Minggu, November 25, 2018

5 Fakta Tentangku, Alma Wahdie



Sudah sampai hari ke-enam tantangan 30 hari menulis. Ternyata benar-benar menantang. Nggak setiap saat aku bisa duduk menulis. Biasanya sih minimal seminggu sekali terbit satu artikel. Kalo boleh buka rahasia, itu ditulis secara menyicil. Hahahaa...

Untuk satu artikel biasanya butuh 3-4 hari. Setiap harinya dicicil pada jam tidur Faraz di siang hari. Bagaimana malamnya? Ya, kalau ada kewajiban mendekati tenggat barulah kulanjutkan. Selebihnya didominasi oleh pekerjaan rumah tangga yang memang tak disentuh saat lagi main bareng Baby F.

Well, berhubung doi udah anteng tidur, mari kita lanjutkan cerita santai hari ini. Berbekal tema: 5 Fakta tentang diri sendiri.

Wohooo!!!
Yang bikin sulit adalah memilih 5 saja. Karena faktanya ada banyak hal tentang diriku. Mungkin yang perlu diketahui adalah yang kusebutkan di bawah nanti.

Kenapa Teman-teman perlu tahu?
Biar makin enak aja kita berteman #eaaa

Maksudku, semacam kisi-kisi bahwa "Oh, Alma tuh begini yaaaa."

Untuk info aja sih. Syukur-syukur juga bermanfaat dalam hubungan silaturahmi kita. Meminimalisir kesalahpahaman bisa jadi. Langsung aja aku sebutkan 5 Fakta tentang Alma Wahdie:

1. Ambivert

Ya. Aku adalah seorang Ambivert. Kalau Teman-teman belum tau apa itu Ambivert bisa baca di sini. Secara singkat, Ambivert itu adalah gabungan antara Introvert dan Extrovert.

Jadi, kalau kadang kalian baru bertemu denganku lalu merasa kikuk, mohon maaf dan harap maklum ya. Aku butuh sedikit waktu untuk menyesuaikan hati. Cieleee...

Pernah aku baca komentar (bukan untukku sih), "Ah, dia mah ramenya pas di dunia maya doang. Pas ketemu mana? Ga sesuai banget!"

Aku ya sedih bacanya. Soalnya kumaklum bahwa mungkin sesorang yang disebut itu adalah seorang Introvert. Artinya bukan karena ia tak ingin membaur, tapi ia butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Ia tak mau juga menciptakan kekikukan seperti itu, tapi apa daya dia pun merasa tak nyaman.

Atau sebaliknya, Temanku pernah bilang: "Alma mah enak, mudah bergaul. Orangnya rame." Alhamdulillah sih. Tapi sebenarnya tidak begitu. Ada kondisi aku merasa tak nyaman berada di keramaian dan memilih untuk jadi pengamat lalu memutuskan kapan waktunya bicara dan merespon layaknya seorang Introvert.

Karena sebagai seorang Ambivert, aku seringkali kebingungan. Kalau kalian baca sumber artikel yang kusebut tadi, sedikit banyak akan paham. ^^

Intinya, plis jangan bingung dan jangan risau. Kalau tetiba merasa, eh Alma di chat renyah loh. Tapi pas ketemu kok kayak biasa-biasa aja. Atau bahkan kayak cuek gitu? Maaf bukan berarti sombong ya kalau tak belum berbaur. Beginilah adanya seorang Ambivert.

Fun fact-nya adalah aku seorang ambivert yang kadang kesulitan ketika muncul sifat Introvert dan extrovert-nya tapi sangaaaat suka berteman. ❤


2. Susah Mengingat Nama/ Wajah

Entah karena memang jaringan di otakku ada yang konslet, atau sudah pembawaannya seorang pelupa. Aku termasuk orang yang susah mengingat nama dan/atau wajah. Utamanya saat baru pertama kali berjumpa.

Sadar akan kekuranganku itu, aku mulai menemukan tips jitu untuk mengatasinya. Misalnya, saat menyimpan nomor kontak teman yang baru kujumpai, aku akan menuliskan embel-embel lokasi kami bertemu/ komunitas dimana kami saling terhubung/ bahkan nama anak dan pasangannya.

Well, lucky me, it works!

Contohnya, nama kenalanku (kemudian kami berteman akrab) dimana suami kami adalah rekan kerja, aku menuliskan kontaknya berikut nama suaminya, atau anaknya. Tergantung mana yang saat itu kujumpai dan berinteraksi denganku.

Mama Dafa - Mbak Eni UT
Te Lisa UT
Te Imel UT
Mbak Ping UT
Mbak Widi UT
Bicik Dona Blog
Mbak Flo Blog
Faisol Blog
dst. 

Ini cukup membantuku mengingat nama. Beruntungnya sekarang hampir semua kontak Hp terhubung dengan akun WhatsApp. Ada foto profilnya yang ikut membantuku mengenal wajah.

Tapi, untuk yang baru bertemu dan kenalan sekali tanpa simpan kontak atau tukar-tukaran info akun sosmed, biasanya susah untuk diingat.

Terjadi lagi untuk kesekian kalinya. Waktu itu aku berkenalan dengan calon tetangga baru nanti. Sedikit mengobrol bahwa ia berdagang ikan di pasar dan cerita ringan lainnya. Sebut nama juga bahkan.

Tragisnya, suatu pagi aku ke pasar dan beli ikan di lapaknya. Dia menyapa dengan ramah, kusambut begitu pula. Lalu ia membersihkan ikan yang kupesan sambil bertanya kapan aku akan menempati rumah di dekatnya itu. Masih dengan tersenyum aku menanggapi, namun mungkin nampak kerut di dahiku bahwa aku sedang berpikir siapa dia.

Kok bisa tahu aku akan pindah nanti? Itu yang ada di benakku.

Mungkin melihatku ragu menjawab lebih jauh, juga bahasa tubuh yang seolah tak mengenalinya, ia pun melanjutkan pekerjaannya dalam diam. Hingga akhirnya pesananku disodorkan aku baru teringat. Kemudian meminta maaf bahwa aku lupa.

Segaris senyum pun merekah di wajahnya. Katanya dia pikir bahwa dia kira salah menyapa orang. Lantaran aku yang nampak ogah-ogahan menjawab. Dan sedikit bingung (karena aku sambil berpikir mengingat siapa dia). Oalaaaah...

Untunglah ia berbesar hati memaklumiku dan memaafkan sikapku itu. So, Teman-teman kalau pernah aku bersikap begitu silakan ditegur ya. Bantu ingatkan aku karena otakku lemah soal beginian. Hehehe...


3. Malas Pakai Kacamata Padahal Rabun

Karena Baby F sudah semakin aktif, Alhamdulillah, aku pun mulai enggan berkaca mata. Sedikit-sedikit dia tarik dan jatuhkan kacamataku. Padahal, kondisi mataku tidak sehat.

Aku menderita rabun jauh. Minus 1,75 tepatnya. Tidak terlalu besar dibanding mungkin penderita rabun lainnya. Tapi cukup sering membuat kesalahpahaman karena aku tak bisa melihat jelas tanpa bantuan kacamata itu.

Pernah dari jauh temanku sudah sumringah tersenyum padaku. Tahu bagaimana kelanjutannya karena aku tak mengenalinya tanpa kacamata. Fiuh! Sempat dia marah karena merasa diabaikan.

Beruntung ia adalah teman yang sudah tahu bahwa aku rabun. Dia menghibur dirinya sendiri dengan memaklumi responku yang terkesan abai tadi. Tapi tetap bersungut menyayangkan aku tak mengenalinya.

Bayangkan jika terjadi dengan orang lain yang tak tahu keadaanku. Alamat dibilang cuek bin sombong mungkin saja. Untungnya sekarang aku memanfaatkan soflens, sehingga tetap bisa beraktivitas dengan Baby F tanpa ditarik-tarik dan melihat dengan jelas.

Walaupun ada kalanya aku tak bersoftlens, sehingga kesalahpahaman itu masih terjadi.


4. Menelepon Seperlunya

Setiap bulan aku beli paket data internet dan mendapatkan bonus telepon. Tapi, aku jarang menelepon. Mungkin karena kepribadianku yang Ambivert itu, kadang aku merasa canggung untuk bertelepon ria. Apalagi jika yang kutelepon adalah orang yang tak terlalu dekat denganku.

Jangankan mereka yang tak terlalu dekat, pada keluarga saja aku menelpon seperlunya. Hanya pada ibu aku agak lebih sering menelepon. Karena aku dekat padanya. Dengan adik-adik kandungku saja tak semuanya sering kutelepon. Hahaa...

Boro-boro dengan yang lain kan ya??? Lha wong dengan suami aja aku nelpon seperlunya aja. Aku lebih nyaman menuliskannya dalam chat WA (jaman now). Kalau dulu mah sms yaaa...

Entahlah. Aku bingung kalau menelepon mau bilang apa? Kesannya kebanyakan basa-basi: lagi apa? Sudah makan apa belum? Dan pertanyaan sejenisnya yang aku sendiri 'geli' jika ditanya begitu.

Jika rindu, sayang, dan beragam rasa di hati itu aku lebih suka mengekspresikannya dalam untaian doa. Berharap didengar-Nya. Bukan karena gengsi tak mau bilang atau jaim. Bukan. Jawabannya kembali lagi ke perasaan nyaman di hati.

Aku tak nyaman berlama-lama di telepon hanya untuk tanya basa-basi begitu. Seperlunya saja. Mungkin ketika aku merasa begitu, pribadi introvert-ku mendominasi.

Paling bisa aku berlama-lama menelepon sahabatku. Mungkin karena merasa dekat semakan, seatap, dalam kurun waktu yang ga sebentar, makanya aku merasa nyaman berbincang. Lagi pula semacam tahu sama tahu sehingga kami tak menanyakan pertanyaan template basa-basi seperti tadi. To the point aja!



5. Jujur Lidah

Ini julid alias jujur lidah dalam arti sebenarnya yaaa... Bukan julid yang berarti nyinyir. Big No-No!

Sudah kebiasaan karena lingkungan dan didikan nampaknya, aku tuh sangat jujur ketika menyampaikan apa yang kurasakan, menyampaikan pendapat/respon pada orang, menyampaikan keluhan, dll. Entah ini buruknya atau baiknya, hasilnya adalah sakit.

Iya, sakit. Ibarat kata orang tuh: omongannya pedas, tapi ya benar (ketika sudah diresapi baik-baik tanpa baper pastinya)

Kenapa tadi sempat kusebut entah baik atau buruk sifatku yang terlalu jujur dalam penyampaian itu? Karena beberapa teman merasa bahwa apa yang kusampaikan itu sangat bermanfaat sehingga berterima kasih padaku. Wow ga tuh?

Ketika mereka bercerita dan meminta respon, aku merespon dari beragam sisi. Kebiasaanku adalah mengajak mereka untuk membuka mata, melihat semua kemungkinan hingga yang terburuk sekalipun. Plus contoh dari pengalamanku biasanya. Sayangnya, tak semua orang tahan mendengarkan potensi buruk yang kuasumsikan begitu. Ada yang hanya ingin mendengar yang manis-manisnya saja lalu kemudian menangis dan 'libur' berinteraksi denganku.

Mungkin butuh waktu untuk meresapi nasehatnya. Karena biasanya kemudian hari datang kembali. Berterima kasih.

Sebenarnya, aku tak akan sejujur itu hingga membeberkan banyak kepahitan yang seringkali membuat sakit itu pada setiap orang. HANYA pada mereka yang kukenal dekat saja kok. Pada sahabatku dan adik-adikku saja biasanya. Itupun hanya ketika mereka meminta respon/pendapatku. Jika tidak, ya aku tak akan ber-jujur lidah begitu.

Toh, ke orang lain aku tak mungkin berani begitu. Salah satu alasannya ya karena aku Ambivert. Boro-boro ngurusin orang lain, untuk bisa berbincang santai aja syukur. Bingung? Plis jangan bingung yaaa...


Bonus: Selalu Bawa Air Minum

Meminjam istilah yang sering disebut Seli, teman sekamarku dulu, bahwa aku ini onta. Hahahaa...

Karena kuat minum, dikit-dikit haus. Jadilah kemana pun aku sedia air minum. Buat berjaga kalau saja di sekitaran sedang tak ada penjaja minuman.

Jangan heran kadang tasku berat. Karena ada botol air minum. Bahkan sudah bawa dari rumah, aku biasanha beli lagi. Hahaha...


Itulah rahasiaku: 5 Fakta tentang Alma.
Semoga ada pelajaran yang bisa diambil dari tulisan kali ini ya. Be yourself!

#BPN30DayChallenge2018
#bloggerperempuan
#Day6

13 komentar:

  1. Love the story. Sebagai yang pernah berinteraksi dengan Alma, setuju kalau Alma ini Ambivert - jadi bisa langsung klop sama aku yang dominan Introvert :D

    BalasHapus
  2. Aih namaku disebut, Tos kita banyak kesamaan, salah satunya suka minum.Nice post

    BalasHapus
  3. Mba, yang poin 1 sampai 3 kok kayak membaca sifat saya ya mba hahaha
    Saya itu introvert, tapi ga ada yang percaya karena saya terlihat rame.

    Mungkin masuk ambivert kayaknya.

    Saya juga males bangeeett pakai kacamata minus, malah doyan pakai kacamata itam, makin ga keliatan deh hahaha

    Suliiitt banget mengingat nama, rata2 lebih ingat kalau berinteraksi di dumay hahaha

    BalasHapus
  4. Nomor satu dan dua samaan deh kita mbak, hahaha. Kalau aku biasanya ketemen kantor baru atau temen sekolahnya anak. Tahun lalu aku pidah kantor baru 6 bulan kemudian aku hapal semua namanya, terus sekolah anak juga udah setahunan lebih baru deh hapal.

    sayangnya aku cepet lupa juga, jadi temen aku kantor yang lama kalau dulu gak terlalu akrab blass deh lupa lagi namanya >.<

    BalasHapus
  5. Salam kenal mbak :)

    Kalau aku untuk yang baru pertama kali kenal masih canggung deh

    BalasHapus
  6. Satu komunitas ga usah ngobrol tatap muk, tinggal bw dan saling baca aja semua jadi udah saling mengenal sesama member BPN ya, hahaha

    BalasHapus
  7. Yg saya rasakan Alma itu anaknya rame dan mudah bergaul lho.. Beda banget sama saya yg cenderung introvert.. Inget pas jumpa pertama kali sama Alma waktu acara offline itu ya..

    BalasHapus
  8. Mba Alma ambivert ya, kayak temenku. kwkwkwk julur lidah ya ampun lucu kamu mba.
    Kalo kamu rabun jauh, aku mines, sama nggak sih heheheh. Aku terbiasa make kacamata nih fakta dari diriku dan tak bisa jauh-jauh dari kacamata

    BalasHapus
  9. Aku pakai kacamata kalo pas di sekolah, perjalanan naik motor, di depan laptop, pas baca buku. Kalo pas sama anakku hooooo dijamin bakalan direbutnya. Hihi.

    BalasHapus
  10. Sepertinya aku termasuk ke dalam tipe ambivert juga nih..btw istilah julid nya lucu juga tuh..jujur lidah alias saklek gitu kali ya mba? Dan aku lbh klop sm org saklek drpd org yg iya2 tp ngomongin d blkg

    BalasHapus
  11. Baca blog post mbak ibi, aku jadi makin teringatkan. Orang itu punya karakter beda beda, unik, dan ga visa disamakan. Jadi kalau ada yg unik unik gitu, ya itulah ya karakter orang hehehe

    BalasHapus
  12. Hai Mbak Alma, salam kenal ya ^^
    Aku dulu orangnya ekstrovert tapi sekarang cenderung introvert hehe. Aku udah nggak serame dulu dan sekarang suka ngobrol seperlunya sama orang. XD
    Wah keren ya bisa minum banyak. Aku malah kebalikannya, susaaah banget minum banyak. Kalo dipaksa tuh nggak nyaman. Tapi anehnya makan sebanyak apapun bisa masuk XD XD bhahaha makanya aku gendats begini

    BalasHapus

Halo!
Terima kasih sudah membaca. Ayo tinggalkan jejaknya di kolom komentar yaaa...

COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES