Selasa, Agustus 21, 2018

Tips Agar Ibu-ibu (tetap) Tampil Cantik

Sepatu wedges wanita cantik


Assalamualaikum. Hihihi. Kok udah ketawa duluan ya liat judul postingan kali ini. Judulnya 'Tips Agar Ibu-ibu (tetap) Tampil Cantik".

Secara kan ya sekarang aku juga udah masuk kategori buibu alias ibu-ibu. Sering kali wanita yang sudah menikah apalagi sudah memiliki anak, lupa memperhatikan penampilannya.

Contohnya ga usah kemana-mana deh. Aku aja nih contoh yang terpampang nyata. Pas udah punya anak kok ya rasanya agak males meluangkan waktu untuk urus penampilan.

Padahal yah, dulu pas masih berduaan sama Paksu, tiap sore sambil nungguin doi pulang dah cantik. Dandan iya. Trus juga milih baju biar enak diliat.

Waktu lagi hamil Baby F pun begitu. Malah makin getol sama perawatan. Entah kenapa ya mungkin karena hormon juga, pas hamil tuh kulit lebih cerah. Ga ada jerawat juga. Jadi aja makin doyan dandan.

Sempet-sempetnya ikut challenge makeup pulak. Hahhaa...


Baca:

PINKISH BIRTHDAY MAKEUP LOOK: 1 YEAR ANNIVERSARY COLLABORATION BEAUTIESQUAD



Herannya, pas udah ada Baby F, udah mulai berat tuh buat gitu-gituan. Tepatnya pas si imutku ini dah makin aktif. Mulai merayap, trus merangkak, dan sekarang sibuk berdiri pegangan gitu. Pokoknya kita udah kaya kejar-kejaran aja gitu.

Nah, semenjak itulah kadang Paksu pulang malah blom mandi. LOL

Bahkan, saking ga kepegangnya sama bayi unyu itu, aku ga masak buat makan malam. Request makan di luar. Untungnya doi pengertian. Alhamdulillah.

Tapiiiiii, pernah doi ngomong, intinya menceritakan kegiatannya pas di kantor. Jadi, para bapak-bapak ngobrol bahas penampilan istrinya yang berubah sejak jadi buibu.

Yang bikin aku jleb adalah, Paksu ternyata ikut nyamber dan bilang, 'Iya, istri ya gitu juga. Dulu sebelum ada anak, tiap pulang ke rumah, dianya udah rapi, wangi, cantik. Sekarang udah ga sempet lah."

Uhuk!
Gimana buibu? Jleb banget kaaaaan???

Trus dalem hati mulai deh. Bapernya Bapernya wanita keluar.

Ish lah. Ternyata Papa gitu. Berarti udah ga suka ama aku. #drama

Hahhaa...
Perempuan ya bu. Biasa baper dulu nanti baru logisnya jalan. Dan setelah ditelaah lagi ceritanya beliau, aku jadi senyum-senyum sendiri.

Iya juga ya, pas kilas balik ya emang ada perubahan. Tapi, ga sampe tiap hari kucel kok. Adalah hari yang dandan juga. Kan itu juga kalo pas Baby lagi nempel banget ga mau ditinggal. Makanya jadi ga bisa ngapa-ngapain.

↑↑↑↑ Tuh lah aku. Sadar siiiih, tapi masih ngeles aja bikin pembelaan. Hahaa...

Ada yang samaan kaya aku??? LOL

Well, manusiawi ya. Semoga bisa saling mengingatkan dengan cara yang baik aja keduanya. Biar langgeeeng sampe tutup usia. Eaaaa...

Itulah akhirnya aku share postingan ini. Untuk berbagi pengalaman menjawab komentar bapak-bapak itu.

Hey!!!
Buibu ini bukannya ga mau dandan atau rapi kaya dulu loh. Tapi ya kadang keadaan memang bikin rasanya dandan tuh ngabisin waktu. Hahaha...

So, pakbapak, tolong bantu ingatkan dengan manis ya. Ga usah sampe digosipin rame-rame gitu. Kan maluuuu...

(((Suara hati)))

Sejak itu, aku makin getol dandan (Pas faraz bisa kerjasama, baca: ga rewel). Aku yang tadinya pake gamis doang (lebih ke arah daster sih, tapi bukan bahan batik juga) dan jilbab langsungan, dengan alasan ga ribet. Udah punya anak.

Akhirnya, mulai melirik baju gamis (yang modern - lagi). Biar enak diliat kan. Utamanya buat pas pergi ke luar sih. Kalo masih di lingkungan rumah, masih pake gamis n jilbab langsung aja. Hehehe.

Trus juga, yang tadinya sepatu tinggi digantung aja. Udah pensiun. Akhirnya dilirik lagi dan mulai melirik sepatu wedges wanita di toko online. Buat ganti-ganti gitu.

Buatku yang berpostur 'imut' gini, sepatu wedges wanita tuh sangat membantu. Misal nih ya, penampilan dari baju dan make up udah 80% ditambah pake sepatu wedges wanita langsung naik jadi 100%. Hohoho.

Sepenting itu bagiku pake sepatu wedges wanita.  So, ini adalah salah satu tipsnya biar buibu tetap tampil cantik ya.

Jangan lupa juga, penting buat belajar basic make up.  Biar pas diajak kondangan atau jalan, doi merasa puas karena punya istri terawat. Selain bikin kita PD juga karena tampil cantik menawan, ternyata jadi pahala kaaaan.

Itulah tipsnya agar Ibu-ibu tetap tampil cantik menawan!

Kalo kamu ada tips lain ga???

Senin, Agustus 20, 2018

NHW #3: Membangun Peradaban dari Dalam Rumah


Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum. Kali ini aku mengerjakan NHW alias Nice Homework pekan ketiga. Temanya adalah Membangun Peradaban dari Dalam Rumah. Subhanallah!

Materinya daging dan sukses bikin baper. Soalnya asli mengaduk-aduk emosi jiwa. Membuat diri yang tadinya cuma remahan peyek ini jadi merasa jauh lebih baik dan berharga.

Woow banget ga tuh?

Well, itulah yang aku rasain ketika materi di pekan ketiga itu disampaikan. Sesi diskusi pun berlangsung hangat, ramai respon dari para peserta pembelajarnya.

Sampe-sampe, Bu fasilitator kami, Mbak Mimi menyebutnya dengan minggu melankolis nasional. Hahhaa...

Beres materi disampaikan, keluarlah instruksi untuk NHW #3

Jeng-jeng-jeng!!!

Baper lagi lah Mamak Faraz ini. Hahahaa...
Setelah NHW sebelumnya bikin indikatoe wanita profesional, kali ini semacam lanjutannya.

Baca:

NHW #2: INDIKATOR IBU PROFESIONAL


Waktu bikin indikator ini aja rasanya campur aduk. Sedih ada. Takut ada. Pokoknya baper maksimal juga tuh pas buatnya. Sampe takut bikin banyak, karena takut ga bisa menjalaninya.

Ternyata, setelah didiskusikan kembali, justeru lebih baik banyak karena jadi lebih detail. Hmmm... Indikator itu nanti bakal direvisi (ditambah atau diganti beberapa).

Nah, NHW #3 ini semakin membuat hati melow. Selain rasa takut, rasa sedih karena jadi throwback ke masa lalu lebih dominan.

Ada apa gerangan?

Karena kurang lebih inti dari membangun peradaban ini adalah wanita/ibu yang menjadi Pioneer-nya.

Ini pemahaman versiku ya:
Jadi, kalo wanita, dalam konteks keluarga, yaitu istri atau ibu di dalam rumah itu punya jiwa yang sehat serta pikiran yang positif, maka kedepannya akan terbangun keluarga yang 'sehat' pula.

Istri/Ibu, wanita di dalam rumah adalah dia yang bersentuhan langsung dengan berbagai aspek dalam rumah. Menyediakan makanan, terlepas dari masak sendiri atau beli di luar. Jelas dia yang menentukan. Makanan seperti apa yang akan ia sajikan untuk keluarganya.

Dari hal sekecil itu, peranannya sudah mencakup pemenuhan gizi, berikut supply cinta dan kasih sayang untuk anggota keluarga.

Lalu, ia pula yang menghabiskan banyak waktu dengan anaknya. Ialah yang secara langsung menjadi contoh pembelajaran anaknya. Ibu sebagai madrasah atau sekolah pertama bagi sang anak. Begitu sering kita dengar pepatahnya.

Dan itu benar adanya. Jika ibu dengan jiwa dan pemikiran positif, maka hal itu akan tersalur pada anaknya. Pun sebaliknya.

Maka, penting sekali untuk mengontrol diri, belajar jadi lebih baik dari ke hari.

Sayangnya, istri/ibu juga adalah manusia biasa. Kadang lelah menerpa. Kadang godaan syetan melanda. Sementara iman yang naik turun inilah bentengnya. Saya pribadi sambil terus belajar agar bisa menjaga iman tetap di atas. Sebagai tameng kehidupan.

Sederhananya adalah agar tetap waras.

Karena ketika semua energi negatif memancing untuk membuat kita jadi merugi, hanya iman yang mampu menghalaunya. Bismillah.

Dimulai dengan menerima. Itulah yang diajarkan dalam materi pekan ini. Menerima apa yang pernah terjadi. Barangkali ada luka di masa lampau, kenangan tak mengenakan, dan hal negatif lainnya yang berpotensi membuat jiwa kita 'sakit'.

Yang demikian itu baiknya mulai diterima, dimaafkan. Sehingga tidak akan memengaruhi kehidupan kita yang sekarang. Barangkali ada kisah masa kecil yang akhirnya membuat diri takut, terima, maafkan dan lupakan. Begitu katanya.

Aku pun mulai mencoba menata hati sedemikian itu. Barangkali memang ada yang membuat langkahku tersendat karena memori masa lalu. Dan itu membuat langkahku sekarang ragu-ragu atau malah tertahan. Bismillahirrahmanirrahim.

Selanjutnya, adalah mulai menata hati kembali. Mencoba menemukan kembali alasan mengapa kita sekarang ada di sini, berada dalam keluarga dan lingkungan ini.

Instruksinya adalah membuat surat cinta.

Astaga, sudah berapa purnama tidak menulis surat cinta untum suami. Hahaha...

Ada rasa malu menyeruak, ada juga rasa rindu memori dahulu. Waah, betul-betul yaaaa NHW pekan ini penuh kejutan. Hahaha...

Sehari terlewati, surat cinta masih ditata di dalam kepala. Benak mulai menyusun rangkaian kata.

Niatnya adalah sebuah surat penuh romantisme karena ada rindu yang bergumul.

Tapi nyatanya???

Nampaknya kemampuan ngegombal menulisku memang tak pernah ada. Yang tertoreh jadi tulisan adalag beribu kata maaf dan terima kasih. Sambil dikenai tetesan air mata selama menulisnya.

Sambil main dengan Faraz, aku tulis suratnya. Entah kenapa, di sudut mata malah mengalir anak sungai.

Duh, tercyduk!!!
Faraz liat mamanya nangis.

Ekspresinya lucu. Mungkin dia bingung. Terlanjur basah, mamak ini malah curhat ke anaknya. Padahal dia mungkin ga terlalu ngerti omongan mama. Hahaha...

Kubilang, "Faraz, mama ni lagi tulis surat buat papa. Soalnya lagi bikin PR. Tapi, pas nulisnya mama sedih. Makanya nangis."

Hahaha...
Farazku... Makasih ya dah dengerin mama walaupun bingung. Melihat ekspresi bingungnya begitu akupun tertawa. Tangisan tadi hilang entah kemana.

Subhanallah.
Cepat sekali Allah bolak-balik perasaan yang dari super baper, kembali riang.

Ini adalah hikmah. Pesannya untuk tak terlalu terlarut karen badai pasti berlalu. Eaaaaa...

Oya, tentang surat tadi.

Paragraf pertama, kedua, dan ketiga, isinya tentang maaf dan cerita masa lalu. Tentang rasa yang pernah disampaikan tapi kesannya belum selesai.

Mamak baper karena hal itu sangat membekas di hati. Ada luka yang tertoreh tapi beliau adem ayem saja.

Rasa kesal, rasa kecewa, semua bercampur tiap ingat itu. Kenapa kutuliskan di sana? Bukannya tugasnya adalah untuk menulis surat cinta yang isinya adalah menyampaikan alasan kuat bahwa dialah yabg dipilih layak menjadi suami dan ayah buat anak-anak?

Ya. Karena sebelum maju ke sana. Ada hal yang harus diselesaikan dulu. Aku harus bisa menerima, memaafkan, lalu melupakan kemudian kembali melangkah maju. Bukan begitu nasehatnya?

Itulah yang kulakukan. Kutuliskan dalam surat cintaku. Entahlah. Karena aku merasa kalau di rumah kok rasanya tak bisa dibahas. Tak mau tiba-riba suasana jadi tak enak. Tapi kenyataannya hati masih menyimpan luka. Dan itu lebih tak enak lagi.

Dia ini mungkin terlalu cuek atau mungkin tak peka. Baginya oke sudah berlalu, tapi perempuankan kompleks. Bagiku ini belum selesai. Aku masih sedih kalo ingat.

Ternyata mungkin karena aku belum memaafkan dari hati. Mulut memang sudah bilang oke. Tapi hati tak terima. So, dalam surat itu aku selesaikan semua rasa tak terimaku.

Anak sungai mengalir deras membersamai usahaku meluruhkan rasa tak enak itu. Bismillah aku lepaskan, aku terima, aku maafkan, dan akan kulupakan.

Paragraf berikutnya adalah ucapan maaf dan terima kasih. Karena setelah kusampaikan semua rasa pedih itu, pikiranku mulai 'agak waras' kembali.

Kusampaikan terima kasih, karena terbayang kembali alasan mengapa aku pilih dia dan kami memilih bersama. Kemudian episode perjuangan untuk akhirnya menikah pun terputar kembali.

Ada banyak alasan kuat yang akhirnya menjadi keputusan kebersamaan dalam keluarga ini. Egois sekali pikiran perempuanku karena hampir buta lantaran goresan sedikit. Sakit memang, tapi kalau kucoba putar kembali memori. Ada banyak hal yang patut disyukuri.

Dengan begitu aku pun ingat lagi alasanku memilih bersamanya.

Duh emaaak, hidup berkeluarga itu memang benar seperti berlayar di tengah lautan. Ombak menerjang, belum lagi cuaca buruk, jangan lupa juga soalan hewan buas yang mengintai. Masyaallah!

Keep strong!!!
Hanya iman yang mampu membuat kita 'sehat'.


Beres 2 lembar surat virtual kutuliskan. Kukirimkan saat beliau lagi kerja.

Dag-dig-dug menunggu responnya sambil membaca ulang surat yang kutulis. Semoga pilihan kata-kataku ini bisa mewakili perasaan di hati dan mampu diterima sehingga pesannya tersampaikan. Begitu harapan di hati.

Menjelang siang, di waktu istirahat kerjanya, kuliat pesanku sudah masuk dan sedang dibaca.


Wooow... Rasanya seperti sedang ujian dan menanti kalimat respon penguji. Hahaha...

Tring!
Pesan masuk ke WA-ku.


Hmmmm...
Oke fix. Panjang kali lebar kali tinggi kutulis surat sambil banjir air mata. Beliau balasnya sedikit gitu aja.

Hahahaaa...
Antara yang 'what???!! Gini doang responnya?" dan lucu.

Yah, jelas memang otak laki-laki dan perempuan itu beda toh. Hahhaa...

Okelah.
Baiklah.

Kemudian aku lanjut main sama Faraz lagi.

Lalu, apakah kemudian terasa hasil dari surat itu? Tentang jatuh cinta lagi?

Sebenarnya ga disuruh tulis surat cinta lun aku selalu jatuh cinta pada suamiku. Setiap hari. Saat kulelah, lalu kulihat dia. Kutau ia lebih lelah. Saat kusedih, lalu kulihat dia, kutak mau dia ikut sedih.

Ya jadinya begitu sih, ada jeleknya tadi. Aku ternyata jadi sedih sendiri dan full of negativity. Tapi sekarang sudah belajar di kas MIIP. Udah tau kalo itu ga penting. Jadi, ga mau lagi capek-capek gitu.

Sekarang fokus mau jadi better!

Selanjutnya, adalah disuruh melihat kekuatan anak. Sebenarnya aku bingung. Faraz ini masih bayi. Baru 7 bulan lewat umurnya. Mau kutanya, jelas belum bisa. Jadilah aku menjelma sebagai observer penelitian. Hehee...

Kulihat, Faraz ini cepat sekali tanggapnya. Dia pandai meniru dan mudah diajari. Waktu itu di jatuh dari kasur. Selanjutnya dia tak mau dekat-dekat pinggir kasur lagi.

Well, walaupun aku pernah baca juga. Bahwa memang semua anak itu jenius. Mereka adalah pembelajar ulung. Apalagi di masa usia emasnya hingga 3 tahun. Semacam ada insting belajar dari yang sudah pernah mereka alami.

Jadi, kupikir tak hanya Faraz yang pandai begitu. Semua anak juga begitu. Lalu, aku mencoba melihat lagi apa yang ada padanya.

Faraz mungkin memang masih bayi, selain karena banyak stimulus yang kuberikan, memang rasanya dia ada potensi belajar yang baik. Dia senang mengamati lalu mencoba sendiri.

Aku sering mencoba bermain bola warna-warni dan menanyakan warna-warna padanya. Surprisingly, Faraz bisa menunjuk warna yang kuminta. Subhanallah buatan Allah nih!

Di usia 7 bulannya ini, Faraz juga sudah bisa mengambil sikap. Dia bisa menunjukan mana yang ia mau dan yabg tidak ia mau. Ia juga senang saatanak-anak baik sebaya maupun labih tua daripada ia main bersama. Kemampuan komunikasinya makin terbangun. Alhamdulillah.

Bisa kusimpulkan untuk saat ini potensi kekuatan Faraz adalah dalam bersosial dan belajar.

Lalu, aku mencoba mencari tau kekuatan dan potensi diri. Mencoba membaca kehendak Allah tentang mengapa aku dihadirkan di tengah keluarga ini, di lingkungan ini, serta tantangan di depan nanti.

Duh, apa potensi diri ini? Rasanya lebih enak kalau orang yang menyampaikan. Karena menilai diri sendiri itu rentan subjektif.

Tapi, karena begitu tugasnya, aku coba membaca pesan Allah yang dititipkan padaku. Bismillah.

Aku menekuni dunia mengajar, aku suka menulis, aku suka berkerajinan berkerajinan tangan, memasak, dan berkebun.

Apa potensiku?
Kalau sesuai dengan pendidikanku, ya tentu saja mengajar. Tapi untuk saat ini aku memilih membersamai bayiku terlebih dahulu. Ada rencana kedepannya, tapi masih dalam bayang-bayang.

Yang bisa kulakukan agar bisa terus mengajar dan membersamai Faraz adalah dengan mengajar di/dari rumah. Sudah kulakukan sejam dulu. Aku mengajar siapa saja yang datang berkunjung ke blogku. Blog khusus yang isinya materi ajar.

Aku juga berencana mungkin akan menyediakan tempat belajar di rumah. Yah, sudah banyak yang meminta juga sebenarnya tapi saat ini aku masih fokus untuk Faraz. Insyaallah tahun depan akan dimulai proyek belajar bersama di rumahku.

Selanjutnya, menulis. Untum hobiku yang ini aku masukkan ke kategori potensi juga. Karena 2 tahun belakangan, dari hobi menulisku ini ada peluang penghasilan tambahan yang kuperoleh.

Senang sekali rasanya menggeluti hobi kemudian menghasilkan. Alhamdulillah. Aku juga mengajak (masih lingkup keluarga dulu) untuk mulai menulis. Sebenarnya, adik-adikku sudah terbiasa menulis dan masing-masing memiliki blog sendiri juga. Namun, jarang menulisnya. Makanya aku pun mengajak mereka untum aktif kembali. Karena sungguh menulis itu memiliki efek positif. Ini juga yang menjadi hiburanku selama di rumah.

Aku tinggal di lingkungan yang sangat dekat dengan masjid. Mungkin ini adalah cara Allah mengatakan padaku untuk belajar lebih banyak lagi. Semoga aku bisa konsisten dan jadi lebih baik dalam beribadah juga. Aaamin.

Ternyata membaca maksud Allah dari lingkungan seperti ini asyik juga ya.

Aku jadi menemukan banyak alasan positif untuk tetap terjaga dan melakukan hal-hal baik.

Bismillah.

Senin, Agustus 13, 2018

NHW #2: Indikator Ibu Profesional



Assalamualaikum.
Kali ini saya mau berbagi tentang Nice Home Work (NHW) pekan kedua.

Setiap hari bahasan diskusi di WAG Matrikulasi Ibu Profesional semakin seru. Selain sesi STOD dan tamu spesial dari jajaran Ibu Profesional Pusat tentunya.

Baca:

STAR OF THE DAY PERDANA DI KELAS SUMATERA 3 MIIP BATCH 6



Pekan kedua ini bahasannya adalah tentang menjadi Ibu Profesional. Ada banyak sekali bahasannya. Dari materi itu, kami dikenalkan pula dengan daftar acuan atau indikator perempuan profesional.

Seperti semboyan di IIP ini: Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Hal itu menjadi salah satu indikator untuk dibilang profesional. Apakah keluarga bangga dengan kita?

Well, I'm in the process of learning

Semoga setiap usaha saya itu dinilai sebagai sesuatu yang positif dan menjadi kebanggaan suami, anak, orang tua, dan saudara. Aaamiin.

Ada 3 indikator profesionalisme perempuan seperti yang disampaikan oleh Tim Matrikulasi IIP di kelas. Berikut ranah tolok ukurnya:

  1. Sebagai Individu
  2. Sebagai Istri
  3. Sebagai Ibu

Tugas NHW #2 ini adalah membuat indikator profesionalime diri sendiri. Yang kira-kira mampu dijalankan dan mampu membawa kita maju ke arah tujuan menjadi profesional itu.

Berdasarkan kaidah indikator yang baik, yaitu memenuhi kriteria SMART (specific, measurable, achievable, realistic, and timebond), maka berikut indikator saya:


SEBAGAI INDIVIDU, saya bisa:
  • beribadah tepat waktu. Minimal untuk hang wajibnya.
  • khatam Al-Qur'an dengan teratur membacanya minimal 1 lembar per hari.
  • membuat konten untuk blog. Minimal 1 postingan per minggu.
  • membaca buku minimal 1 buku per bulan.
  • membaca artikel pendidikan minimal 1 artikel per minggu.
  • meluangkan waktu untuk merawat tubuh (scrubbing, maskeran, luluran, creambath). Minimal dikerjakan sendiri di rumah sebulan sekali.

Secara garis besar, indikator profesional saya sebagai individu adalah bisa mengakomodasi waktu untuk melakukan hal yang saya sukai, saya geluti, dan saya butuhkan dengan baik.



SEBAGAI ISTRI, saya bisa:
  • membuatkan sarapan suami setiap hari.
  • memasak makanan kesukaan suami minimal sebulan sekali (by request). Karena biasanya saya masak dengan daftar menu yang sudah saya buat sendiri.

Indikator umumnya adalah saya mampu menggandeng suami saya sebagai seorang pasangan, partner kerja, teman, dan adiknya setiap saat.



SEBAGAI IBU, saya bisa:
  • bermain sambil belajar setiap waktu dengan anak saya.
  • membuat makanan kesukaannya (by request) minimal seminggu sekali.
  • membacakan 1 buah cerita pengantar tidurnya setiap malam.

Secara umum, indikator keprofesionalan saya sebagai ibu adalah saat saya bisa menghabiskan banyak waktu dengan anak sembari melakukan hal yang menyenangkan bersama setiap saat.


Kira-kita begitulah indikator yang saya buat untuk menjadi perempuan profesional. Jika nanti saya terlalu melenceng dalam perjalanannya, catatan ini yang akan jadi pengingatnya.


Kalau dilihat, nampaknya masih timpang antara cerminan capaian menjadi profesional di tiga ranah itu.

Saya cenderung banyak menuliskan indikator sebagai individu. Mungkin karena saya sudah melihat dan merencanakan hal apa saja yang akan saya kerjakan, akan saya kembangkan, dan lainnya. 

Sementara untuk ranah sebagai istri dan sebagai ibu, nampaknya saya masih bingung. Apa lagi ya???

Sebagai istri ya beginilah saya di rumah.
Memasak menyiapkan makanan, membersihkan rumah, dan semua urusan domestiknya. Karena begitulah yang saya tahu. Karena saya happy mengerjakannya. Hobi saya ya masak. Kalo saya suka bilang ke suami, "Dapur itu kerajaan saya."

Hahaha...

Lha wong salah naro sendok aja mamak rewel haha...

Apakah teman-teman punya perspektif lain tentang menjadi istri? 

Dan sebagai ibu, saya juga mungkin masih bingung. Sejauh ini saya selalu berusaha menjadi teman terbaik untuk bayi 7 bulan saya ini. Bermain dengannya sambil sesekali menyelipkan pembelajaran, menyuapinya, membaca bersama. Itulah yang saya lakukan.

Sependek pengetahuan dan pemahaman saya, saya sudah melakukan seperti apa yang seorang istri dan ibu lakukan. Maka dari itu, saya terus melakukannya dan mencoba menjadi lebih baik dalam hal itu.

Apakah betul begitu caranya berperan sebagai istri dan sebagai ibu? Apakah teman-teman punya pengalaman lain?

Maka dari itu, beberapa hal yang saya lakukan sebagai individu itulah yang menjadi semacam 'me time' bagi saya. Sebuah kesempatan saya untuk mengenal diri saya lebih jauh dan obat dikala saya merasa jenuh dengan rutinitas yang terkesan menoton.

Bukan.
Bukan saya ga happy tentang peranan lainnya. Jelas saya happy dengan bayi imut saya. Saya juga happy dengan suami saya yang baik dan santun. Hanya saja memang manusiawi terkadang kita perlu keluar sedikit dari zona nyaman itu.

So, peranan saya sebagai individu, sebagai istri, dan sebagai ibu ini melengkapi satu sama lain. Alhamdulillah.

Terlepas kadang mamak butuh hiburan yaaa... 

Kadang sebatas keluar rumah, duduk di taman. Atau sekedar ke swalayan cuci mata rasanya cukup menepis penat. Hahaha...

Receh sekali memang saya ini. Tak apa toh?
Tinggal butuh konsistensi dan kebersamaan agar tidak jomplang. Agar tidak merasa berjuang sendiri. Karena sejatinya keluarga adalah SALING.


Puisi yang kutulis. Judulnya: Salinglah!


Indikator yang saya buat ini bisa saja bertambah dari waktu ke waktu. Nanti akan saya update setiap saya merasa ada hal lain yang harus saya capai untuk menjadi profesional.

Saat ini, segitu aja ya...


Bismillahirrahmanirrahim.
Semoga bisa konsisten. Aaamiin.

Ketika lelah merasa sendiri, kalimat Pak Dodik yang dikutip saat pembelajaran di kelas MIIP Batch 6 ini juga jadi motivasiku.

"_Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik_"

Jumat, Agustus 10, 2018

Menghemat Bahan Bakar Minyak di Perjalanan

Cara Menghemat Bahan bakar minyak


Menghemat bahan bakar minyak di perjalanan? Gimana caranya menghemat bahan bakar minyak? Memangnya bisa?

Kadang muncul pertanyaan begitu ya di hati kita. Secara namanya juga dipake buat jalan, pasti bahan bakar minyaknya mau ga mau bakal kepake dong.

Tapi, bukan ga mungkin loh. Kita bisa aja menghemat bahan bakar minyak selama di perjalanan. Hal utama yang harus kita tau adalah gimana cara menghemat bahan bakar minyak itu dulu.

Ada beberapa hal yang bikin pemakaian bahan bakar minyak alias BBM boros. Misalnya kondisi mesin mobil ya. Tiap mesin punya kemampuan berbeda dalam hal penggunaan bahan bakar minyaknya. Selain itu kalo mesinnya agak kurang terawat juga bisa mempengaruhi performanya.

Selain itu, cara berkendara kita juga bisa jadi penentu hemat atau tidaknya bahan bakar minyak di kendaraan kita.

Sering ngebut dan ngerem mendadak? Ini jadi salah satu hal yang menyebabkan bahan bakar minyak boros loooh...

Coba cari tau tentang eco-driving deh!
Cara menggunakan kendaraan dengan eco-driving bisa membantu kita menghemat bahan bakar minyak hingga 2 literan. Lumayan banget kan????^^


Pilih juga bahan bakar minyak yang sesuai dengan mesin kendaraan kamu ya.

Ingat! Mahal belum tentu cocok. Hohoho...
Jadi memang pakai yang sesuai dengan specs istilahnya. Kalo emang bahan bakarnya solar ya jangan pake bensin.

Ya iyalah, Aaaaal....


Hahhaaha...


Ini beneran ngaruh banget loooh.
Waktu itu kondisi ban mobil ayahku udah yang kaya ngasih kode minta ganti gitu.

Terus akhirnya, diganti secara bertahap. Maklum ini urusan dompet juga soalnya. Ternyata mahal juga ya beli ban mobil. Hahhaa...

Tapi, memang performanya ga bohong deh. Setelah ganti dua ban belakang, mobilnya jadi lebih smooth gitu. Enak dipake.

Kalo kupikir, dia ngaruh jadi bikin laju mobil lancar. Imbasnya ke kinerja mesin yang ga terlalu berat kaaan. Ujung-ujungnya ya ga makan minyak. Hemat deh!

Berasa banget pas bikin totalan belanja bbm bulanan itu. Bisa lah buat nambahin beli-beli gula dan kopi. Prinsip: dapur tetap harus ngebul yes. Hohooho...

Nah, gitu deh beberapa cara menghemat bahan bakar minyak yang kubaca. Setelah dipraktekan asli bikin senyum-senyum kareba dompet agak tertolong.

Yeay!!!

Kalo kamu ada cara lain buat menghemat bahan bakar minyak boleh share di kolom komentar yaaa...



Rabu, Agustus 08, 2018

X2 Big Eyes ft. X2 Bio Color! Kusuka X2 Softlens!


Halo!
Lagi-lagi aku mau kasih review tentang softlens. Aku masih setia pake X2 Softlens dari Exoticon. Kali ini aku cobain X2 Softlens seri Big Eyes a+ dan Bio Color. Untuk yang X2 Big Eyes a+, aku pake yang tone Hazel. Sementara yang X2 Bio Color, aku pake yang Blue. Apa bedanya dengan X2 Bio Glaze yang pernah aku review kemaren?

Baca:

REVIEW X2 BIO GLAZE SOFTLENS, ANTI KERING. ALMAWAHDIEXEXOTICON


Kamu klik aja link di atas itu kalo mau tau tentang X2 Bio Glaze-nya yaaa...

Di postingan kali ini aku mau bahas tentang dua seri X2 softlens seperti yang aku sebutin tadi.

Ini sekilas aku kasih liat gimana tampilannya las aku pake ya...

Foto yang kiri aku pake X2 Big Eyes a+ Hazel dan yang kanan aku pake yang X2 Bio Color blue.

Gimana???
Oke gaaaa???

Lanjut yaaa...
Kita bagi dua dulu. Pertama kita bahas yang X2 Big Eyes a+


Jadi, aku dapetnya yang warna coklat, Hazel. Pas banget sama seleraku.

Hahaha... Iya. Aku main aman.
Karena pernah pake yang warna selain hitam dan coklat kok ya ga PD. Makanya selalu pake warna aman ini kalo beli softlens.

Seperti produk softlens dari Exoticon lainnya, produk X2 Big Eyes a+ ini udah terdaftar di Kemenkes RI juga ya.

Seri X2 Big Eyes a+ ini untuk masa pemakaian 6 bulan. Diameternya lumayan gede, yaitu 14.5mm. Segitu udah bagus banget buat mata kecilku. Udah langsung berasa bedanya pas pake pake softlens ini.

Klaimnya softlens ini punya kenyamanan yamg lebih lama saat dipake karena kaya oksigen dan ga bikin kering (55% water).

Pertama pake rasanya perih. Kayanya terbalik sih hahaha...

Soalnya ini tuh tipis dan aku suka bingung mana bagian dalam dan luar. Tapi berikutnya aman udha ga perih lagi.


Bagus ya tone Hazel ini.
Dan aku bener-bener ngerasin sensasi Big Eyes-nya. Sayang aku masih belom piawai make up mata. Jadi ya gitu aja.

Ngelesnya gini: Inilah pemakaian softlens sehari-hari.

Eaaa...
Kan kalo daily kita ga pake fake lashes yes ^^

Next, ayo intip X2 Bio Color Blue yang kudapet.


Nah ini dia!
X2 Bio Color ~ Blue!!!

Ini cantik banget tone-nya.
Walaupun diawal aku agak khawatir gimana tampilannya pas dipake. Secara kan aku ga PD main warna terang.

Kalo dari kemasannya, X2 Bio Color ini sama persis kaya kemasan X2 Bio Glaze. Di dalam packagingnya udah langsung dapet softlens casenya.

Diameter softlens X2 Bio Color ini sama seperti yang Big Eyes a+ yaitu 14.5mm.

Trus ini juga buat pemakaian selama 6 bulan aja. Sama-sama klaim kenyamanan saat dipakai untuk waktu yang lama dan kaya oksigen. Tapi, yang X2 Bio ini cuma 45% kandungan airnya.

Desainnya bagus. Baik X2 Big Eyes a+ dan X2 Bio Color ini sama-sama terdiri dari 2 tone warna. Selain warna lensanya, ada pinggiran/tepiannya yang berwarna gelap (hitam).

Pas aku pake dan ngaca, VOILA!!!

YAAAA AMPUUUN BAGUS BANGEEET!!!

Se-SENANG itu aku pas ngaca. Karena buat pertama kali aku ngerasa cocok sama warna terang. Apalagi biru gini. Hehee...

Entah karena desainnya atau warna birunya yang pas ke warna kulit aku. Pokoknya aku sukaaa sekali pas ngaca.



Kaya gini tampilannya pas dipake.
Biru tapi ga bikin norak.

Eh gimana?

Biru tapi dalem.

Laaaah???


Hahaa...
Ga bisa dijelasin lah. Intinya aku suka birunya karena pas dipake aku jadi cakep hahaa...

Pas diupload ke IG story aja mendulang decak kagum (cieee bahasanya) karena 'manglingi' katanya.

Papanya Faraz aja suka pas liat aku pake X2 Bio Color Blue ini.

Duuuh, jadi nambah peralatan tempur buat ngedate minggu besok. Hahaha...


Well, makasih banyak ya X2 Softlens 😘

Kalo kalian lebih suka liat aku pake yang Big Eyes apa yang Bio Color hayoooo???

Selasa, Agustus 07, 2018

Atlet Sepak Bola Wanita Asal Palembang Ikut Berjuang di Asian Games 2018 loooh...



Count down menuju Opening Ceremony (OC) Asian Games makin bikin aku deg-degan. Kenapa? Soalnya ikut bangga akhirnya Indonesia dipercaya lagi untuk jadi tuan rumahnya. Setelah pertama kali di tahun 1962 dulu. Belum lagi makin bangga karena ada beberapa atlet asal Palembang yang ikut berjuang. Salah satunya adalah atlet sepak bola wanita asal Palembang yang akan berjuang di Asian Games 2018 ini.

Sebelum kita kenalan sama Ayuk cantik itu, yuk kita ngobrolin Asian Games dulu.


Di bulan yang sama, Agustus, Indonesia menjadi tuan rumah untuk Asian Games IV tahun 1962. Jauuuh banget aku mah belum lahir. Hehehe...

Waktu itu ada 12 negara peserta yang berjuang untuk 13 cabang olahraga (cabor).

Kerennya lagi, Indonesia berhasil jadi runner-up loooh!

Mengumpulkan 21 medali emas, 26 perak, dan 30 perunggu. Joss!!!


Nah, untuk Asian Games 2018 ini sebenarnya bukan Indonesia yang tadinya bakal jadi tuan rumah.

Berikut fakta menariknya!
Bahwa Indonesia mengajukan diri untuk jadi tuan rumah. Karena tuan rumah terpilih, yaitu Vietnam mundur.

Dan seharusnya bukan diselenggarakan di tahun 2018. Namun, karena tahun 2019 Indonesia menyelenggarakan Pemilu. Maka, jadwal Asian Games dimajukan agar keduanya dapat berjalan dengan baik.

Tahun ini ada 40 cabor yang dipertandingkan dan diikuti oleh 12000 atlet. Awak media yang ikut memberitakan pun ada sekitar 5000an.

Wow!!!
Sudah mulai terbayang keseruannya kaaaan...


Duh, makin deg-degan.


Venue pertandingan untuk Asian Games 2018 ini akan dilangsungkan di dua kota besar di Indonesia. Yaitu di Jakarta dan di Palembang.

Kebetulan aku warga Sumatera Selatan nih. Makin bangga lah yaaa Palembang ikut jadi tempat ramenya Asian Games 2018.

Teman-teman udah pernah ke Palembang belum??? Kuy, main ke Palembang sambil nonton Asian Games 2018.

Buat yang belum tau, nih di atas udah aku kasih liat 8 Fakta unik tentang Kota Palembang.

Hayoooo...
Mupeng ga main ke Palembang?^^

Memang untuk event olahraga apalagi tingkat Internasional seperti ini, Palembang hampir selalu ikut serta berpartisipasi menyediakan venue. Karena Palembang punya Jakabaring Sport City.


Apa itu Jakabaring Sport City?

Ini adalah spot olahraga di Palembang.
Lokasinya strategis di pusat kota, wilayah Jakabaring. Nama lokasi itu yang melekat di nama spots centre ini.

Kota lain juga punya kok pusat olahraga. Trus apa bedanya Jakabaring Sport City?

Sepanjang yang kutau, JSC ini dibangun dengan standar internasional untuk tiap bagiannya. Jadi memang layak untuk digunakan tiap pertandingan internasional. Udah sesuai standar gitu deh poinnya.

Ada stadion sepak bola Gelora Sriwijaya, venue voli pantai, menembak, sepatu roda, lempar lembing, dayung, kayak, akuatik, tenis lapangan, dan baaaanyaaak lagi.

Terus, JSC itu terintegrasi dengan fasilitas lainnya yang dibutuhin para atlet dan pengunjung. Ada kampung atlet (dulu disebutnya wisma atlet), 5 rumah ibadah, dan diperindah dengan taman-tamannya yang menghijau plus instagramable.

Hohoohooo...

Dan lagiiii...
Spesial untuk Asian Games ini, area JSC terintegrasi dengan LRT (Light Rapid Transit). Yaitu kereta atas gitu. Langsung dari Bandara SMB II sampai stasiun akhirnya di JSC itu.

Jadi akses ke sana emang udah mantap lah!

Udah makin tau lah ya tentang Asian Games dan Venue yang di Palembangnya.

Sekarang, ayo kita kenalan sama Ayuk Debi Puspita Rani!

Ayuk adalah panggilan untuk kakak perempuan dalam Bahasa Palembang.




Ayuk Debi ini adalah Atlet Sepak Bola Wanita Asal Palembang. Doi bakal ikut berjuang membawa nama Indonesia di ajang Asian Games 2018 ini.

Yuk Debi ini masih muda loooh...
Umurnya baru 21 tahun.

Karena penasaran, aku cari tau deh tentang Yuk Debi. Lahir di Palembang, 22 Juni 1997. Waah, baru saja berulang tahun beberapa bulan lalu.

Yuk Debi ini adalah mahasiswi UNSRI (Universitas Sriwijaya) FKIP prodi Penjas. Di dalam tim sepak bola wanita ini, doi bertugas sebagai kiper handal.

Bersama tim sepak bola wanita Persimura, Yuk Debi berhasil menjaga gawang dari ancaman lawan dalam ajang Piala Pertiwi 2017 lalu.

Katanya, dia memang suka sepak bola
sejak SD. Mengaku tidak ikut sekolah bola, tapi bergabung dengan tim Villa Star Palembang yang kemudian akhirnya terpilih masuk tim Persimura itu.

Hebat ya, Ayuk Debi!
Aku jadi makin ikut bangga. Soalnya satu almamater nih. Hehehe...


Semua pilihan yang ada di dunia ini selalu berpasangan. Termasuk pilihan jadi atlet. Tentu ada suka dan dukanya.

Pertama, para atlet harus terus konsisten menjaga kesehatan agar terus prima. Belum lagi jadwal latihannya, pola makannya, dan banyak lagi yang lainnya.

Beberapa atlet juga harus rela berjauhan dengan keluarga ketika jadwal pertandingan mengharuskan mereka untuk berjuang. Melewatkan liburan lebaran misalnya.

Tapi, tentu ada juga sukanya.
Salah satunya bisa mengharumkan nama keluarga dan bangsa.

Keren banget kan yaaa...
Ayo kita dukung bersama atlet kebanggaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini!!!

Ini juga jadi salah satu cerminan warga Indonesia yang baik tentunya.


Semangat berjuang para atlet Indonesia!
Kami bangga padamu!!!

Minggu, Agustus 05, 2018

Mizzu Blush Girl in Action: Blush Me Up!


Assalamualaikum.
Masih dengan hype abis acara 1st Anniversary @palembangbeautyblogger kemarin. Aku juga bawa oleh-oleh imut dari Mizzu Cosmetics looh.

Yaitu Blush On Powder seri Blush Me Up.
Yes, aku adalah hantu blush on. Hahaha..

Aku sukaaaa sekali pake blush on.
Ibarat make up tanpa blush on tuh kaya sayur kurang garem. Eaaaa...

Selain bikin penampilan jadi segar alias fresh, blush on juga bisa kasih efek stay young forever loooh.

Inget banget waktu aku masih tomboy banget. Padahal udah dewasa lah yaaa... Udah kuliah waktu itu. Jangan tanya gimana penampilanku. Boro-boro kenal blush on, bedakan aja syukur. LOL

Waktu itu temen sekelasku ada yang suka pake blush on. Panggilannya Eci. Aku perhatiin soalnya. Cakep!


Sebagai sesama cewek aja aku suka liat wajahnya merona fresh gitu. Sayangnya aku tuh tomboy yang pemalu. Haelaaah...

Iya. Aku malu buat nanya-nanya gimana caranya biar cakep merona gitu.

Ternyata efek dari blush on. Sampe-sampe aku pernah nanyain ke doi tentang blush on apa yang dia pake. Trus aku beli juga. Walaupuuuuuun... Ga kupake sampe kuliah semester akhir. Ahahaha...


Kenapa?
Soalnya aku ga PD dan ga ngerti.

Kalo diinget sekarang sih, rasanya nyesel. Coba dipake daripada kadaluarsa aja gitu. #TimAntiRugi

Well, usah dikenang yang telah lalu.
Sekarang udah jadi mamak-mamak dan mulai kenalan sama skincare, make up, and stuff menjelang pernikahan.

Hasilnya? Ya gini. Jadi hantu blush on deh!

Trus, punya Blush Me Up dari Mizzu gini siapa yang ga seneng ye kan?

Langsung deh aku mainkan kuas. Hohoho.

Aku kasih tau dulu penampilan si mungil imut ini ya...


Ini kemasannya.
Aksen garis-garis jadi highlight packaging Mizzu ini. Kesannya Pop Art banget. Aku suka.

Kotaknya persegi empat yang sangat presisi. Jadi, enak aja diliatnya.

Trus, ini tuh disegel rapi. Jadi kita bisa tau nih kemasan bener-bener baru atau nggak.


Yang kupunya ini shadenya yang Rosy Tint nomor 802.

Untuk tanggal kadaluarsanya bisa liat di kotak dusnya yaa...

Saran aku sih, kita tulis lagi aja pake spidol permanen di packaging blush on ini. Biar kalo nanti dusnya udah dibuang kita ga lupa deh.

Ini compact banget.
Powdery dan matte. Ga bling-bling.
Isinya 4,5 gram aja.


Selain tampilan dus depan yang kece dengan aksen garis-garis gitu, bagian dalam dus juga kece.

Ada motif garis-garis juga. Segelnya juga oke punya. Simple dan tetap ada signature dari Mizzu.

Intip kemasan blush-onnya itu deh!
Aksen garis dan letak tulisannya bikin garis itu makin menarik.


Nah, ini dia shade Rosy Tint itu.
Pinky tapi gak yang terang banget. Kaya ada dusty-nya gitu pigmentnya.

Makanya menurutku ini cocok buat warna kulit apapun. Kan biasanya kita bilang, warna pink untuk yg kulitnya terang. Nah, menurutku yang kulitnya gelap masih akan oke aja pake rosy tint blush me up Mizzu ini. Cobain deh!

Ayo kita liat swatchnya di kulit tangan bagian dalamku.


Gini warnanya!

Ini aku cuma sekali ulas dan udah keluar warnanya. Pigmented bangetlah si Mizzu ini. Kece!!!

Hasilnya matte (no shimmer).

Oya, kenapa aku swatchnya di bagian tangan ini? Karena ini warna yang bisa dibilang sama dengan warna kulit wajah kita loh.

Jadi, kalo pas di konter make up dan kamu mau nyobain testernya. Bisa coba swatch di tangan bagian dalam ini. Biar bisa liat warna produknya.

Blush on Mizzu ini harganya terjangkau banget. Dengan kualitas yang oke gini, worth it banget buat kamu miliki.

Ukurannya yang unyu ini bikin enak dibawa pas bepergian. Masukin di dompet kecil aja bisa looh.


Ini aku cobain langsung dan hasilnya bikin wajah terlihat segar bercahaya.

Setuju ga?

Cusss, cobain sendiri deh! 😘
COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES