Senin, April 27, 2015

Nongkrong vs. Belajar

"Aku ga bisa belajar kalo sepi,karena nanti malah tidur."
"Kalo rame aku malah ga bisa konsentrasi, dong."
"Rame mah ga belajar aku, sayang ngelewatin momennya."
"Bisa sih belajar sambil kegiatan lainnya. Aku sih OK aja."

Teman- teman termasuk yang mana hayo???
Ini semua tergolong gaya belajar alias learning styles. Setiap orang memiliki gaya belajar masing- masing. Hal ini tentu saja mempengaruhi bagaimana kecenderungan setiap individu dalam memproses materi yang ada dalam keadaan terbaiknya.

Saya sendiri termasuk individu yang memiliki gaya belajar campuran, yakni kinestetik, audio, dan visual. Saya termasuk orang yang kurang maksimal menangkap materi pelajaran kalo suasana sepi.
Bagaimana mengetahui gaya belajar kita?

 Saya sendiri baru memahami gaya belajar saya setelah sekian lama mencoba berbagai keadaan belajar. Semasa proses belajar saat ini, saya menemukan gaya belajar saya campuran lantaran kecenderungan saya seperti kalimat pertama tadi. Saya justeru akan tertidur jika belajar dalam suasana hening alias sepi. Lebih mudah bagi saya memahami suatu bacaaan atau menulis dengan iringan musik dan/ atau sambil menyalakan TV/ memutar video. Sehingga sesekali saya dapat melirik tayangan yang ada atau bahkan sekedar memainkan HP dapat mewakili salah satu gaya belajar saya yang kinestetik. Bahkan, akhir- akhir ini saya punya mainan baru.
Yaitu benang wol!
Alhasil, saya pun belajar sambil sekali- kali berhenti untuk merajut. Benar- benar campuran memang. Saya bukan orang yang akan diam mengerjakan sesuatu jika sendiri. Ada banyak hal yang akan saya lakukan untuk menyelingi jam belajar saya, bisa dikatakan bahwa sebenarnya saya tak punya jam belajar.

WOW!!!

Jangan ditiru ya, Teman- teman hahaa.
Karena memang begitulah cara saya melakukan sesuatu jika sendiri. Bisa saja awalnya saya menulis blog, lalu sembari berpikir memilih- milih kata saya akan menggambar atau mewarnai. Makanya, jangan heran kalau postingan di blog saya sering kali tidak konsisten jumlahnya. Bisa saja saya menulis satu post sehari, namun bisa hanya satu  post selama sebulan. Hohoho

Tapi, berbeda lagi jika melakukan sesuatu secara berkelompok.
Misalnya bekerja bersama tim untuk menghitung ulang jumlah topi yang akan dibagikan pada peserta senam. Saya akan melakukannya dengan serius, tanpa menyelinginya dengan hal lain. Bahkan hanya sekali- sekali saja berbicara menimpali. Jika begitu bentuknya, saya akan menjadi fokus sekali.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bahwa saya tidak harus berada dalam situasi senyap atau sepi tanpa suara untuk fokus pada suatu hal. Tidur ditengah hingar bingar musik tetangga yang sedang hajatan pun saya bisa ahahhaa. Belajar pun demikian, saya tidak mempunyai aturan khusus untuk itu. Lebih sering saya menyalakan televisi sebagai teman saya membaca, sesekali saya lirik jika ada info yang ingin saya perhatikan. Selebihnya hanya saya dengarkan saja. Malah terkdang saya bosan dengan hingar bingar televisi yang itu- itu saja, akhirnya saya mendengarkan radio atau playlist dari MP3. Saya juga suka belajar, membaca, menulis, menggambar, mewarnai, atau melakukan kegiatan lainnya sambil nyemil hehehe (yang ini juga jangan ditiru yaaa... nanti gendut dan cute kaya aku LOL). Lebih suka wafer ataupun minuman yang bercita rasa coklat. Mungkin seperti khasiat coklat yang kita tahu bahwa coklat menambah jumlah salahsatu jenis hormon dalam tubuh yang membuat kita merasa rileks alias senang (plus jerawat kalo kebanyakan huhuhuhuu T_T).

Well, bagaimana pun gaya dan cara belajarnya, pastikan kita memahaminya dengan baik, sehingga kita dapat mengatasi efek negatifnya pula (jika ada). Misalnya seperti saya, yang akan lebih produktif melakukan sesuatu dengan hati riang jika ada coklat tadi, atau sambil ditemani teman- teman yang berdendang ria. Hal ini jika terlalu sering diikuti lumayan berpengaruh negatif nantinya alias menimbulkan efek ketergantungan. Jadi seimbangkanlah! Jangan membiarkan gaya dan cara ini menguasai diri kita sehingga kita tak bisa berbuat optimal dengan positif.

Sepertinya memang otak saya sudah cakap memilah hal apa yang menjadi prioritas dan sebagainya.
Jika pekerjaan yang menuntut saya untuk berkordinasi dengan anggota tim lainnya, secara default saya akan bekerja profesional, dengan waktu yang ada dan target yang harus dicapai, maka saya akan sendirinya fokus pada upaya pencapaian target tersebut.

Untuk belajar hari- hari alias kewajiban harian yakni membaca, saya tidak menyediakan waktu khusus. Maka dari itu, saya meyiasatinya dengan membuat rak buku rendah dan dekat dengan tempat tidur saya. Sehingga, setiap saat saya dapat meraihnya sebagai selingan manakala saya sedang melakukan hal lain.

Inilah keuntungan jika kita mulai mengenali gaya belajar kita.
Kita bisa mengatasi alias mencari cara untuk mendukung hal tersebut agar semakin optimal tentunya.
Ayo, kenali gaya dan cara belajar teman- teman!

Nongkrong vs. Belajar??? No problemo!!!

Terima kasih telah membaca^^

Pagelaran Budaya Melayu Sumatera, Riau

Poto bersama kedua MC
Assalammualaikum.
Selamat pagi, teman- teman.
Dalam kesempatan ini, saya mau berbagi tentang acara pagelaran budaya Siak, Riau yang berlangsung beberapa hari lalu. Acara ini diselenggarakan pada hari Kamis, 23 April 2015.

Seperti biasa pada semester ini, saya ada kelas di FPBS setiap sore.
Selepas menghadiri sesi di kelas hari itu, saya berjalan pulang melewati gedung amphitheater UPI.
Ramai sekali orang- orang berkerumun di sana. Saya yang selalu penasaran mendekati kerumunan itu, karena memang saya ada waktu untuk melongok sebentar ke sana.

Ternyata, ada kegiatan komunitas anak Riau UPI di sana. Mereka sedang menyelenggarakan acara pagelaran budaya kabupaten Siak, salah satu kabupaten yang ada di provinsi Riau.
Dari penjelasan panitia yang saya peroleh bahwa acara akan dimulai pada pukul 19.00 wib.
Akhirnya saya melanjutkan perjalanan pulang dan  mencatat jadwal itu. Nampaknya perlu sedikit hiburan untuk rutinitas bulan ini. Diam- diam saya masukkan ke dalam agenda hari itu.
Sepanjang jalan menuju pulang di samping gedung amphitheater itu dipajang hasil poto- poto para photographer dengan tema kabupaten Siak, Riau. Ada banyak sekali gambar di bingkai yang menggambarkan keadaan alam, adat budaya, tarian daerah, dan panorama Riau.







Kakek bercerita dengan cucunya
Akhirnya, saya dapat menghadiri acara malam itu. Sebelumnya saya mengundang kakak untuk ikut serta, namun kak Neni sedang berhalangan untuk bergabung. Karena memang ingin menonton pagelaran itu, saya pun pergi sendiri lagi pula venue acara tak jauh dari kediaman saya.

Pengeran murka karena putri pergi tanpa ijinnya
Saya juga sedang ada janji sedari sian untuk bertemu teman saya, bang Bomans. Beberapa hari lalu, setelah perjalanan kami ke Stone Garden (lihat serunya cerita kami ke sana DISINI) kartu memori kameranya say pinjam^^ Saya berjanji mengembalikannya hari itu. Akhirnya saya mengundang Bomans untuk hadir ke pagelaran itu sekalian untuk mengembalikan kartu tadi.

Ternyata di sana saya juga berjumpa dengan bang Irwan, teman kami dari Aceh, juga Ilham dari Riau. Jadilah kami menikmati suguhan penampilan budaya bersama malam itu.

Acara dimulai dengan beberapa sambutan dari petinggi yang jauh- jauh datang dari kabupaten Siak, Riau. Penyelenggara benar- benar bekerja keras untuk menggelar acara ini.

Saya pribadi sangat suka dengan tata panggung, lighting, dan ornamen yang ada di atas sana. Acara disusun dengan teater bercerita tentang "Raje Kecik" yaitu orang yang mendirikan atau pemula di tanah Siak.

Bermula dengan adegan kakek yang menasehati cucu lelakinya yang pulang sekolah terlambat.
Sang kakek bertanya tentang pelajaran yang diperoleh cucu selama sekolah hari itu. Ternyata cucu kesulitan mengikuti pelajaran sejarah, akhirnya kakek pun menceritakan asal muasal tanah mereka, tanah Siak, Riau.

Awal mula terbentuknya komunitas atau daerah Siak adalah dari perang saudara awalnya karena iri yang dimiliki oleh kakak perempuan putri yang akhirnya membuat bualan sehingga terjadi salah sangka bahkan berujung kemarahan yang tersulut fitnah.

Raja kecik yang merupakan anak dari Raja dan permaisuri yang kemudian mempersunting seorang gadis. Menikahlah mereka, namun kakak perempuan puteri ini iri hatinya dan membawa berita bahwa ayah mereka sakit sehingga putri pun diminta pulang.

Adegan berlanjut dengan penampilan sholawat nabi dari tim penari aceh.
Merupakan sholawat tentang keindahan bersabar, keputihan hati.
Tim penatri begitu kompak melantunkan senandung sholawat sembari bergerak cepat senada dengan iringan rebana yang dipukulnya.

Formasi tarian Aceh (sholawat nabi)
Bagi adat melayu yang cenderung berlandaskan ajaran Islam, hendaklah istri meninggalkan rumah atas ijin suami. Sehingga putri pun berkata bahwa ia akan menunggu suaminya pulang terlebih dahulu, karena suami sedang pergi. Namun, akal bulus si kakak tetap memaksa putri untuk pulang tanpa ijin, dan inilah awal fitnah akan ia tujukan pada adiknya. Karena terdesak dan rasa khawatir akan keadaan ayahandanya, putri pun pergi pulang tanpa menunggu pangeran kembali. Ternyata ayahnya dalam keadaan baik- baik saja melainkan sebagai alasan agar serta merta kakak perempuannya dapat mefitnahnya.

Tersebarlah berita yang menceritakan bahwa pangeran membiarkan istri pergi sendiri, juga berbagai macam cerita tak sedap lainnya; bahwa istri tak deiperlakukan baik akhirnya pulang ke rumah orang tua, dan sebagainya. Mendengar desas- desus itu, pangeran pun murka. Istrinya ia ceraikan. Sebagai perempuan baik, putri menerima perceraian itu karena ia merasa memang salahnya pergi tanpa pamit dan membuat pangeran didera fitnah keji itu. Namun, putri tetap menyayangi pangeran raje kecik itu, sehingga ia tak mau menikah dengan orang lain lagi.

Ayahanda putri merasa bersalah dan pergi menemui pangeran, namun karena masih tersulut amarah dan api dendam, pangeran tak menghiraukan pernyataan ayah mertuanya. Kemudian teater kembali terang dengan terpaan cahaya kuning, muncul lah para pemain angklung dan konduktornya serta penyanyi yang diiringinya menyanyikan lagu melayu. Indah sekali.

Persembahan permainan Angklung, lagu Melayu
Penyanyi lagu melayu bersenandung merdu diiringi permainan Angklu
Kakak perempuan putri yang tamak itu memaksa putri untuk menikah dengan pemuda lain yang merupakan pewaris keluarga kaya raya. Karena tak ingin menikah dengan paksaan, putri pun mengajukan syarat yang juga merupakan pesan tersiratnya bahwa ia tak mau menikah dengan siapapun kecuali jika yang dicintanya telah pergi.

AKU HANYA INGIN MENIKAH JIKA KAU BAWAKAN KEPALA RAJE KECIK SEBAGAI MAHARNYA!!!

Kemarahan putri karena paksaan kakaknya itu membuatnya berlafal demikian.
Tak ayal karena sombong, pemuda itupun menyanggupipermintaan putri. Ia berkata bahwa akan bertarung dengan pangeran. Beberapa tari selingan menemani penonton lakon malam itu. Ada tari Kipas Lampung, Tari Muda- Mudi Melyu, Tari Piriang, dan macam- macam tarian daerah Sumatera lainnya. Dibawakan dengan apik sekali dan sangat menghibur, apalagi musik pengiringnya live bukan rekaman; dimana gendang ditabuh mengiringi tarian dan suara merdu penyanyi turut memberikan nuansa indah tarian- tarian malam itu


Pangeran memenangkan pertarungan dg lelaki yang menginginkan putri dan akhirnya mereka kembali bersama lagi
Akhirnya, pertarungan berakhir dan pangeran Raje Kecik lah yang menjadi pemenangnya.
Putri tersedu menangis meminta maaf pada pangeran atas kelalaiannya di masa silam. Pangeran yang juga masih tetap menyayangi putri pun memaafkannya.

Untuk menjalani hidup baru merekapun hijrah ke sisi lain tanah Riau, yang sekarang disebut sebagai kabupaten Siak. Raje kecik dan keturunannya inilah yang pada akhirnya menjadi nenek moyang penduduk asli Siak, Riau.

Demikianlah cerita teater budaya Riau malam itu.
MC menutup rangkaian cara pagelaran budaya Siak, Riau

Terlalu banyak kamera hihiii... mata kita seliweran :P

Penari dan kakek tua. Photographer: Bomans

Proud of you all! Poto bersama pelakon teater dan penari. Pic by Bomans

Rangkaian acara pun berakhir tepat pukul 23.00 WIB.
Setelah mengucapkan selamat pada para pelakon dan penari yang sukses membawakan suguhan malam itu, kami pun pamit pulang. Banyak sekali pendukung acara yang membuat rangkaian acara menjadi sukses, kami penonton benar- benar terhibur dan menikmatinya, terima kasih. Membawa rasa senang dalam hati karena terhibur dan mendapatkan pelajaran sejarah dan budaya daerah Riau. Pagelaran malam itu juga pengobat rindu pada kampung halaman, muik- musik melayu mengingatkan suasana rumah :-)
Alhamdulillah.

Mari kita lestarikan budaya lokal kita!

Terima kasih sudah membaca, semoga menambah khazanah pengetahuan tentang Riau.
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa...


Sabtu, April 25, 2015

Bandung Walk, Asian African Conference Commemoration 2015.

Saat sampai di jalan Merdeka, riuh sorak anak- anak.
Assalammualaikum, Teman- teman.
Masih dari Bandung, berita hangat keriuhan Peringatan 60 tahun Konperensi Asia Afrika 2015 atau disebut juga Asian African Conference Commemoration Indonesia 2015.

Ada banyak rangkaian acara (Side Events) kegiatan ini selain agenda utama yang diselenggarakan di Ibu kota negara Indonesia ini. Kota Bandung sendiri tak ketinggalan, sebagai Ibu kota negara- negara Asia Afrika, ada banyak kegiatan diselenggarakan di kota bersejarah ini.

Kemarin (Jum'at, 24 April 2015), adalah hari puncak kegiatan KAA tahun ini.
Dilaksanakan di Bandung dengan agenda pembacaan deklarasi hasil konperensi dan napak tilas Bandung walk dari hotel Savoy Homann menuju gedung Merdeka.

Napak tilas ini diikuti oleh kepala negara Asia- Afrika dan untuk itu para petinggi ini dijadwalkan akan tiba di kota Bandung pagi hari dan melalui jalur darat maupun udara. Masyarakat disilakan untuk menyambut kedatangan mereka.

Salah satu teman saya yang merupakan relawan rangkaian acara peringatan KAA ini, yakni relawan BURMA dari pemkot Bandung mengajak saya untuk ikut menyambut kedatangan para tamu negara ini di ruas jalan sesuai rute yang diinfokan. Salah satunya jalan Merdeka. Namun, karena beberapa alasan, kami tidak bisa bertemu sesuai janji waktu yang ditentukan. 

Di sana, saya bergabung dengan teman saya, Bomans, Fauzi, dkk.
Kami bersama- sama mengikuti rangkaian penyambutan alias dadah- dadahan kepada tamu- tamu yang melintasi ruas jalan ini Seru sekali bergabung dengan anak- anak sekolah serta para guru mereka; terkenang dulu pun demikian saya lakukan.

Kakak- kakak yang jaga saya hari ini. Dapat saudara baru, satu keluarga, satu Indonesia

Keluarga dari Indonesia bagian Timur, Flores^^


Dalam beberapa kesempatan kami berbincang dengan bapak TNI yang bertugas mengamankan rute perlintasan para tamu. Salah satu kakakku dari Flores ini  nampak berbincang akrab dengan salah satu bapak TNI, menceritakan pengalaman bapak tersebut yang pernah dinas di perbatasan negara.

Sementara, Bomans asyik dengan kameranya membidik kesana- kemari, walhasil kami menjadi model tetapnya hari ini (...hari kemarin dan juga hari besok lagi.. hahhha). Saya juga berbincang tentang banyak hal dengan teman lainnya. Pada kesempatan ini, sembari menunggu tamu lainnya melintas, saya bercakap dengan Bang Edo dan juga Bomans yang telah selesai membidik objeknya.

Topik kami adalah tentang ruang publik. Saya berbagi tentang opini tamu luar dari Uzbekistan yang sempat saya temui pada saat konperensi pemuda asia afrika beberapa hari sebelumnya. Kami sepakat tentang pentingnya menjaga kenyamanan ruang publik di Indonesia.
Bersama adik- adik SMP kota Bandung.

Lalu kami beralih melihat anak- anak sekolah yang memegang bendera nasional bangsa. Komentar tentang rasa nasionalisme, tentang rasa cinta tanah air serta berbagi pengalaman  Bang Edo yang menceritakan bahwa pada saat tugas pengabdian masyarakat- nya dahulu, banyak anak sekolah tak hapal lagu- lagu daerah. Dan kami sepakat tentang pentingnya hal itu, tentang muatan lokal yang harus dijaga dan dikenalkan pada anak- anak untuk memupuk rasa cinta tanah airnya. Tentang penghormatan pada bendera layaknya masa kecil kami dulu, namun bukan berarti mengagungkannya melainkan menghormati perjuangan mendapatkan kebebasan mengibarkannya di tanah merdeka seperti sekarang ini.

Terima kasih, bapak TNI telah menjaga keamanan Indonesia

Kepala negara Viet Nam
Tak lama kemudian beberapa kepala negara melintas, salah satunya dari negara Viet Nam.
Seperti menjadi duta negara, saya senang sekali melambaikan tangan, merekahkan senyum pada mereka yang di dalam kuda besi itu. Menunjukkan bangganya saya menjadi warga negara Indonesia ini.
Edisi dadah- dadahan di pinggir jalan. Seru! ^^

Tak lama kemudian, bapak Presiden Republik Indonesia dengan kuda besinya bernomor kendaraan RI 1 melintas, diiringi pasukan pengamanan dan beberapa bus delegasi mengekor di belakangnya.
Kami berenam, melongok dari bahu jalan dan melambaikan tangan serta bendera. Saya mendapat bendera itu pada saat melintas di depan salah satu guru kordinator di sana. Saya bertanya apa mungkin saya boleh memiliki salah satu bendera, dan pak guru itu memberi saya sebuah bendera nasional bangsa Indonesia. Senang sekali saya melambai- lambaikan bendera plastik itu kala tetamu melintas di depan kami.

Pak Presiden Indonesia dan iringan satuan pengamanannya
Sarapan? Hayoo lah kita ngopi- ngopi dulu. Padahal aku minum Energen doang LOL

Setelah hampir semua telah melintas (dari info bapak TNI yang bertugas), kami duduk- duduk di pinggir jalan dan minum kopi bersama. Info yang kami dapat adalah jalanan ditutup, sementara Fauzi harus pergi sholat Jum'at. Akhirnya kami menuju jalan Braga melalui taman Balai Kota Bandung. Di perjalanan menuju taman itu, kami berpose satu- persatu dengan atribut yang ada di sepanjang jalan Merdeka itu^^ Inilah kami...






Kiri ke kanan: Edo, Dedi, Fauzi, Bomans, Pian.
Di taman balai kota ini, kami mendapat teman baru. Bang Tony dari Riau, yang merupakan relawan BURMA dalam rangkaian acara peringatan KAA ini. Bang Tony bilang mau ada agenda kumpul sore ini, itulah sebabnya ia ada di Bandung. Kedua teman kami lainnya berasal dari luar negeri. Yang paling kanan pada poto di bawah ini, berasal dari Brazil, namanya adalah Gustavo. Dia cakap berbahasa Indonesia, sudah 3 bulan kuliah di UGM sebagai mahasiswa pertukaran di jurusan HI. Yang di depan ini, berbaju biru muda berasal dari Chili, namanya Gonzalo. Gonzalo menggunakan bahasa Inggris untuk becakap- cakap. Ada beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang ia pahami, namun ia lebih leluasa berbahasa Inggris.


Kiri ke kanan: Tony, Edo, Dedi, Pian, aku, Fauzi, Gustavoz, Gonzalo (depan)

Bomans bercakap dengan Gustavo, dan Gonzalo bercakap dengan fauzi, Pian, Bang dedi, Bang Edo, Bang Tony dan aku. Gonzalo menceritakan betapa senangnya ia mengikuti acara pemecahan rekor dunia; 20.000 orang bermain angklung. Dia salah satu peserta pemain angklung tersebut. Ia menceritakan betapa kagumnya ia dengan budaya Indonesia, dan dia terpana dengan jumlah populasi penduduk Indonesia. Katanya, bahkan para peserta pemain angklung kemarin itu sudah hampir 7x lipat populasi Chili yang hanya 3000 jiwa.

Gonzalo tertarik menanyakan bahasa lokal kami, tentu saja kami berenam memiliki bahasa lokal yang sama sekali berbeda satu sama lain. Walaupun ku katakan tadi bahwa Bomans, Edo, Pian, dan Dedi sama- sama berasal dari Flores, tapi bahasanya berbeda. Edo, Pian dan Dedi tinggal di satu kabupaten yang sama, namun bahasa lokal mereka berbeda jua. Gonzalo terkesima, mengagumi bahwa kami semua mampu berbahasa Indonesia dan mengerti satu sama lain. Dari banyaknya bahasa lokal, bahasa Indonesia menjadi alat pemersatu kami dari tiap bagian Indonesia lainnya.

Mendengarkan Gonzalo, warga negara Chili, yang belajar filsafat dan hubungan internasional mengagumi kami yang berbicara menggunakan bahasa Indonesia kepada satu sama lain dan mengerti serta dapat mengkomunikasikannya dengan baik sebagai alat pemersatu, membuat saya tersentak. Betapa hal kecil yang mungkin dianggap remeh bagi WNI kebanyakan ini adalah salah satu alat pemupuk rasa nasionalisme disamping elemen muatan lokal yang kami bicarakan sebelumnya tadi-- sebelum bertemu dengan mereka berdua ini tadi.

Lalu, masih dengan semangatnya Gonzalo menyatakan kekagumannya pada dasar negara Indonesia, Pancasila. Betapa sila pertama, bijak menyatukan perbedaan, menyatakan keesaan tuhan tanpa mengadili milik siapapun. Indonesia negara yang damai dengan segala perbedaan di dalamnya. Dan ia, Gonzalo, warga asing mengagumi betapa solidnya kita.

Bemo berbahan bakar gas

Dalam hati aku tersanjung, sedikit terharu atas kejujurannya menyampaikan pendapatnya, namun terhenyak di saat yang sama.

Betapa tidak, masih ada banyak orang yang hidup dalam kotak mereka masing- masing dan itu semakin terasa. Lalu terbersit pertanyaan dan doa dalam hati;

"Apakah ini teguran untuk kami masyarakat yang mulai mengotak- kotakkan diri?"

"Semoga tak semua fokus pada perbedaan yang ada melainkan fokus pada alat yang ada agar dapat melihat sesuatu di luar kotak masing- masing layaknya pandangan Gonzalo ini."

Terakhir Gonzalo berkata bahwa kami beruntung dan patut bangga menjadi bangsa Indonesia.

Tentu saja!!!
Tentu saja kami bangga, jauh sebelum kita berkenalan tadi, betapa kami bangga sebagai WNI walau dengan kekurangan kami.

Tapi, saya pribadi, mendengarnya bercakap demikian, menjadi semakin bangga.

Saaaangat bangga!

Dia juga katakan bahwa momentum peringatan ini, kita mengingat sejarah, mengingat bagaimana kita bisa melewati kendala dengan bersatu-- bersama.

Oh, Teman.
Terima kasih pada tuhan kita dipertemukan.
Tentu Allah punya agen terbaik dalam kehidupan ini.

Lihat, belajar banyak sekali hari ini dari kegiatan dadah- dadahan  LOL

Mendapat teman, keluarga baru-- Mendapat pembelajaran baru. Alhamdulillah.

Photographer as always XD Potonya jarang muncul, karena kerjanya motoin orang ahhaha

Ma bro yang pake kacamata ini berbakat jadi photo model nampaknya^^


Akhirnya, setelah bercakap- cakap dan mendekati waktunya Fauzi berangkat ke Masjid terdekat untuk jum'atan. Kami berpisah dengan Gonzalo dan Gustavo.

Setelah Fauzi sholat Jum'at, kami makan siang bersama dan sepanjang jalan pulang, photographer berkarya hahhaa...

Inilah hasilnya^^

*walau tak menyaksikan historical walk secara langsung, saya merasakan sejarahnya

Terima kasih sudah membaca.
Semoga menginspirasi.
Last pose, mari pulaaang!

Sabtu, April 18, 2015

Turis lokal di Stone Garden, Padalarang- Bandung

Photo by: Bowmans
SDV Camera Pouch [SDV-7022] - Black

Halo,
Assalammualaikum, Teman- teman.
Kali ini saya mau berbagi pengalaman jalan- jalan di kawasan Jawa Barat.

Siapa tak kenal kota Bandung?
Kota kembang dengan cuaca dingin, dan boleh dibilang masa April ini masih ada sisa- sisa hujan. Kebayang gimana dinginnya???

Well, kota Bandung memang dikenal juga sebagai kota wisata. Ada banyak tawaran tempat rekreasi mulai dari wisata alam, kuliner, bahkan shopping centre- nya yang tersohor itu. Setiap weekend, beragam plat kendaraan dari luar Bandung wara- wiri di jalanan yang kebanyakan jalur sistem satu arah ini.

Plat B paling mendominasi. Tentu saja karena memang kota Bandung cukup dekat dengan ibu kota negara, Jakarta, ini. Pilihan berwisata ke Bandung menjadi nomor 1 bagi warga kota Jakarta, karena selain dekat, Bandung memiliki banyak pilihan seperti yang saya bilang tadi.

Teman- teman yang suka berwisata atau cukup lancar berselancar di dunia maya tentu telah mendengar beberapa daerah wisata di kota ini. Sebut saja pusat perbelanjaannya yang lengkap dan murah, yang menjadi destinasi turis lokal bahkan turis mancanegara, Pasar Baru.

This pic is taken by Bowmans
Pasar Baru memang telah tersohor di dunia luar sana. Pernah ada teman kami dari Swedia, Perancis, dan Amerika berkunjung saat itu, berbinar matanya melihat warna- warni kain cantik yang ditawarkan disini. Pun teman kami dari Malaysia yang sudah tak asing dengan pusat perbelanjaan ini. Pasar Baru menawarkan one- stop shopping center yang merangkul semua kalangan.

Ada juga Mall cantik nan asri Cihampelas Walk (CiWalk), Paris van Java, BIP, IP, TSM, Rumah Mode, beragam Factory Outlet di kawasan Dago serta Riau, dll. Begitu pula dengan wisata kulinernya, Jangan ragukan, Bandung tempatnya, mulai dari makanan tradisional hingga modern tersedia di sini. Wisata alam??? Banyaaaaak...

Ada CIC, Kampung Gajah, Floating Market, Taman Bunga Bogonia, Tebing Keraton, Curug Dago, Curug Cimahi,  De Ranch, Dago Pakar, dan yang lagi hits saat ini adalah wisata alam Taman Batu alias Stone Garden di Padalarang.

Tepatnya di desa Gunung Masigit, kawasan Cipatat, Bandung Barat di atas alam Gua Pawon. Masyarakat lebih mengenal gua Pawon terlebih dahulu ketimbang taman batu ini. Berawal dari ide kakak saya, Neni dan saya sendiri yang ingin jalan- jalan dalam waktu dekat dengan jarak yang dekat pula. LOL

Kakak saya yang lainnya, Nuni, yang merupakan anggota female backpacker menawarkan berwisata alam ke Stone Garden ini. Setelah ditanya- tanya ke teman backpacke-rnya, saya juga mencari tahu dari internet seperti apa gerangan tempat tersebut, kami akhirnya memilihnya menjadi tujuan wisata kami.

Di dalam kereta KRD Bandung raya tujuan Bandung- Padalarang
 
OK. Dari info teman kakak, dan website yang mengulas tempat ini, kami memutuskan untuk berwisata ke sana lantaran dekat dan cukup ditempuh beberapa jam saja dari Bandung. Lagipula kami dapat menggunakan alat transportasi massal yang murah meriah. xixixii

Berbekal info yang kami dapat, akhirnya kami tentukan hari wisata. Kami pilih hari Jum'at, 17 April 2014. Tadinya hanya kami bertiga saja yang akan pergi, yaitu kak Neni, kak Nuni, dan saya. Teringat satu teman kami yang juga suka berwisata alam, akhirnya di larut malam kami mengundangnya ikut serta. Akhirnya bertambah lah anggota wisata alam hari itu. Ada Bomans dan Meidi turut serta bersama kami.Teman kami, Bomans, ini berbakat dalam hal photography. Yeah! pucuk dicinta, ulam pun tiba. Suka wisata alam, suka poto juga. Jadilah kami para modelnya hahahahaa...
Keisengan teman- teman, poto- poto sama aku, padahal lg asyik tidur di kereta. hihihi
Photographer kita: Ludovikus Bowmans




Rute yang kami pilih adalah via KA lokal. Cukup mudah menuju tempat wisata ini.

  1. Beli tiket lokal dari Bandung- Padalarang (Bisa dari stasiun kota Bandung maupun stasiun Kiaracondong). Harga tiket saat kami berwisata hanya Rp4000/org. Memang pada tiket tulisannya "tanpa tempat duduk". Tenang saja karena biasanya selalu ada space atau menunggu sebentar hingga stasiun berikutnya. 
  2. Selama 40 menit perjalanan menuju stasiun Padalarang, kita bisa sambil men-charge HP ataupun Power Bank untuk keperluan nanti hihiii... maklum kita harus siapkan baterai penuh hahaa. Tapi saya memilih tidur XD
  3. Sampai di stasiun Padalarang, kita tinggal keluar pintu gerbang stasiun dan berjalan ke arah kanan sepanjang jalan poros. Tak jauh di depan ada pertigaan, dan di jalur sebelah kiri ada banyak angkot kuning menuju desa gn. masigit. Ongkosnya Rp5000/org saja.
  4. Sampai di Padalarang!!!
  5. Kita akan berhenti di pinggir jalan poros, pastikan sebelumnya pesan ke pak supir untuk berhenti di stone garden. Nampaknya sudah menjadi tempat wisata yang terkenal belakangan ini. Sehingga pak supir sudah paham betul tujuan kita. Ada plang nama dari kayu di sebelah kanan seberang jalan, bertuliskan "Stone Garden". Selanjutnya tinggal mengikuti jalan itu.





Photo by Nuni. We're waiting for Meidi
Mudah sekali bukan? Jalur pulang sama seperti tadi, tapi kita ambil jalan arah sebaliknya menuju stasiun lagi. Tenang, jalan di sini dua arah, jadi tidak memakan waktu berbeda antar pulang dan pergi. Begitu juga dengan rute dan jenis angkutannya; sama layaknya berangkat ke sini.

Karena, itu adalah hari jum'at, dan kami berangkat sedikit kesiangan, kami tiba di desa Gn. Masigit ini saat jemaah hendak sholat Jum'at. Maka, sambil menunggu Meidi yang akan sholat, kami memilih makan terlebih dahulu di warung nasi Sunda yang ada di dekat tempat penjualan oleh- oleh di pinggir jalan ini. Warung makan ini cukup terjangkau dan rasanya juga enak. Cukup dengan uang Rp10,000- Rp15,000 kita sudah makan siang lengkap dengan sayur dan lauknya. Hemmm... Alhamdulillah.


Sampai lah kita. Saatnya hiking!

Inilah jalanan yang harus kita lalui untuk menuju bukit taman batu tersebut. Kondisi jalan sedikit licin, karena tanah liat bercampur air. Bisa dibilang jalanan rusak lantaran memang inilah satu- satunya akses keluar- masuk mobil truk pengangkat tanah dan penambangan batu. Tips dari saya adalah, gunakan baju lengan  panjang untuk melindungi kulit kita, serta sepatu yang nyaman (jenis sepatu kets sangat dianjurkan atau bahkan sepatu khusus mendaki seperti yang dikenakan kak Nuni, berbaju merah, di depan ini). Intinya, alas kaki haruslah nyaman dn memudahkan kita melewati medan seperti tanah licin, berbatu, dan becek seperti ini.

On our way up to the hill- hiking- pic by Bowmans
Setelah melewati jalanan pembuka tadi, kita akan melewati beberapa lokasi penambangan batu dan pembuatan kapur. Kawasannya cukup landai sehingga tidak terlalu menguras tenaga. Perjalanan menuju Stone Garden ini sekitar setengah kilometer saja sebenarnya. Apalagi beramai- ramai, tak terasa sudah sampainya nanti. Jangan lupa bawa payung atau jas hujan, karena cuaca saat kami berwisata ini kerap kali tiba- tiba hujan.

From left to the right: Bowmans, Neni, Meidi, and Nuni. Here are my fams here

Picture in the frame^^ photo and idea by Bowmans
Setelah medan landai tempat pengolahan batu kapur tadi, kita masih harus melalu jalanan sedikit menanjak. Untungnya jalanan tetap kering sehingga tidak sulit untuk dilalui.

Sepanjang perjalanan, suasana perkebunan penduduk menjadi pemandangan yang sedap dipandang, menemani sunyinya perjalanan kami. Entah karena kami kesiangan sehingga tak nampak kelompok lain yang menuju puncak ini.

Terus saja kami menyusuri jalan menuju atas, hingga akhirnya kami temui beberapa pondokan penjual makanan serta minuman ringan. Ini adalah titik terakhir pasokan pangan, so pastikan air yang kita bawa cukup atau perlu ditambah di sini. Karena, di atas kita tidak akan menemui penjual lagi maka dari itu beli lah di sini atau persiapkan dari rumah.
Layaknya makanan di tempat wisata yang jauh dari keramaian, tentu harga jual lumayan tinggi. Saran saya untuk turis lokal wisata backpacker seperti kami ini, baiknya sudah menyiapkan segala kebutuhannya termasuk obat- obatan ringan sebagai persiapan.


Dan tadaaaaa...
Setelah melewati pos security, kita dikenakan pungutan biaya pemeliharaan situs seharga Rp3000/org saja. Kita berjalan sedikit lagi melalui undakan anak tangga yang terbuat dari bambu yang melekat di tanah--- lebih seperti penahan pijakan semata. Maka sampailah kita ke STONE GARDEN!!!
Subhanallah
Dari sini kita mengagumi ciptaan Tuhan dan kuasa-Nya atas alam semesta.
View Stone garden, taken by Me

Other side of the stone carpet. A picture by Bowmans

Hamparan tanah dengan bebatuan baik besar maupun kecil menjadi pemandangan utama tentunya. Sebagai mana namanya, yakni Taman Batu atau Stone Garden.

Melihatnya seolah berpikir,
"Apa yang terjadi hingga batu- batu ini berserakan?"
"Apakah ada raksasa marah layanya dalam legenda itu, hingga ia menendang gunung batu lalu hancur berhamburan?"
"Apakah ada bencana alam di masa lampau sehingga membuatnya berantakan?"
"Atau sebenarnya ini adalah sebuah gunung nan gagah, namun habis digerus industri pertambangan lalu ditinggalkan?"

Itulah yang sempat terlintas di  benakku saat itu. Membayangkan kemungkinan terakhir aku sedikit bergidik ngeri. Jika saja memang itu penyebabnya, Mashaallah. Atas kuasa-Nya masih berdiri kokoh, dan atas izin-Nya manusia dapat hidup bernaung pada manfaatnya. Kokohnya bebatuan ini membuatku bersyukur mendapat kesempatan melakukan wisata alam ini. Benar- benar indah bukan kepalang. Kita menghabiskan waktu mendaki dari batu yang bawah hingga ke atas.

Mengabadikan momen indah dengan pemandangan cantik padang bebatuan.

Girls team. There are only 5 people

Bang Boman kasih pinjam kameranya untuk aku belajar^^

Belajar memotret objek dibantu Boman

Syukur atas nikmat kesempatan, kesehatan.









Seperti di atas awan :)






Kak Neni, Kak Nuni, saya, dan Meidi







Pose dengan guru memotretku, Boman. XD

Itulah cerita 5 turis lokal dengan tujuan alternatif wisata alam di Bandung.
Semoga cerita pengalaman kami ini memberi manfaat bagi turis lainnya ^^
Oya, kalo kamu pake kamera pocket kaya aku, bisa nih pakein camera pouch SDV ini, bagus deh kualitasnya.
SDV Camera Pouch [SDV-7023] - Coffee

Terima kasih.
Wassalam.
COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES