Rabu, April 24, 2019

Jangan Monetisasi Blog Sebelum Melakukan 4 Hal Ini


Tahukah kamu? Bagi sebagian orang, blogging bukanlah sekadar hobi. Blog bisa menjadi ladang uang yang menjamin rekening bank tetap terisi meskipun kita sedang santai bahkan liburan. Apalagi, modal ngeblog ternyata lebih murah jika dibandingkan dengan bisnis lainnya. Tidak heran jika orang berbondong - bondong membuat blog dan berlomba menikmati manisnya aliran uang dari bisnis berbasis hobi yang satu ini.

Beneran bisa menghasilkan loooh...

Nah, gimana caranya biar bisa menghasilkan uang melalui blog?  Jawabannya adalah dengan melakukan monetisasi. Tapi, monetisasi blog tidak bisa dilakukan segera setelah kamu memposting artikel pertama. Butuh ketekunan dan kreativitas untuk memulai dan meningkatkan performa blog hingga akhirnya bisa menghasilkan uang. Maka dari itu, jangan monetisasi blog sebelum kamu melakukan 4 hal ini.


1. Pilih niche blog yang diminati


Ada beberapa alasan penting mengapa memilih niche menjadi hal yang cukup penting dalam membangun sebuah blog. Salah satunya adalah sulitnya mengembangkan konten karena niche yang bukan sesuatu yang kita kuasai sepenuhnya. Sebelum hitung-hitungan masalah untung-rugi dari niche blog yang kamu tetapkan, mulailah dari apa yang  diminati dulu. Bisa juga dengan memulai dari alasan nge-blog itu sendiri.

Baca:

KENAPA MENULIS BLOG? AKU DAN BLOG, CERITA DALAM SEPENGGAL TULISAN


Untuk mengetahui apa yang sekiranya benar-benar kamu minati, kamu bisa mencoba menuliskan list rutinitas sehari-hari. Bisa mulai dari kegiatan apa yang paling ditunggu, apa yang membuat kamu tidak pernah bosan, apa hal yang muncul berulang kali sejak beberapa tahun yang lalu, hingga forum/komunitas apa yang selalu kamu ikuti. Dari situlah kamu bisa menetapkan niche apa yang sekiranya cocok untuk blog kamu itu.


2. Tentukan nama blog dan domain yang mewakili niche


Setelah memilih niche apa yang cocok untuk blogmu, langkah selanjutnya adalah menentukan domain yang merepresentasikan niche blog dan konten-konten yang ada di dalamnya. Kamu tidak perlu terburu-buru dalam menentukannya karena fungsi domain dalam nama blog termasuk krusial dan berperan penting untuk menyukseskan blogmu. Kamu bisa memanfaatkan Blog Name Generators sebagai tools yang membantu memudahkanmu dalam menentukannya.

Selain itu, ada baiknya apabila kamu menggunakan Top Level Domain (TLD) sebagai pilihan nama blog kamu. Dengan TLD, nama blog kamu akan lebih mudah diingat oleh para pengunjung. Blog pun akan terlihat lebih profesional daripada blog yang masih menggunakan subdomain. Pilihan harga domain yang murah untuk Top Level Domain seperti .com, .net, .org, dan yang lain pun bisa didapatkan di berbagai penyedia web-hosting.


3. Pilih template yang responsif


Berbagai informasi yang ada di internet saat ini bisa diakses dengan lebih mudah. Dulu sebelum adanya smartphone, akses internet hanya terbatas pada perangkat komputer saja. Hal ini juga mempengaruhi tren pengunjung blog yang mulai beralih lebih banyak ke perangkat seluler daripada komputer. Faktor ini pula yang menjadikan pemilihan template yang responsif sebagai salah satu hal yang krusial dan harus dipertimbangkan sejak awal pembuatan blog. Selain mempermudah waktu load siapapun yang mengakses blog kamu, template yang responsif juga mampu mempercepat Google untuk mengindex konten yang kamu publish.

Template yang responsif dapat dilhat melalui seberapa lama halaman blog kamu ter-load saat pengunjung melakukan klik untuk membukanya. Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi responsivitas suatu template blog. Beberapa di antaranya adalah image, plugin, hingga desain web dari template tersebut. Semakin sederhana desainnya, semakin responsif template tersebut bekerja pada blogmu.

Untuk memastikan kembali apakah template yang kamu gunakan sudah termasuk template yang responsif, kamu bisa melihatnya dari seberapa lama halaman blog-mu ter-load. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi responsivitas suatu template, seperti besaran image, plugin, hingga desain web yang ada di dalamnya.


4. Buatlah konten yang berkualitas secara konsisten


Ketika kita mengunjungi satu blog secara rutin dari waktu ke waktu, kita tahu bahwa blog tersebut telah mengakomodir kebutuhan informasi yang kita perlukan. Maka dari itu, penting sekali untuk membuat konten yang berkualitas dan bermanfaat. Tujuannya agar para pengunjung blog tidak bosan dan terus kembali berkunjung ke blog kamu.

Membuat konten yang berkualitas dan menjamin pengunjung blog datang kembali bukanlah sesuatu yang mudah. Namun, hal ini tidak berarti susah untuk dilakukan. Manfaatkan Google Trends maupun AdWords Keyword Planner untuk menemukan kata kunci yang tepat. Dari situ, kamu bisa mengembangkan outline konten menjadi lebih relevan bagi pembaca. Makin baik lagi apabila kamu bisa membuat konten evergreen yang akan terus dicari melalui search engine seperti Google, agar pembaca baru juga lebih banyak berdatangan ke blog kamu.

Dari keempat hal tersebut, adakah yang sudah kamu lakukan untuk persiapan memonetisasi blog? Apabila kamu konsisten dalam mengelolanya, percayalah bahwa blog yang kamu miliki pasti akan menghasilkan dan menjadi fulltime blogger bukanlah isapan jempol belaka.

Happy blogging!

Senin, April 08, 2019

Lestari Hutanku. Sebuah Kisah Tentang Aku dan Hutan



Aku dan Hutan


Hutan. Sebuah kata yang tak asing kudengar. Sejak aku kecil hingga sekarang. Kebetulan ayahku adalah seorang yang berkecimpung tentang itu. Saat aku kecil, kuingat betul bahwa masyarakat desa sering berkunjung ke rumah kami. Di teras rumah yang tak terlalu lebar itu mereka duduk berkumpul membicarakan hal yang aku tak terlalu paham kala itu. 

Dari merekalah aku tahu bahwa ayahku adalah seorang PPL. Begitu mereka menyebutnya. Walaupun aku tak tahu artinya. 

"Betul ini rumah Pak Al yang PPL itu?" tanya salah satunya yang baru pertama kali berkunjung ke rumah kami. 

Oh, ayahku adalah seorang PPL. Berteman dengan banyak orang, sering mengajarkan cara-cara menanam, membagikan berbagai bibit. Itulah yang kutahu tentangnya. 

Kemudian kenapa hutan menjadi akrab denganku? Konon ibu bercerita. Saat aku kecil, aku menangis ingin ikut ayah kerja. Saat itu aku tak tahu kalau ayah pergi bekerja artinya pergi ke hutan atau melihat kebun warga. 

Hari itu jadwalnya adalah masuk hutan. Kau merengek ingin ikut. Akhirnya, ibu membekali ayahku sebuah tas yang berisi cemilan serta beberapa botol susu sebagai sangu. Sebuah tindakan berjaga mana tahu aku lapar saat di hutan. 

Katanya, kami pulang kemalaman. Hari itu hujan deras dan aku bersembunyi di belakang ayah tertutup mantel hujan model ponconya. Katanya juga, sejak saat itu aku sudah tak merengek ingin ikut lagi saat ayah pamit berangkat kerja. 

"Di rumah bae. Jauh masuk ke hutan. Gelap." kataku ketika ditawari ayah ikut kerja lagi. 


Puisi Tentang Hutan




Entah kapan tepatnya sebuah puisi karangan ayah ini dibuat. Memori yang masih tersimpan yaitu aku yang masih sekolah TK sering kali membacakan puisi ini. Pernah saat lomba atau ketika bu guru meminta kami tampil di depan kelas. 

Pada saat keluarga besar berkumpul di rumah nenek, biasanya saat lebaran, anak-anak diminta untuk menampilkan sesuatu. Baik itu nyanyian, tarian/joget, pokoknya apapun. Semacam ajang unjuk bakat antar sepupu. Setelah menampilkan kemampuan masing-masing, para nenek, tante, om, dan uwak biasanya memberi uang jajan atau makanan ringan. Semacam amplop THR anak jaman sekarang.

Tak usah ditanya apa yang kutampilkan. Tentu puisi karya ayah ini yang selalu jadi oncak

Baru ketika beranjak SMA aku mulai paham betul apa dan siapa ayahku. Ia yang mengawali karirnya sebagai Penyuluh Kehutanan atau biasa dipanggil masyarakat setempat PPL, kemudian adalah Patriot Rimba bagiku. 

Banggaku ketika pulang kampung di perbukitan wilayah Semendo. Seseorang menceritakan tentang ayah semasa muda. Melihat hijaunya bukit di sana membuatku senang. Puisi itu adalah cerita tentang pekerjaan yang dicintainya. Mulai saatku jiwaku bergelora ingin ikut melestarikan hutan.


Forest Talk with Blogger Palembang 


Sebuah notifikasi dari ponselku membuat mata berbinar saat itu. Ada sebuah acara bertajuk hutan. Kubaca bahwa acara itu bertemakan "Menuju Pengelolaan Hutan Lestari". 



Waaaah... Pas!!! 

Dengan cepat akupun mendaftarkan diri. Kemudian berharap menjadi salah satu yang mendapat undangannya. Aku penasaran apa saja yang akan dibahas sepanjang acara. Hingga akhirnya undangan yang kutunggu sudah tersenyum dalam emailku. Kubalas senyumnya lebar-lebar. 

Hari Sabtu, 23 Maret yang lalu akupun berangkat pagi-pagi ke Palembang. Jaraknya hanya 2 jam saja dari rumah ibuku di Karang Endah. Sudah kusiapkan dari minggu sebelumnya sejak undangan diterima. Ketika ijin sudah di tangan, aku pun berangkat. 

Sejak Jum'at aku sudah sampai di Karang Endah bersama anakku. Pagi-pagi kami berangkat dari Muara Enim. Sudah janjian dengan ibu untuk menitipkan Faraz pada hari Sabtu. Aku semangat berangkat karena acara ini memang sangat dinanti. Bersama adik dan ayah kami menuju lokasi acara, Kuto Besak Theater Palembang. 

Faraz dan Mama otw Karang Endah

Semacam mendapat hadiah besar rasanya ketika kuterima undangan untuk hadir ke acara itu. Betapa tidak, rasanya aku mungkin bisa mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di hati tentang usaha konkret pelestarian hutan itu. 

Tunggu sebentar, aku ceritakan sebuah rencana gila yang pernah kubuat. Inginku melestarikan hutan, kemudian kumulai sendiri. Hingga akhirnya tak jadi-jadi. 


Rencana Gila


Tamat kuliah tahun 2012 dulu, aku sempat memikirkan sebuah rencana 'gila'. Aku ingin menanam pohon sepanjang jalan dari Karang Endah ke Palembang. Pikirku, aku bisa berhenti di beberapa titik dengan jarak tanam yang sidah kutentukan, lalu membuat lubang tanam, dan voila!!! Tertaman satu pohon. 

Bahkan aku sudah mencorat-coretkan rencana gila itu di buku. Lalu kemudian agak buyar ketika kusampaikan pada orang dewasa lainnya. 

Katanya: memang itu tanah siapa? Maukah empunya tanah ditanami? Nanti kalau malah mengganggu jalan gimana? Mana tau jalan akan dilebarkan lagi suatu hari nanti. 


Ha Ha Ha. 
Memang gelora muda itu cuma modal mau. Akhirnya, pelan-pelan kumundurkan target setelah mendengar masukan dari ayah: Ajak orang lain. Buat komunitas dulu misalnya. 

Akhirnya lahir sebuah Fan Page Facebook yang kuprakasai: Keep Green Sumateraku

FP Komunitas yang kubuat dulu

Kalau diingat-ingat, saat itu aku nekat karena musibah kabut asap parah. Sekarang halaman di facebook ini vakum. Tak tahu harus kuapakan. Hingga akhirnya aku punya beberapa ide lanjutan untuknya setelah hadir ke Forest talk. 


Upaya Mudah Melestarikan Hutan 


Dari bincang tentang hutan tanggal 23 lalu itulah aku medapat banyak jawaban. Baru kutahu ada sebuah yayasan yang peduli perihal itu. Bahkan memiliki banyak koneksi dengan pihak lain dalam upaya pelestarian hutan ini. 

Sebut saja Yayasan Doktor Sjahrir. Ada Ibu Amanda Katili yang kemudian menceritakan bahwa hutan kita di Indonesia ini tengah sekarat. Sedih rasa hati mendengarnya. Berbagai fakta disampaikan dan aku melongo duduk di depan. 



Acara Forest Talk ini dipandu oleh Kang Amril Taufik Gobel. Urutan pembicaranya dimulai dengan Ibu Dr. Amanda Katili Niode selaku Manager Climate Reality Indonesia, lalu Ibu Dr. Atiek Widayati, dari Tropenbos Indonesia, ada juga Ibu Ir.Murni Titi Resdiana,MBA dari Kantor Utusan Khusus Presiden bidang  Pengendalian Perubahan Iklim, dan Bapak Janudianto dari APP Sinarmas.

Narasumber dan Moderator Acara


Ketika Ibu Atiek mulai menyampaikan paparan tentang keadaan hutan, serta memberikan data hasil penelitian terkait, aku sedih. Apalagi bagian koridor hutan di Kalimantan. Tentang habitat Orangutan yang rusak. Rasanya benar-benar terbayang kasihannya para Orangutan itu. Selama ini hanya dengar dan lihat dari infografis saja. Betul ada rasa kasihan dan sedih juga namun makin tersentuh ketika ada sesorang yang memang meneliti di sana kemudian menceritakannya. Seperti membayangkan aku ada di sana. 

Tapi, Bu Atiek menghibur sekaligus mengobati hati yang sedih ini dengan sebuah kalimat penuh semangat: Fokus kita adalah mencari solusi atas duka tersebut! 💪 


Mengenai keadaan hutan belantara yang memang semakin sedikit luasnya, kita tak bisa berbuat banyak. Rimba itu adalah bentukan dari berpuluh bahkan beratus tahun sehingga jelas tak mudah untuk mengembalikannya. 

Jangan marah ketika kemudian cadangan oksigen kita berkurang drastis ditengah jumlah manusia yang terus bertambah. Miris kan??? 

Lalu, apa yang bisa kita perbuat??? 

  • Mulai dari diri sendiri. Bisa mulai menanam pohon di sekitar. Memang tak akan menutup jumlah cadangan oksigen dari belantara, tapi lebih baik daripada dibiarkan menyemak saja. 
  • Mulai ambil/manfaatkan hasil hutan non kayu. Jelas kita butuh waktu untuk membesarkan sebatang pohon. Jadi, jangan ringan tangan menebangnya. Sudah ada HTI (Hutan Tanaman Industri). Jangan ditambahi dengan penebangan liar. 
  • Pakailah produk yang ramah lingkungan  Agar ekosistem tak cepat rusak. 
  • Kurang-kurangi sampah non-organik. Pakai kantung belanja dari kain misalnya, pakai sedotan stainless atau langsung minum dari gelas saja. 

Lihat, kita bisa melakukannya di rumah kan? Melestarikan hutan bukan hanya menyoal tanam pohon. Walaupun memang jika setiap orang menanam satu pohon tentu akan jadi lebih baik. 


Hasil Hutan dan Ekonomi Kreatif


Selanjutnya Ibu Titi bergantian menyampaikan tentang alternatif hasil hutan yang bisa dimanfaatkan.


Saat semua orang mulai mengincar produk kayu, Bu Titi membuat kami terpesona dengan alternatifnya. Dalam paparannya, ada beragam produk hasil hutan non-kayu yang nampaknya bisa diproduksi masal sebagai pengganti kayu itu.

Salah satu yang membekas di hatiku ketika beliau menyampaikan sebuah inovasi dari kelapa. Kulihat semacam papan yang katanya terbuat dari serbuk kayu kelapa yand di-pressed. Aku membayangkan sejenis multiplex nampaknya. Hmmm... Oke juga kan? 

Lalu, sabut kelapa. 
Jaman aku kecil masih sempat merasakan penggunaan sabut kelapa untuk jadi penggosok piring. Nah, dalam presentasi Bu Titi dari kelapa itu juga dibuat sabut namun dengan bentukan spons ala Scott bright. Jadi, sudah berbentuk modern. 

Ada juga gambar baju yang terbuat dari serat nanas. Hebat toh? Jika memang kemudian bahan-bahan alternatif ini membudaya marak digunakan mungkin kita bisa membuat hutan kembali rimba. Begitu bayanganku. 

Ah, seandainyaaa... 


Terakhir adalah cerita dari Pak Janu tentang program yang diusung oleh APP Sinarmas. Namanya DMPA (Desa Makmur Peduli Api).

Ingat pemantik rencana gilaku dulu? Asap. Gara-garanya ya api dari kebakaran hutan dan lahan itu. Ternyata penyebabnya bukan karena kekeringan semata. Lebih banyak disebabkan oleh 'kecelakaan' sengaja tak sengaja.

Kenapa kubilang sengaja-tak-sengaja? Karena budaya masyarakat yang membuka lahan untuk ditanami dengan metode bakar. Niatnya mungkin ya untuk bercocok tanam kelak. Dipilih lah musim kemarau agar proses bakar mudah, lalu karena kirangnya edukasi tak sengajalah jadi kebakaran. 

Nah, program DMPA ini mengedukasi masyarakat terkait hal bakar-membakar itu. Bahwa baiknya tidak melalui metode bakar melainkan tebas saja. Juga mendukung masyarakat desanya agar maju hasil pertaniannya dengan memberika pelatihan-pelatihan bernarasumber handal. 

Tak cuma itu, disepanjang acara ini juga ada pojok-pojok meja yang memamerkan barang-barang industri kreatif memanfaatkan dan mengombinasikan hasil hutan non-kayu. Ada juga pojok yang menampilkan hasil olahan limbah kayu. 

Mellin Gallery Palembang

Eco-Print dari Galeri Wong Kito 

Abon lele, Bubuk Jahe, Jagung dna Beras Organik (Binaan APP Sinarmas) 

Dengan melirik pada potensi hutan selain kayu ini, kita bisa melihat ragam alternatif yang tak kalah bagusnya. Lihat! Melestarikan hutan bisa dimulai kapan saja ternyata. 

Dengan melakukan hal-hal yang seringkali dianggap sepele itu ternyata memberi dampak hebat pada alam, khususnya ketersediaan hutan. 

Kemudian aku tahu, halaman Facebook yang kubuat dulu bisa dipakai untuk menyuarakan pesan-pesan ini. Mungkin aku tak harus menanami sepanjang jalan, melainkan melalui tulisanku akan kuketuk perlahan rasa peduli alam itu. 

Lestarilah hutanku! 

Terima kasih telah membuka wawasanku kembali melalui Forest Talk ini. 



***
Bae: saja (bahasa Palembang)
Oncak: yang dijagokan 

Kakak Bayi: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day12


Faraz dah jadi Kakak Bayi nih.
Sebenernya emang udah semenjak ada Adek  Fatih, anaknya Te Imel. Trus sekarang ada Adek Inaya. Senengnyaaaa...

Dari Karang Endah kemarin itu, aku sudah sounding ke Faraz kalau nanti di Muara Enim kita mau jenguk bayi.

"Faraz, nanti kita liat Baby yaaa..." kataku waktu itu.

Faraznya ketawa dan senyum aja. Dipikir aku becanda kali ya? Ha Ha Ha.

"Faraz nanti sayang baby ya. Kan Faraz tu Kakak Baby sekarang." kataku di lain kesempatan. Masih sounding aja terus.

Aku memang begitu. Untuk melakukan aktivitas baru atau kalau aktivitasnya sudah lama tidak dilakukan biasanya sounding lagi.

Niatnya biar dia ga kaget. Misalnya kalau mau pergi naik bus. Aku akan bilang oada Faraz soal itu minimal di malam sebelum berangkat. Bahkan seringnya justru sejak sehari atau dua hari sebelumnya.

Begitu pula tentang pergi menjenguk bayi ini. Alhamdulillah kakak sepupuku melahirkan. Mumpung masih di Muara Enim aku mau menjenguk sekalian.

Waktu kami sampai di sana, Faraz nampak salah tingkah. Dia mondar-mandir di seputar ruang tamu itu.

Ketika bayinya dibawa ke depan dan aku menggendongnya, Faraz senyum-senyum sambil mendekat.

Ayuk Lia, sepupuku yang baru melahirkan ini membolehkan Faraz mencium Baby Naya. Faraz pun menciumnya. Lucu sekali sayang tidak sempat diabadikan.

Aku sempat mewakili Faraz untuk menolak ijin cium bayi tadi. Karena aku takut bayinya kenapa-napa. Kan bayi itu sensitif, trus Faraz juga sudah sangat aktif. Takutnya ada kotoran di kulit Faraz atau Faraz terlalu keras cium bayinya.

Ternyata ketakutanku ditepisnya. Tak apa cium baby, begitu bahasa tubuh Yuk Lia. Akhirnya kubolehkan Faraz mendekat dan sukses cium lembut nan menggemaskan tadi.

Lalu, aku ajak Faraz duduk di sebelahku. Nampaknya dia senang melihat Baby Naya. Hihihihi...

"Sini Faraz duduk sebelah mama kalo mau liat baby." kataku padanya.

Duduklah ia sambil senyum-senyum menatap adiknya itu. Aku beri kode pada Papahnya Faraz untuk mengabadikan momennya.

Cekrek!

#hari12
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Minggu, April 07, 2019

Membiasakan Menabung: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day11


Weekend kemarin kan Faraz mudik ke rumah neneknya di Karang Endah. Dalam rangka menghadiri undangan walimah Bundari-nya.

Ternyata pas mau pulang, nenek buyutnya memberi sebuah amplop. Katanya untuk Faraz. Alhamdulillah barakallah, Nek.

Namanya orang tua kan ya, ada aja mau memberi pada anak cucu. Eh, Faraz ini mah udah cicit itungannya. Hehehe...

Nah, begitu sampai di rumah, aku ajak Faraz untuk membuka amplop pemberian nenek buyut. Lalu kuajak ia memberi makan 'ayam' - nya.

"Ini dari Nek Buyut, Dek." aku memperlihatkan uang miliknya itu.

Kemudian kulipat dan kuberikan dalam genggamannya. Sambil bercerita, kuselipkan juga jurus komunikasi produktif yang kupelajari. Yaitu Refleksi Pengalaman.

"Ini tuh uang dari nenek. Faraz kan masih kecil, kita tabung aja uangnya. Masukkan kasih makan ayam Faraz. Nanti pas mau sekolah ada uang deh buat beli buku dan pensil Faraz. Gitu ya, Dek." Aku mulai mengoceh. 

Walaupun Faraz belum bisa bicara, aku selalu mensugestikan bahwa ia mengerti. Jadi, aku tetap saja bicara.

"Mama dulu suka simpan uang juga kecil. Kalau ada yang kasih uang, masukkan ke celengan begini. Nanti bisa dipakai beli barang yang perlu. Beli buku, beli pena, crayon, kalau cukup mau beli sepeda juga bisa." lanjutku. 

Faraz memperhatikan aku yang sibuk bicara. Entah paham entah tidak. Ha Ha Ha. Bagiku ia (mencoba) paham.

Lalu kuangkat celengan ayamnya ke depan dia. Kuarahkan tangannya yang memegdang uang tadi.

"Masukkan ke lubang sini, Dek." Aku menunjuk tempat memasukkan uangnya.

Senyum di wajahnya merekah bergantian dengan ekspresi serius mencoba memasukan lipatan uang tadi.

"Yeayy!!! Dah masuk. Pintar Faraz sudah menabung yaaa." pujiku. 


#hari11
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Sabtu, April 06, 2019

Kondangan: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day10



Masuk hari kesepuluh.
Faraz ikut aku pulang ke Karang Endah atas instruksi Papahnya. Beberapa minggu lalu kami diingatkan sebuah undangan melalui DM Instagram.

Walimahan Bundari.

Karena tidak memungkinkan untuk mengajukan izin atau cuti kerja lagi pada bulan ini, terpaksa papah tidak bisa ikut. Katanya: "Faraz dan Mama aja yaaa... Sampaikan salam buat Dek Dera."

Akupun mengiyakan dan pulanglah kami berdua naik bus Damri. Alhamdulillah Faraz tidak terlalu rewel dalam perjalanan. Bisa dibilang sepanjang jalan ia tertidur. Memang kupilih jam-jam tidurnya.

Baca:


Saat kondangan, biasanya ia tertidur. Jam 10 hingga jam 12 itu waktu kritis matanya mulai berat. Pengalaman sebelumnya, Faraz selalu tidur saat kondangan, tak peduli dengan suasana yang ramai. Makanya kami selalu bawa stroller-nya.

Tapi hari itu berbeda, Faraz belum mengantuk dan semangat lari ke sana kemari. Untung aku ditemani adikku. Jado, bisa bergantian momong Faraz walau tanpa papanya.

Mumpung kondangan hari ini ia belum ngantuk, akupun mengajarinya duduk manis saat acara berlangsung. Instruksi singkat dan jelas jadi jurus jitu yang kupilih kali ini.

"Adek belom ngantuk?" tanyaku.

Faraz geleng-geleng.

"Sini duduk di kursi aja ya." lalu kuangkat dan kududukan Faraz di kursi kosong.

Matanya sibuk melihat kanan dan kiri. Belum pernah duduk di kursi sendiri apalagi dalam suasana ramai begitu. Hehehe...

Mungkin ia heran.


#hari10
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Jumat, April 05, 2019

Faraz Berpose: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day9



Aku mulai paham kenapa akhirnya Game ini disebut tantangan. Jelas menantang sekali ternyata ketika harus mengaplikasikan ilmu, mendokumentasikannya, lalu menarasikan ulang hasil prakteknya.

Yang membuat ini semakin menantang adalah pengerjaan yang runtut setiap hari. Whoooaah... Walaupun aku suka menulis dan bisa menulis dalam 30 menit dengan jumlah kata yang lumayan, tapi tantangan ini bukan kaleng-kaleng. Ha Ha Ha.


Hari ini Mama Faraz lumayan (sok) sibuk. Alhamdulillah tetangga sebelah baru menempati rumah beberapa minggu lalu. Malam ini rencananya akan ada doa bersama. Diajaklah mama rewang alias masak-masak untuk menu makan malamnya.

Syukurnya Faraz anteng dan ada teman-temannya juga yang bersedia main bareng sambil ngasuh. Walaupun sesekali perlu mama intip. Maklum masih anak-anak kan yaaa...

Saat sedang melihat aktivitas main mereka mama keidean mau mengabadikan kebersamaan itu. Kelak saat semuanya sudah tumbuh dewasa tentu senang punya foto kenangan bersama. Ups, sebenarnya ini pengalaman mama sih. Senang lihat foto-foto masa kecil.

Di atas itu adalah salah satu hasil fotonya. Setelah beberapa kali dijepret, mama lihat Faraz mengikuti arahan Kak Radit-nya dengan baik.


Memang belum pernah secara khusus Faraz kuajari berpose atau bergaya saat difoto. Biasanya aku foto dia saat sedang beraktivitas saja. Candid istilahnya. Atau seringkali saat ia kebetulan sedang menatapku.

Ternyata Faraz cepat paham ketika Kak Radit mengajarinya untuk menggunakan kedua jari telunjuk dan tersenyum.

"Waah, Faraz bisa pse diajarin Kak Radit ya. Hebat jadi bisa gaya pas foto ya Faraz." pujiku saat itu.

"Bilang makasih sama Kak Radit dah ajarin adek yaa..." aku menstimulasinya lagi.

Lalu kuucapkan terima kasih pada Kak Radit. Harapannya nanti saat Faraz sudah bisa bicara dia ingat aku mencontohkan untuk berterima kasih.


#hari9
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Kamis, April 04, 2019

Pasang Kunci: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day8

Sudah tiga hari ini Faraz jadi cengeng. Ketika Papahnya pamit kerja pada pagi hari, ia akan mulai menangis, merengek kuat ingin ikut. Tidak cuma Papahnya yang kewalahan dibuatnya, aku pun jadi bingung. Karena memang tak memungkinkan menuruti maunya itu, akhirnya Faraz dibiarkan menangis sebentar.

Tugasku adalah segera membujuknya agar ceoat berhenti menangis. Beberapa hal yang sudah kulakukan adalah mengajaknya memberi makan ikan,

Baca:

KASIH MAKAN IKAN YAAA: GAME LEVEL 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF #DAY6



Juga mengajaknya menari alias joget-joget, dan minum susu. Semuanya berhasil membuat Faraz diam. Alhamdulillah.

***

Pagi ini terulang kembali. Saat Papahnya pamit hendak berangkat kerja, Faraz menggantungi lehernya minta diajak. Demi membujuknya, Papah pun mengajaknya naik ke atas motor. Tak hanya itu, ia diajak berkeliling sekali putaran demi tak menangis lagi. Padahal, hari sudah siang. Bisa-bisa telat nih.

Sayangnya, sekali putaran tak memuaskan Faraz. Ia meraung hebat ketika aku terpaksa mengangkatnya dari atas motor itu. Sudah waktunya Papah berangkat agar tak semakin terlambat. Papah pun pamit dan Faraz sibuk meronta dari dekapanku.

Punggung Papah Faraz sudah tak terlihat. Aku cepat-cepat membawa Faraz masuk. Kubujuk ia untuk berhenti menangis.

"Yok, Dek kita kasih makan ikan adek" ajakku.

Faraz mengangguk setuju. Perlahan tangisnya mereda dan ia tak lagi berontak ingin lepas dari gendonganku. Sisa air mata masih membekas di ujung matanya. Raut wajahnya serius melihatku mengambil ember berisi pelet makanan ikan.

Setelah memberi makan ikan, ia oun meminta untuk mandi berendam dalam ember di luar. Kenapa tidak? Aku pun memandikannya di sana.

***

Setelah mandi, aku siapkan pisang goreng cokelat untuknya. Faraz nampak antusias dan alhamdulillah lahap menyantap pisang itu.

"Faraz mau makan pake garpu atau langsung pake tangan?" aku menawarkan. 

Ia meraih garpu yang kupegang. Pagi ini Faraz sarapan pisang goreng pakai garpu. Hehhe...

Setelah makan, Faraz bergegas masuk ke kamar mainnya. Ia mulai sibuk bermain dengan balok-balok plastiknya. Suara lucunya kadang terdengar. Sudah 3 hari ini pula ia sering 'berbicara' sendiri dengan bahasanya. Menggemaskan.

Kemudian ia nampak bosan. Lalu merebahkan badannya di kasur dan mulai memperharikan sekitar. Matanya tertuju pada kunci yang tergantung di pintu kamarnya.


Faraz kemudian bangkit dan berjalan menuju pintu itu. Ia menunjuk - nunjuk ke arah kunci. Matanya menatapku, seolah memintaku mengambilkan kunci itu untuknya.

"Faraz mau minta tolong mama ambilkan kunci?" aku memastikan. 

Kepala mungilnya mengangguk mantap.

"Ini kuncinya," aku memberikan kunci itu padanya. 

Senyumnya merekah. Lalu ia berjalan kembali ke arah pintu tadi. Gelagatnya mengisyaratkan agar aku memasangkan kembali kunci itu.

"Kenapa?" tanyaku.

"blaplub nana blup x'" ?! #! #" bahasa khas yang hanya dimengertinya sendiri.

Aku pura-pura paham dan menebak-nebak setiap responnya.

"Oooo... Kuncinya mau dipasang lagi ya?"

Faraz mengangguk. Wah, tebakanku tepat.

"Coba Faraz pasang sendiri. Bisa kok. Pakai kursi Faraz tu." aku menunjuk kursi kecilnya. 

Seperti paham maksud instruksiku, ia pun mengambil kursinya. Dibawanya kursi kecil itu ke dekat pintu dna kemudian hap. Sampai!!! Tangannya berhasil mendekat ke lubang kunci.

Mulailah ia dengan kesibukan barunya: pasang kunci.


Yeayyy!!!
Setelah lama berkutat dengan kuncinya, ia pun berhasil. Langsung senang deh dia!

"Kereeen! Adek bisa pasang kunci. Wow!" pujiku




#hari8
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

@institut.ibu.profesional
COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES