Sabtu, Januari 26, 2019

Serba- serbi Bikin Rumah

Wuih, judulnya bikin aku seolah seperti ahli gitu ya. Ha ha ha. Serba-serbi bikin rumah, dooong. Maafkan lah kalau yang datang membaca berharap tulisan ini selayaknya tulisan dari buku babonnya anak sipil. Jadi, biar ga kaget aku bikin disclaimer-nya dulu aja yaaa...

Disclaimer: tulisan ini bukanlah tulisan dari sudut pandang seorang ahli bidang bangunan. Melainkan hanya berbekal sudut pandang pengalaman awam yang ikut bikin rumah.


Alhamdulillah wa syukurilillah, modal nekat karena situasi dan kondisi akhirnya kami bisa bikin rumah. Lah kok modal nekat aja? Emang bisa?

Qadarullah, dimulai dari rumah kontrakan yang hendak dijual empunya rumah (masih sodara sendiri). Ingin hati beli aja rumahnya, tapi kantong ga mampu bayarnya. Nasib #sobatmisqueen LOL

Akhirnya, di bulan-bulan tahun lalu kami berputar-putar mencari calon rumah kontrakan baru. Belum ada yang klik di hati. Entah lokasinya, bentuknya, tapi kebanyakan sih karena harganya. Hahaha.

Melirik perumahan yang getol diiklankan sepanjang jalan. Cuma mampu meneguk ludah pada akhirnya. Simulasi pembayaran dan akadnya membuat kami takut. Takut DIA marah. Kalau selama ini bisa bahagia di petak kontrakan, makan secukupnya, namun penuh cinta dan kasihNYA. Dan karena keinginan dunia, punya rumah, lalu membuatNYA marah, tentu kami tak sanggup juga tak mau.

Hingga suatu hari, ada simulasi akad dan pembayaran rumah yang klik. Kita pergi survey. Tapi ternyata lagi-lagi cuma sanggup meneguk ludah. Mahal sekali.

Yah, kami maklum tentu developernya perlu modal awal yang tak sedikit juga. Ah, mungkin nanti jika DIA berkehendak ada saja jalannya. Kami abaikan keinginan hati memiliki rumah sendiri. Cukup mengo trak sajalah saat ini. Menabung dulu hingga cukup uang nanti.

Tapi, di suatu sore yang indah ada informasi tentang perumahan yang sistem bayar dan akadnya berterima dengan keinginan hati. Hanya saja masih tersandung biaya modal alias uang angsuran pertama untuk modal membangun rumahnya.

Sebut saja 50 juta. Addduuuuh...
Uang dari mana?

Perumahannya sederhana, tipe 36 saja. Luas tanah standar tapi cukup saja untuk suatu hari ada rejeki menambah ruang keluarga. Menggiurkan!

Tapi uang di tabungan hanya ada 10% nya saja. Berdiskusi dengan tuan tanah yang sekaligus adalah developer perumahan tersebut. Alhamdulillah sang bapak berbaik hati memberi keringanan.

"20 juta dulu. Langsung dibangunkan rumahnya. Sisanya silakan dicicil sembari rumah dibangun." begitu katanya.

Angin segar. Tapi uangnya mana?

Kata orang, rumah dan tanah itu jodoh-jodohan. Pas kita cari, belum ketemu yang cocok. Jadi, ketika ada yang cocok dan bisa diperjuangkan, jangan lepaskan! Waaah, berasa seperti cari jodoh beneran ya...

Pikir-pikir, hingga akhirnya mencoba melepas tabungan pribadi. Toh, baiknya pemberian pernikahan ini bermanfaat  Daripada hanya disimpan saja. Separuh mas kawin yang kuterima dari suamiku akhirnya kujual. Kuserahkan uangnya pada suamiku. Kita cukupkan untuk jadi modal. Nanti kalau ada rejeki bisa menabung beli lagi, kataku.

Setengah enggan ia menerima. Dengan beragam bujuk dari penjelasanku tentang bersyukurnya dapat tempat di lokasi bagis, dengan sistem bayar yang insyaallah berkah, kenapa tidak?

Akhirnya ia menerima dengan azzam ingin mengganti. Kubilang, aku ikhlas memberi.

Serba-serbi bikin rumah ternyata menguras emosi di hati. Permulaannya saja seperti drama. Ada suami yang murung karena merasa kasihan aku harus menjual mas kawin, ada aku yang terharu karena ketulusannya menafkahi dan memberikan tempat bernaung ya g diridhoiNYA untuk kami. Aaah,,, bikin mewek kalau diingat.

Belum lagi ternyata ada hambatan lain setelah kami mampu membayar jumlah minimal untuk akad dibangunkan rumah itu. Misalnya tentang lambatnya pembangunan, kurangnya bahan-bahan, sementara masa kontrakan kami hampir habis. Dag-dig-dug aku dibuatnya.

Sebenarnya kami maklum. Karena uang yang harusnya 50 juta, baru kami bayar 20 saja. Sisanya, tiap bulan kami cicil selama 5 bulan. Ternyata, pembangunannya memang bermodalkan uang itu. Kami belum bayar, bahan bangunan tak datang. Mungkin tak ada dana juga untuk membelinya. Tak apalah, namanya juga nyicil hahaha...

Serba-serbi bikin rumah ini juga sempat bikin kesal. Hampir lupa tentang rasa syukur kami saat mendapat info perumahan yang sesuai dihati soal bayar-bayarnya ini. Lantaran, pekerjaan tukang perumahan yang tidak memuaskan.

Untuk kami yang cukup sering survey perumahan, merasa bahwa pekerjaan tukang di sini agak tidak total. Bagian finishingnya ini misalnya, lantai keramik yang dipasang naik-turun tak rata. Sehingga air mudah tergenang di tengah rumah.

Parahnya adalah kamar mandi/WC yang terpaksa harus kami bongkar ulang. Lantainya tidak miring sehingga air menggenang. Pemasangan toiletnya salah total. Pheww!!! Melelahkan juga urusan rumah.

Oya, belum lagi cat rumah yang sangat asal-asalan. Baik dindingnya maupun plafonnya. Akhirnya semua diulang. Adalagi, bagian ujung lantai dan dinding tidak ada kuku keramik atau dinding keramiknya. Alhasil, kakak sepupuku berbaik hati membantu memasangkan.

Belum lagi lamanya proses pemasangan PDAM dan listrik waktu itu. Alih-alih pindah rumah karena masa kontrakan habis, malahan kami lumayan harus 'nombok' dan pinjam uang ke teman dan saudara untuk menutupinya.

Waaah, serba-serbi bikin rumah yang super sekali.

Di sisi lain, aku, emak yang taunya harga bahan dapur ini akhirnya paham harga bahan bangunan. Sedikit-banyak ada perubahan perilaku juga. Walaupun rasanya kusudah jauh lebih hemat dibanding masa lajang dulu, semenjak tau serba-serbi bikin rumah akhirnya jadi lebih hemat lagi.

Kalau tadinya berfikir bisa beli jilbab baru, saat ini lebih prioritas beli semen aja. Harganya lebih murah semen booook.


Rabu, Januari 09, 2019

Cara Mengembalikan Komentar Blog yang Terhapus


Cara Mengembalikan Komentar Blog yang Terhapus - Kenapa tiba-tiba aku mau nulis postingan berbau tips ini? Apakah aku adalah expert? No. Aku bukan expert yaaa...

So, mari kita disclaimer dulu ^^
Ini adalah sharing yang dilatarbelakangi pengalamanku. Aku bukanlah ahli tapi senang berbagi. Love and Share!

---

Kisah dibalik Musibah

Kejadian ini bisa dibilang adalah musibah. Adalah kejadian yang akhirnya membuatku belajar untuk lebih teliti dan tidak terburu-buru.

Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian toh? Nah, musibah terhapusnya 100 komentar di blog-ku bulan lalu sukses bikin aku panik plus sedih seharian. Pengennya nangis tapi kerjaan rumah dan baby menunggu. Ya kali mamaknya sibuk nangisin komen. Huhuhuhu...

Kalau kalian adalah blogger, kalian akan tau betapa berharganya sebuah komen. Apapun isinya. Jadi, ga ada penulis blog yang sengaja ngehapus komen di tulisannya apalagi sampai ratusan. Kecuali, komentar spam penjual obat. Udah masuk filter otomatis tuh.

Khusus buat blog ini, aku mengaktifkan fitur moderasi. Itu adalah fitur yang memungkinkan admin blog untuk menyaring komentar yang berpotensi spam.

Tujuannya apa? Tujuannya biar komentar spam itu ga bikin nilai blog jelek. Yang masuk komentar spam versi saringanku sih biasanya (1)mengandung link url, (2)berisi hate speech atau pornografi, (3)iklan judi. Kurang lebih komentar seperti itu yang biasa kusaring.

Fitur moderasi ini memungkinkan kerja admin jadi lebih gampang dan teratur.

Tapiiiiii, salah dan khilaf memang tempatnya manusia, termasuk diriku. Hari itu aku kejar-kejaran dengan deadline lomba yang kuikuti. My bad. Salahku memang karena seringkali kerja di penghujung.

Padahal, untuk lomba itu aku sudah menyiapkan materi sejak jauh hari. Ah, inilah caraNYA mengajariku untuk jadi lebih baik.

Diantara keterburu-buruan, sinyal yang kurang stabil, dan dimensi tampilan layar yang bikin siwer, akupun salah pencet. Niat hati menerbitkan semua komentar di folder moderasi, yang terjadi adalah klik hapus bahkan di folder published.

Urutan kejadiannya begini, aku:

  • Klik tab moderasi dan select all. Otomatis semua komentar diceklis. 
  • Alih-alih klik publish, aku salah klik. Malah terpencet delete.
  • Dan bayangkan??? Ternyata, kombinasi antara jaringan yang tidak stabil malam itu, juga karena aku terburu-buru, ternyata tab moderasi belum terbuka di tahap pertama itu. Masih tab published comments alias komentar yang sudah diterbitkan.
  • Akhirnya bencana itu terjadi. 100 buah komentar baik dari pengunjung maupun balasanku pribadi terhapus permanen.
  • Selanjutnya aku panik dan batal ikut posting lomba. Huhuhuhu

Kenapa 100 komentar yang terhapus? Karena di pengaturan tab itu aku terbiasa mengatur 100 tampilan per halaman. Maka, hari itu aku sedih, panik, kesal, dan bingung.


Mengembalikan Komentar Blog Terhapus


Tak lain tak bukan, frasa inilah yang kuketik di pencarian google: Cara Mengembalikan Komentar Blog yang Terhapus. Ada banyak sekali hasil pencarian yang muncul. Paling atas adalah tentang mengembalikan blog yang terhapus. Tentu bukan informasi yang kucari. Agak bawah masih di halaman pertama, ada sebuah artikel yang cukup membantu dan sesuai dengan info yang kuharapkan.

Bahkan cerita di blog itu pun seperti kejadian yang kualami: tak sengaja terhapus komentar blog yang sudah diterbitkan

Dalam kesempatan ini, aku coba sarikan kembali tahapan cara mengembalikan komentar blog yang sudah tak sengaja terhapus tadi (dengan catatan fitur moderasi aktif dan ini blogspot yaaa):

  1. Log in/ masuk ke email yang didaftarkan fitur moderasi komentar
  2. Cari email pemberitahuan komentar masuk (punyaku masuk di folder sosial)
  3. Copy isi komentar berikut url penulisnya
  4. Pastekan ke kolom komentar sesuai artikel blog yang dikomentari
  5. Lalu klik publish/ terbitkan
  6. Selesai. 

Bagaimana? Nampak mudah untuk mengembalikan komentar blog yang sudah terhapus kan???? Sambil bertanya pada google yang kemudian menuntunku ke artikel itu, aku sudah wara-wiri bertanya ke beberapa support WAG yang kuikuti. Hasilnya belum ada. Itulah sebabnya aku coba tuliskan kembali inti sari dari solusi yang kubaca di artikel tadi. 


Masalah lainnya


Eits, cerita hidup terjadi dengan berjuta pelajaran dan hikmah. Dari sanalah kita belajar dan menjadi semakin dewasa. Termasuk ketika ternyata solusi yang diberikan oleh teman penulis tadi ternyata tidak bisa dilakukan.

Apa sebabnya? Bukankah kondisiku sudah sesuai pra syarat? Yakni blogspot dan sudah mengaktifkan fitur moderasi. Artinya, komentar yang sudah diterbitkan ada pemberitahuan di email-ku.

Sebelum akhirnya aku coba tahapan pengembalian komentar blog yang terhapus tadi, aku sudah lemas duluan. Membayangkan 100 buah komentar yang akan kupulihkan dengan cara manual copy-paste begitu.

Setelah membatalkan keikutsertaan lomba blog yang membuatku khilaf menghapus 100 komentar itu, aku sibuk menenangkan diri. Barulah beberapa minggu setelahnya, solusi itu kuujicobakan.

Hasilnya??? Gagal.

Karena email notifikasiku masuknya di folder sosial dan entah aku lupa atau gimana pengaturannya kubuat, hanya ada 20 email saja. Selebihnya sudah tak ada. Niat yang sudah dibulatkan untuk kuat menyalin isi komen plus url-nya seperti tutorial yang kubaca itu akhirnya runtuh.

Well, daripada pusing kubiarkan saja seperti apa adanya itu.

Jangan heran di beberapa postingan terakhir dalam blog ini komentarnya kosong: tertulis dihapus admin bahkan komentar balasan dariku sendiri. Huhuuhu...

Nah, kalo kamu komen nyinyir bahwa aku sengaja ngapus komen, artinya kamu ga tau kalo komentar itu hal penting buat tulisan blogger. So, mana mungkin sengaja ngapus. Apalagi kalo udah pake fitur moderasi toh? Masa komen yang udah 'dilulusin' publish malah dihapus? Mending dari awal ga dilulusin aja kan?

Jadi, baiknya berpsitif thinking aja ya mbak.

Cheers! 
COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES