Jumat, Maret 01, 2019

Honor 10 Lite Manjakan Mata Kita



Siapa yang suka hati Hp baru??? Saya!!!
Siapa yang suka hati Hp bagus??? Saya!!!
Siapa yang suka hati punya Hp Honor 10 Lite Baru nan bagus--- Siapa yang suka hati bilang aja... Saya!!!

Yes, siapa yang ga suka hati kalo punya Hp Honor 10 Lite yang bisa manjain mata coba??? Saya ya maulah!

Jadi, paragraf pertama di atas itu adalah sebuah lagu yang tercipta dari hati riang yang berharap punya Honor 10 Lite. Bukan udah punya loh yaaa... Masih ngarep nih! Hehehee...

Eh, udah kenal dong ya sama brand Honor ini? Nah, tanggal 26 Februari kemarin, Honor tuh resmi mengeluarkan seri terbaru untuk telepon pintar alias smartphone-nya. Yaitu Honor 10 Lite dan Honor 8A di Jakarta.



Well, aku juga udah woro-woro kemarin itu di IG. Aku ngajakin teman semua untuk ga ketinggalan nonton acara peluncuran Honor 10 Lite ini secara streaming di Facebook-nya Honor. Ga ketinggalan kan???

Walaupun terpisah jarak ke Pulau Jawa sana, aku tetap bisa ikutan 'hadir' saat launching Hp keren itu. Dan acaranya sukses bikin aku kesemsem alias terpikat sama Honor 10 Lite-nya.

Kenapa?

Karena doi punya fitur-fitur terbaru yang beda dari keluaran sebelumnya. Baik dari segi kemampuan kamera, resolusi layar, ukuran dan ketebalan, kapasitas batre. Aaaah,,, kerenlah pokoknya.

Jadi, kameranya Honor 10 Lite ini tuh sangat-sangat mendukung hobiku yang suka selfie bin wefie. Ha-ha-ha

Kamera utama (dual) plus fingerprint sensor 

Dia punya kamera depan dengan resolusi sangat tinggi, yakni 24MP. Bayangkan!!! Ga cuma soal resolusinya yang nendang banget itu, ada opsi pencahayaan yang bisa ngatur hasilnya biar makin kece. Detailnya bisa dapet banget karena ada teknologi fusi cahaya yang bikin Hp ini bisa atur kompensasi exposure-nya jadi 4in1. Jadi, bisa selfie dengan hasil bagus dan detail banget walaupun pada malam hari.

Walaupun kamera depannya canggih, ga berarti kamera utamanya dikesampingkan loooh...

Tetap aja fitur kamera utama canggih juga. Dual kamera 13 + 2 MP yang bisa bikin efek bokeh ala DSLR. Yuhuu...

Pilihan warna (gradasi biru dan gradasi hitam) 


Untuk body-nya, Honor 10 Lite ini elegan kalo kubilang. Desain bagian belakangnya itu dibuat yang mengkilap alias berkilau dengan efek gradien baik untuk pilihan yang biru maupun yang hitam. Adalah Sky Blue dan Midnight Black Classic pilihannya. Jadi, kesannya mewah gitu.

Prosesornya pakai Kirin 710 dan ada pilihan memori beserta storage cukup besar. Honor 10 Lite punya spesifikasi RAM 4GB dan ROM 64GB. Trus, seperti yang kubilang tadi, dia punya kapasitas batre yang oke. 3400MaH sodara-sodara!!! Buat yang suka nge-game bisa banget nih.

Kapasitas batre besar tapi bodi tetap ramping


Nah, sampe sini aku udah yang ngerasa cukup banget alasan buat punya Honor 10 Lite.

Dari segi kamera oke. Kapasitas memori dan storage oke. Batre oke. Dan dengan semua fitur kece Honor 10 Lite yang memanjakan mata itu, harga cuma 3 jutaan aja dooong.



Jadi, siapa yang ga suka hati pake Honor???
Rugi lah yaaaa...

Saya akan senang sekali kalo bisa hands in Honor 10 Lite ini. Syukur-syukur bisa memiliki #eaaaa

Biar manja nih mata liat hasil selfie memukau. Wkwkwkkw

Kamis, Februari 28, 2019

Keseruan Acara Flash Design Palembang. Banyak Oleh- oleh!

Alhamdulillah touch down Muara Enim tanggal 26 Februari alias hari Selasa kemarin. Setelah kurang lebih 4 hari meninggalkan rumah mungil kami ini, akhirnya kesibukan pagi kurasakan lagi pagi tadi.

Beberapa hari sebelumnya, aku mendapatkan undangan via email tentang kegiatan Flash Design yang diadakan oleh Kominfo. Panitia penyelenggaranya sama seperti acara Flash Blogging tahun 2017 silam.

Bersama kedua adik dan ayahku plus Faraz, kami pun berangkat. Sebelumnya kita konfirmasi kehadiran pada panitia. Yang kemudian dibuatkan grup WA untuk kordinasi jadwal acara sekaligus sebagai media storing karya desain nantinya.

Ya. Selain workshop industri digital serta desain yang disampaikan oleh pemateri piawainya, ini adalah sebuah lomba.

Seperti namanya: Flash Design.
Sebuah lomba membuat desain (baik poster, komik, dll) yang dikerjakan secara flash alias cepat. Ditentukan waktunya dan harus dibuat di lokasi acara (on the spot).

Udah kebayang keseruannya?

Jadi, pagi itu sekitar jam 6 kami berlima sudah siap masuk mobil ayah. Suasana pagi  di Karang Endah yang habis diguyur hujan sebenarnya bisa jadi alasan kuat untuk tetap diam dalam selimut. Apalagi itu adalah hari Minggu.

Tapi Minggu, 24 Februari kemarin adalah sebuah pengecualian. Bahkan si kecil Faraz sudah ikut bangun sejak subuh. Entah sounding yang kulakukan sejak kemarin bahwa kami akan pergi ke Palembang pagi-pagi sekali itu berhasil, atau memang karena keriuhan pagi saat kami bersiap justru membangunkannya.

Rencana awalnya adalah aku beres baru bangunin dan mandiin Faraz. Ternyata gatot. Jadilah kami bergantian bersiap sambil momong. Hihihihihi...

Oya, padahal aku sudah bersiap akan membawa Laptop. Jum'at pagi tanggal 22 aku berdua Faraz berangkat dari Muara Enim berdua naik Bus Damri jurusan Muara Enim - Palembang.

Bawaanku ga banyak. Cuma tas ransel yang isinya laptop Papah Faraz, stok diaper untuk di jalan, juga satu stel baju Faraz. Satu lagi tote bag yang isinya adalah sus, camilan, termos air panas ukuran kecil, botol air minum, dan mainan kecil Faraz biar ga bosan dalam perjalanan.

Lucunya saat hari H, justeru laptop yang kupinjam dari suamiku itu tak jadi kubawa. Setelah dipikir-pikir 'Aku ga mahir gambar digital'. Sebelumnya aku sempat chat dengan Koh Deddy bahwa laptop ga wajib. Dan di grup kordinasi disampaikan akan disediakan kertas untuk desain non-digital.

Yo wesss...

Laptop pun tinggal deh di rumah Ibuk di Karang Endah.

Qadarullah, aku lupa bawa gendongan Faraz. Padahal sudah kusiapkan  Lantaran sibuk mikir mau bawa laptop atau nggak tadi tuh. Untung belum terlalu jauh dari rumah. Mengingat akan seharian di acara, aku butuh gendongan tentunya. Faraz akan tertidur dan aku ga akan kuat kalo gendong pake tangan aja. Huhuhu...

Karena kecerobohanku itu, kami pun terlambat 1 jam dari agenda yg sudah kami rencanakan tadi. Inginnya sampai di venue jam 8, akhirnya malah molor jam 9.

Acara belum mulai sih. Masih registrasi peserta di meja depan. Well, bahkan sebenarnya faraz masih sempat main lari-larian di koridor depan Hotel Aryaduta itu. Berkat momen itu, aku jadi melihat perkembangan barunya. Faraz sudah lihai berlari. Yeayyy!!! Oleh-oleh acara Flash Design yang pertama nih! Alhamdulillah.

Saat menuju meja registrasi, kami melihat backdrop photo booth. Tentang tema acara dan ada sketsa sosok Pak Presiden juga Pak Wakil Presiden. Mata Faraz langsung fokus ke sana. Dia penasaran sekali dengan benda-benda itu. Akhirnya, hampir disepanjang acara dia sibuk minta ajak ke luar untuk main di sana. Hahaha...

Ini juga yang akhirnya jadi berkah. Sebuah oleh-oleh lagi dari acara Flash Design Palembang! Tweet-ku menang jadi favorit.

Ini tweet-ku yang jadi favorit itu


Itu asli aku gemas ketika sedang dengar penjelasan tentang perkembangan industri digitas dari 1.0 hingga 4.0 trus Faraznya merengek nunjuk pintu. Dia mau main di luar dan tentunya di spot foto yang sudah mencuri perhatiannya sejak awal itu.

Memang dari awal aku sudah momong dia di luar sini, karena dia sibuk mau ke sini aja. Akhirnya aku minta ijin agar pintu ballroom-nya dibiarkan terbuka agar aku bisa tetap dengar. Untung panitia di meja pendaftaran luar membolehkan.

Saat penjelasan tentang perkembangan industri itu kudengar, buru-buru kugendong Faraz masuk  Karena aku mau foto pembicara yaitu Ibu R. Niken, Sekretaris Jenderal Kominfo, sembari mendengarkan langsung biar bisa aktual juga sharing info live tweet.

Ealah, suara keras Faraz memberontak dari tanganku ingin kembali main di luar kayanya bisa memgganggu fokus peserta yang sedang menyimak. Akhirnya, aku beringsut keluar.

Setengah gemas tak bisa dengar lengkap penjelasan tadi, ditambah rasa sungkan karena merasa Faraz sempat mengganggu tenangnya suasana di dalam sana, akhirnya aku foto dia dan curhat ke twitter.

Eh, malah rejeki.
Justeru terpilih menang dan dapat hadiah powerbank  Yeaay!!! Alhamdulillah rejeki. Ini oleh-oleh ketiga di acara Flash Design Palembang itu.

Hmmm...
Apa lagi ya?

Oh, tentang foto selfie sama Mas Hari dan Mas Adit nih. Mereka berdua adalah pemateri untuk bahasan mengenai desain. Keduanya adalah partner kerja yang kalian tau iklan-iklan di TV itu? Ya, beberapnya adalah karya alias desainnya Mas Hari dan Mas Adit.

Justeru karena Faraz main di luar terus, akhirnya aku bisa ekslusif foto bareng kedua grafic designer itu. Hehehe. Oleh oleh lagiiiii ...

Ada satu yang aku sayangkan  Karena Faraz sudah semakin aktif, aku jadi sibuk momong dan terlewat foto bareng teman-teman Kompal. Hiks. Cik Tika meledekku. Katanya, nanti fotomu ditempel aja. Huhuhu...

Sebelum acara lomba Flash design itu ada lagi cerita lucu. Aku sibuk menundukkan muka karena ada rasa sedikit malu ketika 'kami' memborong oleh-oleh.

Jadi, ada semacam tantangan dan kuis. Kedua adikku cukup berani untuk tampil. Putri, adik nomor duaku memang kutahu nyalinya  Selain dia memang senang lagu daerah (ditantang melanjutkan lirik lagu Aceh ceritanya), dia memang berani tampil. Kurasa juga karena dia sudah merasa nyaman pada momen ini. Saat Flash blogging dia juga ikut. Sedikit-banyak dia sudah kenal beberapa orang di sana jadi tidak canggung lagi.

Yang membuatku agak terheran-heran sebab abang belum pernah kesana adalah adik bungsuku, Imaa. Karakternya itu sangat pemalu, kurang PD, mudah gugup, tidak suka jadi pusat perhatian. Makanya aku kagum ketika akhirnya dia memberanikan diri untuk maju. Artinya, dia tengah menaklukan hatinya. Eaaaaa...



Tapi asli aku salut dan bangga sampai-sampai niat banget posting foto-foto di IG story-ku hahaha...

I'm proud of you, Dek.

Imaa, si bungsu ini juga menulis di blog seperti Putri dan aku. Sebenarnya aku dan ketiga adikku semua menulis di blog, termasuk adik nomor tigaku, Refri.

Nah, Imaa memang tertarik dalam hal desain  Dia senang menggambar sejak masih SD. Hebatnya, menurutku, adalah karena ia tekun mempelajari apa yang ia suka itu walaupun dengan keadaan terbatas.

Dia mulai menggambar dengan pensil, kemudian berkembang ke cat air, lalu digit bermodalkan Hp lungsuran ibuku yang dimensi layarnya hanya 4 inch saja. Belum lagi keadaan menggenaskan hp itu yang kacanya sudah retak seribu karena kecerobahan dia sendiri menjatuhkannya saat masih SMA.

Ini gambar-gambar digitalnya. Dia gambar dengan ujung jarinya di layar kecil yang retak. Bagiku ini lebih dari hobi, mungkin ini talentanya yang lain.

Memang ada talenta apa lagi dia? Banyak.

Saat kubaper karena terharu dg kemajuannya berani tampil

Ga tau ada angin apa itu aku sampe niat banget nulis-nulis di IG story tentang Imaa  Ahhahaha...

Acara hari itu seru. Aku bergantian dengan ayah untuk momong Faraz. Ketika ayahku sudah menyelesaikan gambarnya, gantian aku yang mulai berpikir mau bikin gambar desain apa.

Pertama, aku buka aplikasi Auto Desk di HP yang ku-install atas rekomendasi ima. Tapi ternyata aku berkutat dan ga mampu bikin garis-garis gambar yang kumau.

Habis setengah jam.

Aku beralih ke aplikasi andalanku, Canva. Aku mua desain poster sajalah. Mau nulis apa tapinya? Banyak informasi dari pembicara terakhir, yaitu Pak Ando, salah satu Tim Komunikasi Presiden, yang terlewatkan karena aku berada di luar sedang momong Faraz tadi.

Apa ya?

Ada kertas, pensil, dan 3 warna spidol di atas meja. Aku mulai berpikirtapi nihil. Kuawali saja dengan logo tema acara yang wajib ada pada desain. Selanjutnya mengalir saja. Aku menikmati garis demi garis setelah memutuskan untuk membuat doodle saja.

Inilah hasil desainku

Sampai panitia menyerukan berakhirnya waktu, aku pun menyerahkan desainku itu. Sebenarnya ada harap ingin menang, info hadiah yang disampaikan MC pada awal acara sukses memantik semangatku.

Kalau menang uangnya mau kau kasih ibu juga nanti, niatku.

Ahhahaa...
Padahal ya agak kecut juga saat di sana kulihat banyak sekali yang memang sudah bekerja sebagai ilustrator dan grafic designer. Aku sadar diri. Hehehe...

Eh, tak disangka-sangka ternyata desainku masuk nominasi untuk karya manual. Aku melongo.

Alhamdulillah masuk nominasi. 

Sabtu, Januari 26, 2019

Serba- serbi Bikin Rumah

Wuih, judulnya bikin aku seolah seperti ahli gitu ya. Ha ha ha. Serba-serbi bikin rumah, dooong. Maafkan lah kalau yang datang membaca berharap tulisan ini selayaknya tulisan dari buku babonnya anak sipil. Jadi, biar ga kaget aku bikin disclaimer-nya dulu aja yaaa...

Disclaimer: tulisan ini bukanlah tulisan dari sudut pandang seorang ahli bidang bangunan. Melainkan hanya berbekal sudut pandang pengalaman awam yang ikut bikin rumah.


Alhamdulillah wa syukurilillah, modal nekat karena situasi dan kondisi akhirnya kami bisa bikin rumah. Lah kok modal nekat aja? Emang bisa?

Qadarullah, dimulai dari rumah kontrakan yang hendak dijual empunya rumah (masih sodara sendiri). Ingin hati beli aja rumahnya, tapi kantong ga mampu bayarnya. Nasib #sobatmisqueen LOL

Akhirnya, di bulan-bulan tahun lalu kami berputar-putar mencari calon rumah kontrakan baru. Belum ada yang klik di hati. Entah lokasinya, bentuknya, tapi kebanyakan sih karena harganya. Hahaha.

Melirik perumahan yang getol diiklankan sepanjang jalan. Cuma mampu meneguk ludah pada akhirnya. Simulasi pembayaran dan akadnya membuat kami takut. Takut DIA marah. Kalau selama ini bisa bahagia di petak kontrakan, makan secukupnya, namun penuh cinta dan kasihNYA. Dan karena keinginan dunia, punya rumah, lalu membuatNYA marah, tentu kami tak sanggup juga tak mau.

Hingga suatu hari, ada simulasi akad dan pembayaran rumah yang klik. Kita pergi survey. Tapi ternyata lagi-lagi cuma sanggup meneguk ludah. Mahal sekali.

Yah, kami maklum tentu developernya perlu modal awal yang tak sedikit juga. Ah, mungkin nanti jika DIA berkehendak ada saja jalannya. Kami abaikan keinginan hati memiliki rumah sendiri. Cukup mengo trak sajalah saat ini. Menabung dulu hingga cukup uang nanti.

Tapi, di suatu sore yang indah ada informasi tentang perumahan yang sistem bayar dan akadnya berterima dengan keinginan hati. Hanya saja masih tersandung biaya modal alias uang angsuran pertama untuk modal membangun rumahnya.

Sebut saja 50 juta. Addduuuuh...
Uang dari mana?

Perumahannya sederhana, tipe 36 saja. Luas tanah standar tapi cukup saja untuk suatu hari ada rejeki menambah ruang keluarga. Menggiurkan!

Tapi uang di tabungan hanya ada 10% nya saja. Berdiskusi dengan tuan tanah yang sekaligus adalah developer perumahan tersebut. Alhamdulillah sang bapak berbaik hati memberi keringanan.

"20 juta dulu. Langsung dibangunkan rumahnya. Sisanya silakan dicicil sembari rumah dibangun." begitu katanya.

Angin segar. Tapi uangnya mana?

Kata orang, rumah dan tanah itu jodoh-jodohan. Pas kita cari, belum ketemu yang cocok. Jadi, ketika ada yang cocok dan bisa diperjuangkan, jangan lepaskan! Waaah, berasa seperti cari jodoh beneran ya...

Pikir-pikir, hingga akhirnya mencoba melepas tabungan pribadi. Toh, baiknya pemberian pernikahan ini bermanfaat  Daripada hanya disimpan saja. Separuh mas kawin yang kuterima dari suamiku akhirnya kujual. Kuserahkan uangnya pada suamiku. Kita cukupkan untuk jadi modal. Nanti kalau ada rejeki bisa menabung beli lagi, kataku.

Setengah enggan ia menerima. Dengan beragam bujuk dari penjelasanku tentang bersyukurnya dapat tempat di lokasi bagis, dengan sistem bayar yang insyaallah berkah, kenapa tidak?

Akhirnya ia menerima dengan azzam ingin mengganti. Kubilang, aku ikhlas memberi.

Serba-serbi bikin rumah ternyata menguras emosi di hati. Permulaannya saja seperti drama. Ada suami yang murung karena merasa kasihan aku harus menjual mas kawin, ada aku yang terharu karena ketulusannya menafkahi dan memberikan tempat bernaung ya g diridhoiNYA untuk kami. Aaah,,, bikin mewek kalau diingat.

Belum lagi ternyata ada hambatan lain setelah kami mampu membayar jumlah minimal untuk akad dibangunkan rumah itu. Misalnya tentang lambatnya pembangunan, kurangnya bahan-bahan, sementara masa kontrakan kami hampir habis. Dag-dig-dug aku dibuatnya.

Sebenarnya kami maklum. Karena uang yang harusnya 50 juta, baru kami bayar 20 saja. Sisanya, tiap bulan kami cicil selama 5 bulan. Ternyata, pembangunannya memang bermodalkan uang itu. Kami belum bayar, bahan bangunan tak datang. Mungkin tak ada dana juga untuk membelinya. Tak apalah, namanya juga nyicil hahaha...

Serba-serbi bikin rumah ini juga sempat bikin kesal. Hampir lupa tentang rasa syukur kami saat mendapat info perumahan yang sesuai dihati soal bayar-bayarnya ini. Lantaran, pekerjaan tukang perumahan yang tidak memuaskan.

Untuk kami yang cukup sering survey perumahan, merasa bahwa pekerjaan tukang di sini agak tidak total. Bagian finishingnya ini misalnya, lantai keramik yang dipasang naik-turun tak rata. Sehingga air mudah tergenang di tengah rumah.

Parahnya adalah kamar mandi/WC yang terpaksa harus kami bongkar ulang. Lantainya tidak miring sehingga air menggenang. Pemasangan toiletnya salah total. Pheww!!! Melelahkan juga urusan rumah.

Oya, belum lagi cat rumah yang sangat asal-asalan. Baik dindingnya maupun plafonnya. Akhirnya semua diulang. Adalagi, bagian ujung lantai dan dinding tidak ada kuku keramik atau dinding keramiknya. Alhasil, kakak sepupuku berbaik hati membantu memasangkan.

Belum lagi lamanya proses pemasangan PDAM dan listrik waktu itu. Alih-alih pindah rumah karena masa kontrakan habis, malahan kami lumayan harus 'nombok' dan pinjam uang ke teman dan saudara untuk menutupinya.

Waaah, serba-serbi bikin rumah yang super sekali.

Di sisi lain, aku, emak yang taunya harga bahan dapur ini akhirnya paham harga bahan bangunan. Sedikit-banyak ada perubahan perilaku juga. Walaupun rasanya kusudah jauh lebih hemat dibanding masa lajang dulu, semenjak tau serba-serbi bikin rumah akhirnya jadi lebih hemat lagi.

Kalau tadinya berfikir bisa beli jilbab baru, saat ini lebih prioritas beli semen aja. Harganya lebih murah semen booook.


Rabu, Januari 09, 2019

Cara Mengembalikan Komentar Blog yang Terhapus


Cara Mengembalikan Komentar Blog yang Terhapus - Kenapa tiba-tiba aku mau nulis postingan berbau tips ini? Apakah aku adalah expert? No. Aku bukan expert yaaa...

So, mari kita disclaimer dulu ^^
Ini adalah sharing yang dilatarbelakangi pengalamanku. Aku bukanlah ahli tapi senang berbagi. Love and Share!

---

Kisah dibalik Musibah

Kejadian ini bisa dibilang adalah musibah. Adalah kejadian yang akhirnya membuatku belajar untuk lebih teliti dan tidak terburu-buru.

Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian toh? Nah, musibah terhapusnya 100 komentar di blog-ku bulan lalu sukses bikin aku panik plus sedih seharian. Pengennya nangis tapi kerjaan rumah dan baby menunggu. Ya kali mamaknya sibuk nangisin komen. Huhuhuhu...

Kalau kalian adalah blogger, kalian akan tau betapa berharganya sebuah komen. Apapun isinya. Jadi, ga ada penulis blog yang sengaja ngehapus komen di tulisannya apalagi sampai ratusan. Kecuali, komentar spam penjual obat. Udah masuk filter otomatis tuh.

Khusus buat blog ini, aku mengaktifkan fitur moderasi. Itu adalah fitur yang memungkinkan admin blog untuk menyaring komentar yang berpotensi spam.

Tujuannya apa? Tujuannya biar komentar spam itu ga bikin nilai blog jelek. Yang masuk komentar spam versi saringanku sih biasanya (1)mengandung link url, (2)berisi hate speech atau pornografi, (3)iklan judi. Kurang lebih komentar seperti itu yang biasa kusaring.

Fitur moderasi ini memungkinkan kerja admin jadi lebih gampang dan teratur.

Tapiiiiii, salah dan khilaf memang tempatnya manusia, termasuk diriku. Hari itu aku kejar-kejaran dengan deadline lomba yang kuikuti. My bad. Salahku memang karena seringkali kerja di penghujung.

Padahal, untuk lomba itu aku sudah menyiapkan materi sejak jauh hari. Ah, inilah caraNYA mengajariku untuk jadi lebih baik.

Diantara keterburu-buruan, sinyal yang kurang stabil, dan dimensi tampilan layar yang bikin siwer, akupun salah pencet. Niat hati menerbitkan semua komentar di folder moderasi, yang terjadi adalah klik hapus bahkan di folder published.

Urutan kejadiannya begini, aku:

  • Klik tab moderasi dan select all. Otomatis semua komentar diceklis. 
  • Alih-alih klik publish, aku salah klik. Malah terpencet delete.
  • Dan bayangkan??? Ternyata, kombinasi antara jaringan yang tidak stabil malam itu, juga karena aku terburu-buru, ternyata tab moderasi belum terbuka di tahap pertama itu. Masih tab published comments alias komentar yang sudah diterbitkan.
  • Akhirnya bencana itu terjadi. 100 buah komentar baik dari pengunjung maupun balasanku pribadi terhapus permanen.
  • Selanjutnya aku panik dan batal ikut posting lomba. Huhuhuhu

Kenapa 100 komentar yang terhapus? Karena di pengaturan tab itu aku terbiasa mengatur 100 tampilan per halaman. Maka, hari itu aku sedih, panik, kesal, dan bingung.


Mengembalikan Komentar Blog Terhapus


Tak lain tak bukan, frasa inilah yang kuketik di pencarian google: Cara Mengembalikan Komentar Blog yang Terhapus. Ada banyak sekali hasil pencarian yang muncul. Paling atas adalah tentang mengembalikan blog yang terhapus. Tentu bukan informasi yang kucari. Agak bawah masih di halaman pertama, ada sebuah artikel yang cukup membantu dan sesuai dengan info yang kuharapkan.

Bahkan cerita di blog itu pun seperti kejadian yang kualami: tak sengaja terhapus komentar blog yang sudah diterbitkan

Dalam kesempatan ini, aku coba sarikan kembali tahapan cara mengembalikan komentar blog yang sudah tak sengaja terhapus tadi (dengan catatan fitur moderasi aktif dan ini blogspot yaaa):

  1. Log in/ masuk ke email yang didaftarkan fitur moderasi komentar
  2. Cari email pemberitahuan komentar masuk (punyaku masuk di folder sosial)
  3. Copy isi komentar berikut url penulisnya
  4. Pastekan ke kolom komentar sesuai artikel blog yang dikomentari
  5. Lalu klik publish/ terbitkan
  6. Selesai. 

Bagaimana? Nampak mudah untuk mengembalikan komentar blog yang sudah terhapus kan???? Sambil bertanya pada google yang kemudian menuntunku ke artikel itu, aku sudah wara-wiri bertanya ke beberapa support WAG yang kuikuti. Hasilnya belum ada. Itulah sebabnya aku coba tuliskan kembali inti sari dari solusi yang kubaca di artikel tadi. 


Masalah lainnya


Eits, cerita hidup terjadi dengan berjuta pelajaran dan hikmah. Dari sanalah kita belajar dan menjadi semakin dewasa. Termasuk ketika ternyata solusi yang diberikan oleh teman penulis tadi ternyata tidak bisa dilakukan.

Apa sebabnya? Bukankah kondisiku sudah sesuai pra syarat? Yakni blogspot dan sudah mengaktifkan fitur moderasi. Artinya, komentar yang sudah diterbitkan ada pemberitahuan di email-ku.

Sebelum akhirnya aku coba tahapan pengembalian komentar blog yang terhapus tadi, aku sudah lemas duluan. Membayangkan 100 buah komentar yang akan kupulihkan dengan cara manual copy-paste begitu.

Setelah membatalkan keikutsertaan lomba blog yang membuatku khilaf menghapus 100 komentar itu, aku sibuk menenangkan diri. Barulah beberapa minggu setelahnya, solusi itu kuujicobakan.

Hasilnya??? Gagal.

Karena email notifikasiku masuknya di folder sosial dan entah aku lupa atau gimana pengaturannya kubuat, hanya ada 20 email saja. Selebihnya sudah tak ada. Niat yang sudah dibulatkan untuk kuat menyalin isi komen plus url-nya seperti tutorial yang kubaca itu akhirnya runtuh.

Well, daripada pusing kubiarkan saja seperti apa adanya itu.

Jangan heran di beberapa postingan terakhir dalam blog ini komentarnya kosong: tertulis dihapus admin bahkan komentar balasan dariku sendiri. Huhuuhu...

Nah, kalo kamu komen nyinyir bahwa aku sengaja ngapus komen, artinya kamu ga tau kalo komentar itu hal penting buat tulisan blogger. So, mana mungkin sengaja ngapus. Apalagi kalo udah pake fitur moderasi toh? Masa komen yang udah 'dilulusin' publish malah dihapus? Mending dari awal ga dilulusin aja kan?

Jadi, baiknya berpsitif thinking aja ya mbak.

Cheers! 
COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES