Kamis, Februari 26, 2015

TAJUK: Demo Nelayan PANTURA di KKP hari ini.

Hari ini (26/2/2015) ada banyak tajuk berita di televisi nasional.
Terkadang ada berita yang berlarut tanpa ujung sehingga terkesan macam sinetron.
Untuk orang awam seperti saya, tentu saja itu terkadang membosankan LOL

Beberapa hari sebelumnya kisruh pernyataan blunder dari Perdana Menteri Australia, Tony Abbott yang mengungkit bantuan kemanusiaan untuk bencana alam Tsunami di Aceh tahun 2004 silam.
Hal ini menyulut kekecewaan rakyat Indonesia tentunya. Betapa dari sisi manapun, bantuan kemanusiaan dari negara jiran Indonesia ini hendak disetarakan dengan kesalahan penyusup narkoba asal mereka yang hendak dihakimi di Indonesia tentulah rakyat tak sepaham dengan pemikiran PM Australia ini. Hukum Indonesia jangan diintervensi!

Berita ini hangat dibicarakan di berbagai situs berita. Inilah salah satunya http://news.okezone.com/read/2015/02/22/337/1109004/warga-aceh-siap-kembalikan-dana-bantuan-australia-saat-tsunami



Aksi kompak rakyat Indonesia mengular dari Sabang sampai Merauke; Aksi kumpul koin untuk pemerintah Australia. Pemberitaan di TV menayangkan sebuah sekolah dasar yang para siswanya rela memberikan recehan yang disisihkan dari uang saku mereka untuk aksi ini, lain lagi pemberitaan di sebuah restoran WNI keturunan Tiongkok di Medan, yang melakukan aksi galang koin untuk Aussie dengan Ang Bao yang diberikan pada maskot dari restoran yang mengenakan kostum dewa rejeki. Semua WNI bahu membahu merespon pernyataan dari pihak Australia yang sangat mengecewakan itu. Dalam laman di atas tadi juga disebutkan bahwa sebenarnya:
"Pernyataan Abbott dinilai bukan hanya melukai korban tsunami, tapi juga warga Australia yang ikhlas membantu."
Tentu saja, ada banyak orang kecewa atas pernyataan beliau, baik warga negara Aussie itu sendiri. Benarlah bahwa  lidah tak bertulang, apa daya jika terlanjur terluka. Agak mereda pemberitaan itu, namun aksi kumpul koin untuk Aussie tetap berlangsung.

Pagi ini, tajuk berita mengangkat kekecewaan para nelayan Pantura yang mengadakan demo di depan kantor KKP Jakarta. Rombongan demonstran dari kabupaten Pati, Rembang, Tegal, Batang, Brebes, Indramayu, dan Cirebon berbondong mendatangi kantor ibu menteri KKP, Ibu Susi.

Bermacam atribut demo teah disiapkan begiru juga yel- yel orasi  khas demonstran menggema.
Ada- ada saja atribut demo yang berhasil membuatku tersenyum pagi ini, antara senyum geli juga miris. Tertulis pada sebuah media tulis yang dipegang oleh salahsatu demonstran singkatan nama ibu Susi; Sulit Urus Surat Ijin.

sumber: google.com

Ya, hal inilah yang para demonstran coba untuk komunikasikan dengan ibu menteri.

Tentang IZIN menangkap ikan. Memang semenjak dilantiknya ibu Susi sebagai menteri KKP RI ini ada banyak pemberitaan menarik. Saya pribadi sebenarnya bukanlah orang yang memihak kanan ataupun kiri, namun juga bukanlah orang yang berada di tengah- tengah. Well, katakanlah cenderung skeptis.

Ketika orang- orang membicarakan betapa tak layaknya tingkah sang ibu menteri di Istana negara saat dilantik, saya menghargainya sebagai individu. Ups, jangan serta- merta teman- teman lantas menilai saya sebagai seorang aktivis HAM^^ saya bukan siapa- siapa. Saya hanya WNI yang baru beberapa tahun memegang licence sebagai WNI sah dengan kartu pengenal warga yang dinamakan KTP itu. Bukanlah ahli politik, hanya generasi penerus yang mencoba melihat dan memahami apa yang sedang terjadi di negara tersayang ini; bukan untuk memihak kepentingan ormas politik atau agama manapun, hanya melakukan yang diwasiatkan seorang teladan: IQRA'

Saya membaca apa yang terjadi, sehingga 'lucu' saja melihat kisruh ini.

Tadi di TV juga ada demonstran yang diwawancara, dengan berapi- api beliau meluapkan betapa ia kecewa atas larangan lainnya selain larangan penggunaan kapal cantrang, yaitu larangan penangkapan lobster petelur. Bapak itu menyatakan bahwa hal itu merugikan nelayan kecil, karena sayangnya sudah dapat lobster tapi karena lobster itu adalah lobster petelur maka harus dilepas ke laut lagi. UPS...

Saya heran, yah tapi memang saya bukanlah nelayan atau orang yang merasakan kesulitan mereka. Tentu saya tidak paham betapa mungkin sulit sekali saat ini mereka mendapat ikan, hingga sayang rasanya jika mendapat perolehan maka harus dilepas kembali. Well, kita tidak bisa berkomentar jika tidak mengalaminya bukan?

Laut kita sedang sakit. Itu yang saya tahu. Mungkin karena kita sempat terlena akan penggunaan beberapa alat yang tidak semestinya. Tadinya mudah saja bahkan mungkin berlimpah hasilnya dengan bantuan alat itu, tapi waktu tidak akan berbohong. Alat- alat itu tidak lagi memudahkan, dengan alat itu pun sekarang tidak banyak lagi perolehan para nelayan ini. Apalagi tanpa bantuan alat 'itu'??? kebayang susahnya para nelayan ini :-(

Kebijakan yang sedang disosialisasikan adalah upaya 'penyembuhan' sakitnya laut alias perairan kita.
Tentu saja sulit membuat ayam kembali terbang, sudah terbiasa memperoleh makanan  di tanah sebagai hewan ternak, tak terbiasa lagi terbang berlama- lama. Inilah fenomena yang sedang terjadi di tanah air kita. Butuh waktu, ketelatenan, dan komitmen bersama. Lagi pula, perlu seirama antara sosialisasi perubahan kebiasaan dengan sarana penggantinya.

Berharap nanti para nelayan ini mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan keluh- kesahnya dengan ibu Menteri serta menemukan titik temu untuk permasalahan ini.

Lagi- lagi, sebagai awam yang mencoba memahami sesuatu yang tengah terjadi, saya tidak akan serta- merta percaya dengan pihak manapun. Harapan saya semoga para nelayan nan bebudi ini benar- benar melakukannya karena merasa perlu melakukannya bukan karena ada dorongan dari pihak yang mengambil kesempatan untuk menyisipkan kepentingan bus*knya (ups...)

Tentu ada Pro dan Kontra untuk pemberitaan ini. Misalnya seperti yang telah disampaikan oleh salahsatu teman kita dilaman ini http://regional.kompasiana.com/2015/01/29/kebijakan-larangan-pukat-hela-dan-pukat-tarik-think-again--704513.html

Yang bukan nelayan tentu tak bisa memberi penilaian sepihak saja tentang demo yang dilakukan hari ini. Saya pribadi mendukung jika para nelayan memang merasa perlu menyampaikan 'unek- unek' nya yang memang saya nilai perlu jika menilik dari tulisan kang Irsyad diatas.
Suatu kebijakan tidak akan dengan mudah mendapatkan tempat terlebih tanpa ada solusi.
Para nelayan butuh solusi untuk kebijakan baik ini. Niatan baik akan bersambut baik jika sudah seirama Toh? Mungkin hari ini bisa diperoleh sebuah kesepakatan untuk mencapai titik terang. Amiiin.

Tapi, sebenarnya memang peraturan ini (larangan penggunaan beberapa alat tangkap; pukat hela, pukat jaring dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2/PERMEN-KP/2015), sudah ada sejak lama seperti yang disampaikan oleh ibu menteri dalam laman berita berikut :
“Cantrang ini sebenarnya sudah dilarang sejak 1980. Hanya, beberapa daerah masih memperbolehkannya,” ujar Susi kepada Tempo di gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis malam, 12 Februari 2015." (sumber: tempo.co)
Saya yang juga awam dengan alat- alat ini akhirnya mencari tahu mengapa hal ini dilarang, begitu berbahaya kah? Kenapa nelayan PANTURA? Hanya beberapa daerah saja yang boleh pakai? Daerah mana? Kenapa? Apa dasarnya?

Banyak pertanyaan saya atas tajuk berita ini, sehingga sebagai orang yang bukan di pihak mana- mana saya pun tertarik untuk mencari tahu. Akhirnya saya sampai pada sebuah laman yang menjelaskan tentang pukat hela. merujuk Pustaka : Permen Kelautan dan Perikanan Nomor. PER.06/MEN/2008 dan Bentuk Baku Kontruksi Pukat Hela Arad SNI 01-7233-2006 BSN.

Sila klik link berikut untuk lebih jelas tentang Permen diatas:
http://mukhtar-api.blogspot.com/2008/09/mengenal-pukat-hela.html


Teman- teman dapat mempelajari lebih lanjut tentang alat ini dan lihatlah! Peraturannya sudah ada dan resmi sejak tahun 2008 lalu. Perkara mengapa selama ini menjadi kebiasaan para nelayan PANTURA tentu "mungkin" saja karena kurangnya pengawasan akan pemberlakuan aturan hukum ini. Artinya apa???
Teman- teman lebih bijak menarik kesimpulan tentunya ;-)

Saya mendoakan agar ada titik terang komunikasi hari ini disana.
Lestarikan alam Indonesia.

Selasa, Februari 24, 2015

Klab Nihao SMKAA bersiap meyambut Milangkala

menyiapkan papercut untuk katalog

Inilah hari persiapan sebelum MILANGKALA alias HUT SMKAA.
Berikut adalah cerita Jum'at, February 13, 2015.
Semua anggota klab berkumpul di sekretariat SMKAA untuk briefing persiapan kegiatan.
Selain ini, hari tersebut juga menjadi hari bagi para anggota klab menyiapkan keperluan stand masing- masing.

Kami berbagi tugas, mulai dari mempersiapkan musik latar belakang untuk stand kami.
Untuk hal ini, Yunir diberikan tanggung jawab.
Saya menyiapkan keperluan papercut dan menyiapkan beberapa bentuk untuk display katalog yang akan menjadi item pameran nantinya.

Habib bertugas mobile karena ia memiliki kendaraan sehingga dapat bepergian dengan leluasa terutama jika kami memerlukan sesuatu untuk tambahan keperluan, maka Habib lah yang akan berangkat membelinya hihhii...
Foto candid by Yunir. Saat Habib dan saya makan siang^^

Ini adalah shio tahun ini: Yan alias kambing

Di pojok ruangan dihiasi balon MKAA, karena ruang ini adalah pojok membaca untuk anak- anak nantinya

kreasi 1 oleh Kak Della
made by Kak Eno
Hasil kreasi kak Della



Buatan Kak Della
Snow flake buatanku


Teratai ^^made by me

papercut persegi dan gantungan milikku, serta karakter double happiness karyaku

Senin, Februari 23, 2015

Lai! Lai! Lai! Booth Klab Nihao di Pekan Literasi Asia Afrika 2015.

Selamat malam, Teman- teman.
Dalam kesempatan ini, saya mau berbagi cerita saat teman- teman klab dan saya berpartisipasi pada MILANGKALA, Hari Ulang Tahun Sahabat Museum Asia Afrika. MILANGKALA bertepatan dengan hari pertama rangkaian Pekan Literasi Asia Afrika, Sabtu, February 14, 2015.

Dalam program literasi ini, semua orang bebas datang untuk membaca dan mengikuti rangkaian acara lainnya, seperti melihat penampilan seni dari beberapa pengisi acara, ikut kegiatan bedah buku dan diskusi film dokumenter serta mampir di stand- stand literasi negara tetangga (Korea, dll) bahkan ada stand yang mengajarkan serta mengenalkan kita dengan huruf braille. ada juga stand dari Pos Indonesia yang menyediakan jasa pembuatan perangko dengan gambar kita sendiri, juga stand dari kementerian luar negeri dengan begitu banyak buku di setiap sudut.

Disediakan pula sudut membaca untuk anak- anak. Tempatnya lesehan, sangat nyaman dengan karpet biru dan beberapa meja persegi di sisi kiri ruangan. Dibatasi oleh pagar bambu rendah sebagai penanda bagian ruangan yang digunakan sebagai pojok internet. Terdapat 4 buah PCs dengan Operation System Ubuntu. Anak- anak sekolah tampak riang dan santai menikmati buku bacaan masing- masing di pojok- pojok ruangan. Televisi ukuran besar diletakkan di tengah ruangan, tanpa suara namun animasi gambarnya mampu menceritakan ceritera dongeng fabel yang sedang dimainkan.

Sementara itu, di pelataran timur MKAA luar juga ada beberapa rak buku dan tenda dengan kursi- kursi panjang sehingga semua pengunjung dapat membaca dengan nyaman sambil menikmati rangkaian kegiatan diluar ini. Ada sebuah panggung kecil dengan berbagai penampilan silih berganti mulai dari pembacaan puisi dengan bahasa Perancis, menyanyi sambil bermain gitar, dan lain- lain. Penampilan dari masing- masing klab budaya yang bernaung dalam komunitas sahabat museum konperensi Asia afrika tadi. ada klab menggambar, young crafter, maghribi, esperanto, nihao, heiwa, global literacy, young announcer, Public educator Corps dan lain sebagainya. Selain menampilkan pertunjukan secara bergantian di panggung itu, setiap klab memiliki stand dan siap menjamu para pengunjung program pekan literasi ini.

Salah satunya adalah stand klab kami: KLAB NIHAO.
Welcome to our booth^^
Pengunjung tertarik mempelajari kaligrafi Cina (Shu fa)

Stand kami dihiasi dengan pernak- pernik khas negara bambu. Meriah dengan warna dominan kuning dan merah. Para anggota klab pun menggunakan pakaian bernuansa sama. Memang kami sudah janjian biar kompak^^

Kami menyediakan souvenir seperti gantungan lampion mini, gantungan karakter Cina, dan paper craft yang dijual per buah. Untuk souvenir, teman- teman bisa membawa pulang dengan harga Rp3000 dan kertasnya seharga Rp1000/ lembar. Dengan membeli kertas kerajinan ini, teman- teman langsung diajarkan cara membuat seni papercut yang identik digunakan sebagai aksesoris dalam budaya Tiongkok ini dan mendapatkan permen buah- buahan. Kami menyediakan gunting agar teman- teman dapat langsung mengikuti demo yang kami fasilitasi. Begitu pula dengan seni kaligrafinya. Kak eno, salahsatu tutor klab kami baru saja pulang dari Guilin, China. Sebuah oleh- oleh kain untuk berlatih menulis kaligrafi ini menjadi salahsatu ikon stand kami. Banyak pengunjung yang antusias belajar menulis kaligrafi di media ini. Memang unik medianya, sebuah kain khusus untuk berlatih menulis. Tintanya adalah air saja. Tentu berwarna hitam layaknya tinta tulis. Mengapa bisa demikian? karena kain yang dipergunakan adalah kain khusus dengan bagian bawah berupa bahan beludru merah. Dengan tinta air dan media kain ini, teman- teman dapat berlatih tanpa harus menghabiskan banyak kertas dan tinta. Kaligrafi yang sudah digoreskan pada media ini akan segera hilang karena angin. Jadi dapat segera ditulis ulang. Sungguh menyenangkan memang^^
Untuk pengunjung yang datang, kami juga menyuguhkan kue keranjang atau dikenal dengan dodol Cina serta permen buah- buahan secara cuma- cuma.

Ada banyak sekali pengunjung yang tertarik mampir ke stand kami, baik sekadar untuk melihat- lihat atau mencicip makanan, hingga berpartisipasi belajar menulis kaligrafi karakter Cina. Pengunjung juga ceria belajar seni papercut dengan demo singkat nan mudah dari kami. Senang rasanya berbagi keahlian walau kami bukanlah para ahli^^ Beberapa hari sebelumnya kami diajarkan oleh Tyas Lao she dan Eno Lao she tentang hal ini.

Ada dua orang kakak beradik, anak umur sekolah yang begitu antusias belajar seni papercut. Nampk senang sekali mereka saat membukan kreasi guntingan kertasnya dan menemukan pola- pola potongan indah dari lipatannya.

Whusss!!!
Seperti magic ketika dibuka, kertas memberikan kebahagiaan. Hasil kreasinya mengukirkan senyuman indah bagi kedua bersaudara itu. Kami semua ikut senang. Tak terkecuali pengunjung dewasa yang begitu bersemangat membuka hasil kreasi guntingannya.

Tak ada kata gagal, karena memang filosofinya adalah bersabar, berhati- hati, dan mengikuti aturan dalam mengerjakannya, maka apapun bentuk guntingannya keajaiban hasilnya. Hanya satu kata: INDAH.

Dua bersaudara menunjukan papercut kreasinya
Salahsatu pengunjung mengisi daftar kunjungan

Di atas meja stand klab Nihao juga dipajang beberapa mata uang asli negara Tiongkok, pembatas buku hasil seni papercut, gantungan kunci, amplop ang bao, sumpit, buku tentang Tiongkok, display katalog bentuk- bentuk papercut serta kaligrafi kata mutiara dengan karakter Cina.


Katalog Display seni papercut buatanku^^ menjadi salahsatu barang pameran



Tyas Lao she mengisi waktu pertunjukan klab Nihao dengan mengenalkan kegiatan klab pada para pengunjung



Kiri ke kanan: Yunir, Septian, saya (Alma)



Tian memberikan demo seni papercut kepada salahsatu pengunjung

Hasil papercut kreasi pengunjung ini sangatlah indah

Septian dan Tyas Lao she mendampingi pengunjung yang berhasil membuat karya papercut-nya sendiri

Li Lao she dan Eno Lao she sedang mendemokan menulis kaligrafi

Pengunjung belajar menulis kaligrafi

Novi mendampingi 2 pengunjung yang senang karena karya papercut-nya berhasil

Kak Eno, Kak Tyas, Yunir, saya (Alma), Habib, Septian
Di gambar pertama teman- teman akan melihat anggota klab nihao lainnya, yaitu Novi, Nonny, dan Fani. Inilah kami dari klab Nihao, Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika.

Terima kasih telah membaca^^
Jangan lupa share dan komentarnya ;-)

Sabtu, Februari 21, 2015

SMKAA Klab Nihao. Edisi kunjungan ke Galeri Sejarah WNI keturunan Tiongkok

 
Welcome to cai hua ju li je jinian kuan.
Selamat siang, Teman- teman. Kali ini saya mau berbagi cerita tentang kunjungan Klab Nihao Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika Bandung ke galeri sejarah warga negara Indonesia keturunan Tiongkok di Bandung.

Kunjungan ini merupakan salahsatu program dari klab nihao.
Klab nihao itu apa???

OK, pertama- tama saya perkenalkan terlebih dahulu tentang klab nihao.
Klab Nihao adalah salah satu klab budaya yang ada dalam SMKAA alias Sahabat Museum Asia Afrika. atau Friends of Museum of the Asian- African Conference.

Berikut pengertian bakunya dari official website MKAA:
"Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika, atau yang disingkat SMKAA (EN: Friends of Museum of the Asian-African Conference) adalah sebuah organisasi internasional yang anggotanya adalah komunitas di seluruh Asia-Afrika dan komunitas pemerhati Asia-Afrika." (sumber:http://asianafricanmuseum.org/en/)

Nah, Teman- teman sudah tahu tentang SMKAA kan?^^
Klab Nihao adalah klab budaya Mandarin, jadi kami semua belajar budaya Mandarin mulai dari bahasanya, sejarahnya, seni kerajinannya bahkan beberapa olahraga tradisionalnya.

Selama satu semester kami belajar bahasa Mandarin bersama Tyas Lao she.
Cici tyas sabar mengajar kami, karena kebetulan saya dan teman- teman saya yang maasuk dalam kelompok nihao 1 ini masih agak kosong tentang kebudayaan Tiongkok. Kami berangkat dari macam- macam latar belakang saat memutuskan untuk ikut mendaftar dalam klab ini.

Saya pribadi, memang sejak bangku undergraduate study ingin sekali belajar bahasa Mandarin.
Di kampus almamater saya, UNSRI, ada balai bahasa yang menyediakan fasilitas belajar bahasa Mandarin. Lantaran lokasi kampus dengan pemukiman saya cukup dekat, akhirnya saya mendaftarkan diri toh saya sendiri memang sangat ingin mempelajarinya. Sayang beribu sayan, hingga saya selesai kuliah jumlah siswa untuk kelas bahasa Mandarin ini tidak mencapai jumlah yang ditetapkan sehingga kelas tidak dapat diadakan.

Untunglah, saat saya sedang bermukim di Bandung ini, saya berkunjung ke beberapa museum yang ada di kota lautan api ini, salah satunya berkunjung ke MKAA (Museum Konperensi Asia Afrika). Saya juga diberi tahu oleh teman sya tentang adanya SMKAA, dan kami semua ramai- ramai mendaftar. Mengetahui ada klab budaya Mandarin, tentu saja saya senang bukan kepalang. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Hal yang saya nanti- nanti, bertahun selama saya study di almamater saya dahulu. Akhirnya saya mendaftar di klab ini.

Kunjungan ke galeri sejarah WNI keturunan Tiongkok ini dilaksanakan pada hari Minggu, 8 Februari 2015 bersamaan dengan hari briefing KI Bandung 3 (sebelumnya sudah saya ceritakan). Memang klab kami berkumpul tiap hari minggu pagi pukul 08.30 WIB untuk belajar bersama. Ada beberapa pertemuan yang sayangnya harus saya tinggalkan karena hal lain yang sama pentingnya, tapi selalu sebisa mungkin saya akan hadir karena saya menyukainya, kecuali jika saya berhalangan sakit. Pernah waktu itu saya terlambat, suasana Minggu pagi di Bandung tak pernah lepas dari macet. Terlambat sedikit, sebuah angkutan umum DAMRI akan sulit ditemukan, lama menunggu moda itu maka saya harus menggunakan angkutan umum lainnya yang memiliki rute mendekati lokasi MKAA di Jl. Asia- Afrika itu. Kadang menggunakan angkutan jurusan Kalapa, atau bahkan jurusan Stasion Bandung, sehingga saya harus berjalan lumayan lah  menuju MKAA.

Tentu ada angkutan lain yang bisa meneruskan perjalanan saya dari Stasion menuju Jl. Asia- Afrika atau mendekatinya tanpa harus jauh berjalan kaki. Tapi, one way system di kota Bandung ini membuat rute semakin jauh. Jadilah, jalan kaki adalah pilihan terbaiknya. Lagi juga saya sudah terbiasa berjalan kaki. Toh, inilah satu- satunya olahraga yang bisa saya lakukan disela kegiatan yang padat dan rasa enggan bergerak juga hihiii^^ Jalan kaki bukanlah halangan bagi saya pribadi.

Paginya saya tidak bisa hadir di kelas terakhir karena harus hadir briefing KI Bandung 3.
Namun, saya memastikan untuk dapat hadir pada kunjungan ke galeri sejarah ini. Rencana akan berangkat dari MKAA tepat pukul 12.00 WIB. Maka, setelah selesai kegiatan KI tadi, saya segera meluncur ke Jl. Braga yang dekat dengan MKAA. Saya harus sedikit berlari dari Braga hingga MKAA, Alhamdulillah tepat saya sampai, teman- teman sedang bersiap berangkat menuju mobil. Saya tepat waktu :)

Sesampainya disana, saya sedikit bingung, karena yang saya lihat adalah tampilan gedung rumah sakit. Ternyata itu bukanlah rumah sakit melainkan rumah duka. Di lantai 2 rumah dukalah lokasi galeri sejarah ini. Suasana ramah dan nyaman nan bersih menyambut kami.

Cici Tyas bertemu Li Lao she yang kemudian dengan ramah menyapa kami juga menanyakan beberapa pertanyaan materi pelajaran untuk melihat kecakapan kami. Di depan galeri ada 3 buah meja bundar dengan catur tradisional Tiongkok di atas mejanya. Kami belajar sekilas tentang catur itu juga diberi tahu bahwa catur tersebut akan masuk dalam cabang olah raga nasional nantinya.

Kami diajak masuk kedalam galeri sejarah, layaknya dalam ruang pameran tetap di MKAA, di dalam ruang galeri ini terdapat banyak penjelasan tentang tokoh- tokoh WNI keturunan Tiongkok yang banyak berkontribusi dalam pembangunan Indonesia disegala aspek, hingga aspek seni dan olahraga.

Diawali dengan peta awal mula masuknya orang- orang Tiongkok asli ke Nusantara (Indonesia), peta penyebarannya di seluruh kawasan Nusantara, hingga perkawinan silang dengan pribumi Nusantara lalu melahirkan WNI keturunan Tiongkok. Dipandu oleh Lao she dari galeri ini, kami banyak belajar tentang rasa nasionalisme, betapa bangganya para warga negara Indonesia ini juga saya pribadi sedikit merasakan rasa penyesalan tentang beberapa tragedi di masa lampau.

Galeri sejarah ini mengabadikan tokoh- tokoh keturunan Tiongkok yang bangga sebagai warga negara Indonesia. Lao she mengatakan bahwa senang sekali ada klab budaya seperti, karena Indonesia yang kaya ini rentan dipengaruhi orang luar. Bahwa banyak orang yang ingin berbhinneka tunggal ika selayaknya Nusantara ini. Lao she berkata bahwa kita harus hidup berdampingan, saling menjaga dan menghargai budaya yang ada.

Sebagai pemuda, siapa tak mengenal tokoh Soe Hok Gie.
Kisahnya menjadi adalah salah satu kesukaan saya dalam galeri sejarah ini. Tak mau dibedakan, keturunan manapun semua adalah warga negara Indonesia. Saya pun demikian^^


Berpose di depan kisah pejuang reformasi

WNI keturunan Tiongkok dalam perumusan Sumpah Pemuda

Pahlawan Olahraga cabang Badminton

Tentang budaya Cap Go Meh (15 hari setelah Imlek)

Bermain catur tradisional Tiongkok



Li Lao she memberikan cindera mata untuk Lao she pimpinan galeri
Kiri ke kanan: Cici Tyas, Alma, Septian, Yunir, Li Lao she, Habib, Noni, Novi

Itulah hari kunjungan yang sangat bermanfaat bagi kami. Belajar budaya dan sejarah sekaligus.
Terima kasih telah membaca^^

Jumat, Februari 20, 2015

Evaluasi untuk berbagi inspirasi


Rangkaian acara selanjutnya adalah Evaluasi.
Setelah berbagi bersama adik- adik di sekolah dasar yang telah ditargetkan.
Para relawan inspirator, para relawan photographer/ videographer serta para relawan panitia Kelas Inspirasi Bandung 3 berkumpul bersama di Aula Museum Asia Afrika untuk saling berbagi cerita dan pengalaman yang diperoleh dari sekolah masing- masing.

Disini semua relawan kembali mengisi daftar hadir melalui PC sebagaimana hari briefing untuk mendapatkan nomor kelompok baru. Maka akan muncul kelompok baru dari berbagai kelompok berbeda sebelumnya.

Kita saling berbagi menceritakan pengalaman dan kesan masing- masing di sekolah target masing- masing-- belajar dari satu sama lain.


Setelah itu, 20 orang dari perwakilan kelompok evaluasi tadi menjadi wakil para relawan untuk menyuarakan ikrar untuk terus dan tetap menginspirasi serta:

MEMBANGUN MIMPI ANAK INDONESIA

Sumber: Instagram #KIBdg3

Inilah cerita singkat tentang program yang sangat hebat ini.
Semoga kedepannya akan ada banyak lembaga non profit yang terus menyuarakan kebaikan.
Lihatlah ada banyak orang mendaftar menjadi relawan.
Di tengah keadaan politik ini, masih banyak warga negara Indonesia yang bersatu- padu membangun mimpi anak Indonesia, para generasi penerus bangsa tercinta ini.

Jayalah, Indonesiaku!
Jayalah, Negeriku!
Jayalah, Tanah airku! Tanah tumpah darahku!

Terima kasih sudah membaca artikel ini :-)
Semoga bermanfaat.
Ambillah kebaikannya, tinggalkan kejelekannya^^
COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES