Kamis, November 02, 2017

Tips Kesehatan: Menulis Sebagai Terapi

manfaat menulis sebagai terapi jiwa


Apakah menulis benar bisa digunakan sebagai terapi jiwa???

"Lewat tulisan Anda menemukan teman yang selalu menerima tanpa menghakimi karena tulisan adalah keluarga yang selalu menerima." - Anonym

Apakah kutipan ini terlalu berlebihan? Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak.

Iya, berlebihan.
Tentu saja tidak bisa menyetarakannya dengan keluarga. Keluarga [inti] itu adalah makhluk yang akan selalu mengerti kita. Lihat saja buktinya! Seberapa marah ataupun kesal kita pada salah satu anggota keluarga pasti akan berbaikan sendiri. Sudah ada benang penghubung yang sangat kuat dalam aliran darah! Keluargaku adalah segalanya.

Aku pernah marah kepada adikku pun sebaliknya.
Tapi tunggu saja beberapa waktu, kami akan berdamai dengan sendirinya.
Kadang aku yang memulai. Kadang ia yang memulai.
Terkadang juga kami evaluasi menyampaikan alasan marah dan kesal tadi lalu kemudian mencoba memahami dan belajar agar tak terulang lagi.

Lihat!
Keluarga ini lah yang selalu menerima bukan tulisan semata.


ATAU


Tidak, tak berlebihan.
Kadang kala kita tak bisa membiarkan waktu berjalan untuk mengobati begitu saja. Butuh media yang bisa menjembatani. Tulisan lah teman yang akan selalu menerima tanpa menghakimi.
Beragam alasan dapat kita tuangkan dan sampaikan melalui tulisan. Apa gunanya? Untuk menuangkan perasaan yang kadang tak bisa- tak mampu- tak kuasa untuk serta merta disampaikan begitu saja.

Berselisih dengan saudara (adik-kakak) tentu berbeda dengan berselisih dengan orang tua atau pasangan. Walaupun kesannya hubungan dengan orang tua/pasangan lebih dekat dan hubungan saudara diurutan berikutnya, ternyata tak membuat berbaikan dengan orang tua/pasangan lebih mudah daripada berbaikan dengan saudara ketika berselisih.

Justeru karena hubungan dengan orang tua/pasangan itu lebih dekat, segalanya jadi lebih kompleks alias rumit.

Ada banyak pertimbangan ketika akan menyampaikan alasan marah karena takut salah bicara lalu tak sengaja melukai perasaan satu sama lain.

Berbeda dengan hubungan saudara (adik-kakak) yang juga dekat namun lebih sederhana.
Menyampaikan alasan menjadi penting dan dapat dengan mudah diutarakan. Ada semacam rasa 'adik akan dengarkan kakak' karena merasa kakak adalah panutannya. Juga sebaliknya 'kakak akan dengarkan adik' karena merasa adik adalah tempatnya belajar.



Nah, kutipan tadi menuai respon berbeda ketika disikapi dengan dua sudut pandang.
Yang pertama, ketika kita merasa bahwa tulisan dan keluarga (makhluk) adalah sesuai yang sangat berbeda. Saklek berpendapat bahwa tak bisa tulisan menggantikan peran itu. Memang ada benarnya.

Sementara yang kedua, ketika kita mencoba lebih memahami hati yang kompleks. Memaklumi bahwa walaupun punya hubungan darah, hati setiap orang berbeda. Perbedaan itu bisa dipengaruhi oleh sifat bawaan/karakter, adat-budaya, kebiasaan, dan lainnya. Jadi, tak semua yang diamini oleh hati si A akan langsung bisa berterima. Meskipun tak jarang juga pada suatu keadaan langsung bisa klik alias berterima.

Bagaimana jika keadaannya tak bisa langsung berterima?
Di sini lah waktu yang mengobati. Mungkin tak perlu terburu-buru sibuk mengklarifikasi atau menjelaskan. Bisa pilah dan pilih waktu yang tepat dan ketika keadaan hati sudah terkondisikan lagi.

Bagi umat muslim, ada amalan yang baiknya dikerjakan ketika hati sedang gundah-gulana, sedih, sepi, marah, kesal, dan beragam aura negatif lainnya. Suamiku berpesan untuk lekas beranjak dan berwudhu, lalu mengucap 'auzubillahiminasy syaitonirrojim dan dilanjutkan dengan beristighfar sebanyak-banyaknya. Sebenarnya memang begini yang ada dalam ajaran agamaku. Barangkali teman-teman banyak yang sudah tahu. Aku pribadi masih perlu banyak belajar, terutama mempraktekannya. Bismillah.

Selain melakukan hal yang diperintahkan Allah tadi, menulis bisa menjadi solusi.

Menulis bisa dilakukan kapan saja baik saat suasana hati positif atau negatif.
Ketika tengah meluap kebahagian dalam hati, ayo berbagi dengan niat berbagi kebahagiaan, memotivasi, menginspirasi, dan segala niat mulia lainnya. Menulis membantu jiwa menyalurkan energi-energi berlebih itu.

Begitu juga ketika hati sedang dibalut rasa negatif. Tak apa! Tulislah!
Energi itu juga perlu disalurkan agar tak membelenggu diri. Salah satunya dengan menulis.
Jangan lupa niat mulianya yaaa...

Loh?
Dalam keadaan negatif kok bilang mulia? Yang ada orang akan ikut merasa negatif baca tulisan kita.

Eitsss...
Jangan salah dan jangan langsung berkesimpulan demikian.
Menuliskan keadaan hati yang tengah terpuruk dan aura negatif lainnya dapat membuat hati lega.
Arsip tulisan kita bisa menjadi pengingat di suatu hari kemudian.

Ada banyak sekali orang-orang yang terbantu meluapkan bahkan membuang seluruh energi negatifnya melalui tulisan. Contohnya Bapak Habibie yang dirundung sedih lantaran ditinggal belahan hatinya. Hasilnya sebuah buku yang menjadi konsumsi banyak orang saat ini. Beliau memilih untuk menyalurkannya melalui tulisan ketimbang terlarut dalam kesedihan. Alhamdulillah berhasil.

Tak perlu malu untuk menuliskan beragam ekspresi diri itu.
Sudah fitrahnya kita merasa positif maupun negatif.
Perihal kualitas isi tulisan, tentu akan membaik sepanjang waktu.

Menulis adalah sebuah proses.

"Perasaan kita, pikiran kita, jiwa kita tidak selalu sama dengan apa yang diimpikan. manusia selalu bermimpi yang indah-indah tetapi kenyataan seringkali sebaliknya. Banyak hal negatif yang pernah hinggap di perasaan kita, pikiran kita dan jiwa kita. Rasa sedih, sesal, iri, cemburu, marah, takut, kuatir, trauma, phobia, malu, rendah diri, tidak percaya diri dan lain sebagainya. Jangan malu mengakui karena sangat manusiawi. semua manusia pernah merasakannya. Lalu apakah setelah tak dirasakan hilang begitu saja? tidak ternyata ia menumpuk di alam bawah sadar manusia dan bisa menjadi penyakit yang larinya ke fisik. Ada yang sering sakit kepala, sakit perut dan lain sebagainya." (Amalia, 2016)
Selain sebagai media terapi jiwa, menulis juga memiliki beragam manfaat (kabarsehat.com), antara lain:
  • dapat mendorong seseorang untuk mampu berfikir secara logis, sistematis, dan kreatif
  • dapat mendorong adanya interaksi dengan orang lain [hal ini baik untuk pengembangan aspek sosial]
  • dapat mendorong seseorang menjadi bijaksana
  • menjadi media terapi batin/ [jiwa] 
Bagaimana?Siap berekspresi dengan tulisan dan menjadi sehat selalu?


Mari menulis!



Referensi: 
www.kompasiana.com/16dk/menulis-sebagai-terapi-diri_57789bb062afbd8046a883ea 
www.kabarsehat.com/menulis-sebagai-terapi-pikiran-emosi-dan-batin.html

4 komentar:

  1. Menulis memang jadi tempat berbagi di kala tak ada teman untuk berbagi
    Kejadian dan problematika yang kita lalui bisa di tulisa dan menjadi sebuah karya yg dapat di nikmati banyak orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Kak.
      Ada rasa lega ketika sudah dituliskan ya :)

      Hapus
  2. Menulis itu menjaga dan berbagi ilmu. Menjaga agar tidak cepat lupa,berbagi agar lebih bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Mas.
      Jadi bikin ga gampang pikun jg ya.

      Hapus

Hai! Terima kasih sudah mampir yaaa...
Mari tinggalkan jejak biar aku tahu kalau kamu udah ke sini ;)
Mana tau nanti aku mau main juga ke tempatmu!^^

COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES