahu apa yang terjadi.

Kesimpulanku adalah PEMBENARAN.

Mereka yang menyanding-nyandingkan dengan bumbu merendah itu hanya mencari pembenaran atas sebuah kesalahan (yang tadinya kecil) mereka sendiri. Sampai tak disadari kesalahan tersebut menggunung dan membentuk sebuah pribadi.

Miris sekaligus ngeri bagiku ketika menyadarinya. Aku tak mau hal serupa terjadi padaku, anak-anakku, dan keluargaku.

Penyandingan yang bagaimana?
Misal:
Dia ini laki-laki, wajar saja begini. Tentu berbeda dengan kalian perempuan. 

Kalo nakal artinya betul laki-laki. Yang penurut itu anak perempuan. 

Masakkan ini untuk adik laki-lakimu itu. Kan yang di dapur itu perempuan.


Jika sekali-dua kali disebutkan demi menenangkan gejolak hati pribadi mungkin tak masalah. Namun, ketika disebutkan terus-menerus. Ditambah lagi dengan dalih lainnya, dan diutarakan di depan si anak pula, ternyata menyumbang sifat pada pribadinya.

Belajar dari pengalaman itu, aku pun berhati-hati dan mulai belajar sedikit demi sedikit. Beruntung bertemu Institut Ibu Profesional ini.


Ini adalah entri hari kedua ntuk Game Level 1 Tantangan 10 hari. Temanya Komunikasi Produktif.

Saat bermain bersama Faraz, aku mencoba menerapkan poin-poin komunikasi produktif (komprod) pada anak. Ada 11 poin untuk mencapai komunikasi produktif pada anak. Hari kedua ini ada 2 poin yang kami terapkan bersama.


Baca sebelumnya: Komunikasi Produktif #Day1

Hari itu Faraz bangun tidur. Kami tak langsung mandi karena Faraz langsung semangat saat melihat kartu-kartu remi bertaburan di karpet.



Kebetulan gambar di belakang kartu itu adalah dua buah ikan koi yang lucu. Sontak Faraz semakin menggebu hendak meraihnya.

Setelah puas menyusun dan melipat-lipat kartu itu, Faraz melihat kotak tempat kartunya. Mungkin pernah liat aku atau Papahnya memasukkan kartu tersebut ke kotak dusnya.

Mulailah Faraz mencoba untuk mengembalikan kartu-kartu itu ke dalam kotak.

Kartu pertama masuk. Lanjut kartu kedua agak susah dan dia mulai nampak tak sabar. Akhirnya kartu kedua pun masuk dengan jejalan tangan setengah kesalnya.

Faraz makin tak sabar ketika kartu ketiga tak bisa dimasukkannya. Dia mulai menangis kesal. Pelan-pelan aku bujuk dia.

"Bisa kok, Nak. Coba lagi."

Raut mukanya nampak serius berusaha kembali. Yippi!!! Faraz berhasil. Dia nampak puas dan tertawa senang setelahnya.

Tanpa buat kesempatan aku selipkan poin komunikasi produktif untuk membuatnya percaya diri: memuji dengan detail.

" Waah, Faraz hebat bisa masukin kartu ke kotaknya." 


Saat sore hari Faraz enggan diajak mandi. Sudah keasyikan mandi dia. Padahal kalau sudah mulai mandi biasanya ga mau berhenti. Hahhahaa...

Akhirnya, aku coba jurus lainnya: Memberi pilihan alih-alih memerintahnya.

" Faraz mau nge-dot dulu apa mandi dulu?"

Aku tanyakan padanya sambil menatap langsung ke manik matanya.

Faraz merespon dengan memberi kode 5 jari. Artinya ia minta dot dulu. Cik Putrinya pernah mengajarkan dia bahwa takaran susunya adalah 5 sendok sambil memeragakan gerakan angka 5. Faraz sukses menirunya. Tiap kali kubilang akan buat dot, tangan lucunya langsung memberi kode 5. Hihihi...

Sore yang tenang ditutup dengan Faraz yang asyik menghabiskan susu dalam dotnya. Kemudian kami pun mandi sore.



#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

13 komentar:

  1. faraz belum mau digendong sama aku huhuhu

    BalasHapus
  2. Wah semanagat baby faraz ❤❤

    BalasHapus
  3. Selamat memasuki kelas bunda sayang mb Alma, semoga Lulus sampai akhir😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamin. Deg-degan aku mbak aslinya Hehehe makasih semangatnya 💪

      Hapus
  4. Berat ya Faraz, sedari dini udah belajar manajerial dan menjadi decision maker 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiks. Demi pribadi yg tangguh ya, Cik 💪

      Hapus
  5. Semangat kak alma! Berasa banget jadi ibu gak bisa berhenti belajar kitanya wkwkwkww

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mbak. Never ending learning baru dimulai malah Hehe

      Hapus
  6. waaahhh... ternyata benerrr ^^ masuk di prabumulih ya mbak alma? dulu ada mbak shitra disana...

    yang bagian terakhir sih kalo aku jadi faraz, aku mau dot, tp mandinya besok aja... #eehh ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak lya. Prabumulih 😉 tp tinggal di muara enim jd belom pernah kopdaran di regional huhuhu...

      Nah, ini bunda nih yeee dak mau mandiii hahaa

      Hapus
  7. Di sela-sela aktivitas menjadi bunda, msih sempet nulis nih. Salut deh sama mbaknya hehe

    BalasHapus

Halo!
Terima kasih sudah membaca. Ayo tinggalkan jejaknya di kolom komentar yaaa...

COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES