Jumat, September 29, 2017

Rendahnya Minat Baca dan Tulis: Ada Apa dengan Indonesia?

Rendahnya Minal Baca dan Tulis: Ada Apa dengan Indonesia?


Assalamualaikum.
Di penghujung September ini saya mau sedikit bercerita atau mungkin brainstorming bersama teman- teman. Kita ngomongin soal rendahnya minat baca dan tulis yuk!

Ada apa dengan minat baca tulis kita?
Ada yang salah???

Entahlah.

Duluuuuu banget waktu aku masih kecil-- ini adalah cerita ayahku yang kudengar kala ia tengah bercerita dengan teman atau keluarga lainnya. Aku sering dipanggil 'kutu buku' oleh para tanteku, adik-adik ayah. Soalnya, aku kecil itu saaaaangat akrab dengan buku.

Kami tinggal di kampung. Sementara nenek- kakek dan para tante dari sebelah ayahku tinggal di Palembang. Kalau musim liburan sekolah, tanteku sering mengajak aku dan adikku untuk tinggal di rumahnya. Alasannya biar rumah rame dan anaknya ada teman main.

Sebenarnya aku enggan.
Tapi, tanteku biasanya berjanji soal pergi ke toko buku! Yeaaay!!!
Akhirnya akupun mau ikut berlibur ke rumahnya di kota.

Sebegitu sukanya aku dengan buku sehingga bujukan pergi ke toko buku rasanya menyenangkan sekali.^^

Mereka sering bertanya-tanya, kenapa aku suka sekali membaca.
Saat di rumah tante, aku sering mencari-cari buku cetak alias buku paket Bahasa Indonesia atau PPKn milik sepupuku. Karena kedua buku itu biasanya memuat paragraf cerita untuk kulahap. Jika sudah habis bacaan di sana, aku akan pergi ke warung tante. Tanteku mengisi waktunya di rumah sambil membuka warung sembako. Di dalam warung biasanya ada tumpukan koran yang dibeli om setiap hari.

Dengan dalih menjaga warung, aku pun duduk seharian di sana sambil membaca koran- koran bekas tadi. Biasanya aku paling suka mendahalukan bagian pojok dan teka-teki silang.




Yang pernah kudengar (dan kembali kukonfirmasi ke ayah), katanya karena ayah memang sengaja membiasakan agar kami gemar membaca.

Hah???
Jadi kesukaan akan membaca ini 'dibentuk' ayah?

Aku masih bingung saat mendengarnya waktu itu.

Katanya, ayah kerap kali pura-pura membaca koran, padahal itu adalah koran yang sudah lama dan ayah sudah membacanya. Ayah cuma acting memegangnya dan seolah tengah membaca. Kalau sudah begitu, biasanya aku dan adik kecilku akan duduk mendekat dan ikut membaca mengintip seakan mengerti.

Hahhaaa...
Ternyata ayah dan ibu membuat lingkungan agar kami tertarik dan terbiasa dengan aktivitas membaca itu. Benar saja. Aku dan adikku pun akhirnya tertarik dan mulai mengerti tentang kertas- kertas penuh tulisan dan beberapa gambar itu. Kami tahu bahwa kertas- kertas itu bisa dipelototin (karena waktu itu kami tak tahu bahwa ayah sedang membaca) atau ditulis-tulis (baca: dicoretin). LOL

Intinya kami mulai terbiasa dengan kertas- kertas.

Setelah itu, ayah dan ibu mulai berlangganan majalah anak. Majalah yang masih sangat kusuka hingga sekarang. Kalian pun pasti kenal dengan majalah ini.

Namanya, Majalah Bobo.

Setiap masanya kami menunggu abang pengantar majalah. Berebut membaca kelanjutan cergam Nirmala juga Bona. Tak lupa cerita keluarga bobo dan cerpen- cerpen menarik lainnya.

Sejak saat itu kami makin akrab dengan bacaan dan sering kali kehabisan buku untuk dibaca. Alhasil, koran dan buku pelajaran perlahan digandeng menjadi teman akrab. Sering membaca buku paket mata pelajaran juga buku rangkuman intisari (dulu ada buku RPUL dan RPAL yang sampai usang sering kubaca) memberi bonus peringkat di sekolah.

Tapi, saat itu aku tak sadar bahwa karena membacalah semua bonus itu kuterima.
Membaca sudah menjadi hobi. Menjadi sesuatu yang menyenangkan, yang tanpanya serasa sepi.
Kurasa, ayah dan ibu berhasil membuat suasana akrab dengan kertas- kertas tadi.


Lalu, apa kabar aku yang sekarang?
Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang membuatku sedih. Karena ketika harus bermuhasabah alias refleksi diri, jawabannya akan sangat menyedihkan. Kupikir, ada penurunan gairah membacaku saat ini dibanding aku kecil dulu.

Dulu, betapa koran pembungkus sayur pun kulahap.

Sekarang? Ah, sudahlah.

Sangat terasa lagi saat aku mulai duduk di sekolah tinggi. Biasanya aku tak pilih tebu untuk melahap bahan bacaan. Saat aku kelas 2 SMP, aku membaca buku autobiografi kakekku Mochtar Effendy, salah seorang pejuang bangsa yang tebalnya lebih dari 6 cm dalam waktu 3-4 hari saja.
Autobiografi adalah jenis buku yang membosankan bagi anak direntang usiaku saat itu. Saat anak-anak gemar membaca komik, aku malah sedang suka bacaan sejarahdan politik.

Benar- benar tak memilih bacaan asal bukan sesuatu yang dilarang agama.

Mulai terasa kontras sekali saat aku duduk di bangku sekolah tinggi strata-1.
Bahan bacaan mulai terfokus. Mungkin itu juga yang menjadi pencetus ketidakakrabanku dengan kertas. Aku membaca topik yang berhubungan dengan mata kuliah jauh lebih banyak karena aku tak mau tertinggal dalam hal nilai.

Ya!
Karena belum banyak belajar serta tak berinisiatif membuka diri, aku pun terjerat dalam lingkaran hitam #eaaaaa

Intinya, berjuang karena tak mau IPK turun, tak mau jadi tertinggal di sekolah, dan segala pertimbangan lain yang melulu soal NILAI.

Itu jelas salah!

Tapi apa daya, sistem pun mengarahkan ke sana.
Juga aku yang masih labil saat itu. Banyak sekali target pencapaian hingga lupa betapa 'nikmatnya' membaca. Aku pun kelelahan karena membaca demi nilai sekolah tadi.

Mungkin... Mungkin loh yaaa...
Sistem sekolah kita ini membuat kita terlalu lelah fokus pada hal salah.

Orientasi berubah dari reading for pleasure yang dibangun dari lingkungan keluarga menjadi lebih berat lagi. Ternyata si kutu buku tak benar-benar jadi kutu buku pada akhirnya.

Untuk tugas akhir sekolah tinggiku saat itu, dengan refleks aku memilih topik membaca.
Kenapa? Saat itu aku belum tahu benar hakikat meneliti. Tapi yang kutahu adalah PILIHLAH TOPIK SESUAI MINAT. Akhirnya, secara natural aku memilih topik membaca.

Waktu itu tahun 2011 aku  memulai proposal penelitian.
Berbekal data peringkat literasi dunia dari PISA, aku pun mengetahui bahwa Literasi Indonesia berada di peringkat ke 57 dari 65 negara.

Baca: INVESTIGASI KESULITAN ANAK DALAM MEMBACA TEKS DESKRIPTIF

Hal yang mengejutkan tentunya atau tidak mengejutkan sama sekali?
Intinya ternyata minat baca dan tulis (serta komponen literasi lainnya) masih sangat rendah.

Ternyata, data terbaru tahun 2016 yang kubaca dari tulisan Mbak Dian Restu dalam tulisannya yang berjudul "Mari Cintai Negeri dengan Gemar Membaca dan Menulis Sejak Dini!" bahwa peringkat literasi Indonesia terakhir adalah ke 61 dari 62 negara.

Glek!

Peringkat Literasi dunia 2016
Makin jauuuh...

Kita berada di peringkat kedua DARI BELAKANG!!!

Astaga!

Tahun 2012 aku menilik dari paling akhir, kita pringkat ke-9 dari belakang dan sekarang?

Ini adalah pecutan bagi kita semua walaupun peringkat ini tidak hanya mengcover peringkat baca melainkan peringkat literasi secara umum, tetap saja nilainya membuat sedih.


Apa yang harus kita lakukan?
Seperti nasehat lama yang tak pernah usang. Kita bisa bergerak memulai dari diri kita sendiri. Seperti kisahku yang kubagikan di atas.

Keluarga sudah begitu berusaha membangun suasana dan lingkungan agar aku dan adik-adik akrab dengan budaya literasi.

Bangun budaya berliterasi dari lingkungan keluarga.


Kamipun merasakan manfaatnya walupun pada akhirnya diri terus berkembang dan lalai menjaga semangat berliterasi itu.

Maka, PR-ku adalah mengembalikan semangat dan gairah itu.

Bagian menjaga api semangat ini memang challenging.
Tak serta-merta bisa istiqamah. #nunjuk diri sendiri

Selanjutnya, apakah kita bisa mulai bergerak maju lagi agar akrab berliterasi?
Apakah aku akan kembali melahap semua bacaan lagi? Ini pertanyaan serius buat diri sendiri. Karena semakin hari, aku semakin kebingungan soal baca yang mana dulu. Hahaha...

Di sisi lain mulai tertarik memperkaya diri soal parenting demi bekal jadi orang tua.
Sementara mulai pula bersemangat mencoba hal berliterasi baru di luar kebiasaan.

Kurasa baiknya aku bakal mulai dari manajemen waktu.



Bagaimana kondisi semangat literasi saat ini?

Saat ini, berliterasi sudah sangat sering digaungkan dari berbagai pihak. Contoh saja di kota Bandung tempat saya sempat bermukim dulu. Taman bacaan dan fasilitas ruang baca atau perpustakaan bisa dibilang mumpuni.

Apalagi saat Bandung berbenah mempercantik diri.
Perpustakaan di lingkungan Lapangan Gasibu itu adalah ide yang saaaangat menyenangkan bagiku. Juga perpustakaan kampus dengan fasilitas yang membuat betah, dan faktor pendukung lainnya.

Lihat?
Sudah bersemangat sekali bukan???

Program berbagi buku pun sudah sering kali terdengar.
Ada yang diprakasi oleh kelompok sukarelawan atau bahkan inisiatif pribadi.

Misalnya para relawan pengajar di daerah SM3T.
Waktu itu ada bazar heboh dari sebuah toko buku ternama. Saya yang notabenenya suka buku (walaupun kadarnya ga seheboh dulu), pun ikut ke bazar memborong beberapa buku.

Saat itu saya juga ikut serta penggalangan buku bacaan yang diprakasai tim pengajar SM3T dan kelompok sukarelawan Larantuka yang dijembatani oleh sahabatku, Bomans. Kami membeli buku bacaan untuk anak-anak.

Ada juga teman blogger yang baru sekali aku berjumpa dengannya.
Beberapa pembaca pasti kenal deh. Namanya DC alias Teh Desi, Ibu Jerapah.

Sudah pernah mampir ke blognya kan?
Isinya artikel bermanfaat yang kaya informasi.

Nah, Teh DC pernah bikin pengumuman berbagi buku gratis. Waktu itu saat ada program pengiriman buku gratis dari PT. Pos Indonesia. Ada beberapa buku yang ingin ia sumbangkan kepada siapa saja yang mau membacanya. Aku pun mengajukan diri untuk meminang salah satu koleksinya. Walaupun ternyata ada kesalahpahaman info dari PT. Pos, Teh DC tetap mengirimkan bukunya. Waktu itu ternyata ada syarat khusus untuk ikut program kirim buku gratisnya. Intinya, buku yang hendak disumbangkan oleh Teh DC tidak masuk syarat, dan dikenakan ongkos kirim. Aku bilang, ongkirnya aku yang bayar aja, tapi masyaallah niat berbaginya sangat teguh. Teh DC bilang nggak usah dan buku pun sampai ke alamatku. Barakallah ya teteh...

Selain taman bacaan dan fasilitas perpustakaan yang sudah berbenah, para individu pun sudah sangat melek bin sdar tentang pentingnya budaya membaca ini. Para ibu dan ayah mulai melengkapi koleksi bacaan untuk putra- putrinya, mulai mengenalkan permainan edukatif dengan tujuan mengenalkan dan merangsang minat berliterasinya, dan banyak usaha lainnya.

Artinya, sebenarnya Indonesia sudah tau tentang pentingnya hal tersebut.
Semoga saja, terlepas dari peringkat dunia itu, kualitas individu masyarakat Indonesia semakin meningkat. Semoga saja akupun bisa mengejar ketertinggalanku dan bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anak dan lingkungan sekitarku.


Jadi sebenarnya ada apa dengan rendahnya minat baca dan tulis di Indonesia???



Tulisan ini diikutkan dalam Postingan Tematik (PosTem) Blogger Muslimah Indonesia
#PostinganTematik #BloggerMuslimahIndonesia

63 komentar:

  1. api semangat membaca itu, ada. cuma kecil. minat membaca anak-anak sekarang tergantikan dengan game dan video mbak.
    :( , apa lagi kalau sudah memegang gadget, pasti mereka lupa membaca buku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti PR kita sebagai orang tua untuk menciptakan lingkungan yg kondusif harus lebih ekstra lagi ya.

      Biar ga terlena sama teknologi.

      Hapus
    2. ya mbak, PR kita semua :). kita sebagai yang tua. harus memberi pengertian klu buku lebih penting dari pada gadget.

      Hapus
  2. Saya juga dulu heran banget kenapa orang ga suka baca. Secara saya suka banget bahkan dari Majalah Bobo (tos kita) sampai akhirnya beralih ke Majalah Story waktu SMP (tapi sekarang udah nggak ada majalahnya). Sekarang saya sedikit2 ngerasain Mbak. Kelar skripsi, minat baca saya turun drastis. Butuh hampir setahun untuk balikin mood untuk mau baca. Yang biasanya satu buku bisa habis dalam waktu tiga jam kalau nggak diganggu. Ini sehari aja satu buku nggak dapet. T_T bingung lho itu..

    padahal blogku www.nilanela.com sebelumnya banyak ngereview soal buku juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari kita selesaikan PR kita mbak. Biar ga ketinggalan. Hehee

      Hapus
  3. Wah sama dong,saya juga dijuluki si kutu buku lo mbk.masa kecil saya lingkungan membentuk pasien membaca.beda nih dgn lingkungan sekarang,juga tetangga gk pada minat baca melainkan sinetronan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih banyak tantangannya sekarang ya mbak...

      Bismillah.

      Hapus
  4. Ternyata kesukaan pertama sama ya majalah Bobo, berarti emang majalah yang membuat semua anak jadi suka baca. Jadi inget dulu juga suka nih baca sobekan kertas bungkus apa aja, sekarang malah kadang numpuk buku (beli tapi nggak terbaca...). Kayaknya emang harus mulai dari diri pribadi baru di tularkan ke orang terdekat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo kita mulai lagi!!!
      Semangat deh ada temen senasib hehee...

      Hapus
  5. Nah, banyak PR buat aku sebagai Ortu, tapi alhamdulillah sebisa mungkin tetep edukasi membaca dan menulis pada anak, karena bagaimana pun kita ga bisa menolak teknologi yg makin canggih.
    La wong PR, tugas sekolah, intruksi hampir semua by gadget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget,Teh.
      Jangan sampe jadi kudet juga yaa

      Hapus
  6. Mengobarkan semangat yang hampir padam itu PR banget Mbaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget mbak. Hiks.
      Bismillah ya kita...

      Hapus
  7. Sama aku juga heran kalau ada yg ga suka baca. padahal sekali baca bisa melanglang buana kemana-mana. Aku sama anakku ga pernah maksa mereka harus baca sih ma. cuma aku persuasi dengan cara sering ajak mereka ke toko buku. atau kalau di bandara ajakin mampir ke periplus. Meski mulanya mereka cuek aja tapi lama2 mereka jadi suka ke toko buku karena banyak buku yg kelihatannya lucu2. harapannya sih dari sini mudah2an bisa membuat mereka cinta membaca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah...
      Great idea, mbak Nina.
      Aaamiiin.
      Semoga bentuk usaha kita membawa hasil yaaa...

      Hapus
  8. Selain pembiasaan secara individu dan keluarga, juga perlu peran serta masyarakat dan negara untuk mendongkrak minat baca kita, Mbak. Keberadaan buku murah, akses untuk mendapatkan peminjaman buku koleksi kekinian yang menjangkau daerah terpencil, plus juga meminimalisir pajak sehingga para penulis rajin berkarya... ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, masukan banget ini mbak.
      Semoga suara hati ini didengar pemerintah ya. Biar ga bertepuk sebelah tangan usaha kita.

      Hapus
  9. Aku pembaca setia bobo! :D terpaan gadget berpengaruh signifikan terhadap minat baca saat ini. Reminder juga buatku ke anak2 nih

    BalasHapus
  10. Bener2 susah menarik minat baca anak saat ini. Sudah disediakan buku, malah kadang dikasih makanan dan minuman tapi tetap aja membacanya malas...

    Tapi meski demikian kita yang peduli terhadap minat baca orang Indonesia yang sangat rendah jangan patah semangat ya. Insya Allah tidak ada perjuangan yang sia-sia. Suatu saat akan ada hasilnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamin.
      Insyaallah ya teh. Semoga api semnagat ga padam.

      Hapus
  11. Mungkin karena menonton jauh lebih menarik, sehingga semangat membaca tergeser dengan menonton. Mungkin, loh, ya. :)

    BalasHapus
  12. Kalo liat d bookfair, kyanya minat baca orang indonesia so far so good. Tp y kalo dirata2 seluas2nya Indonesia, bukan cuma kota besar, musti minat baca dikit. D daerah2 pelosok, jangankan buku, listrik aj kaga ada. Untungnya sumber air su dekat. Sedangkan, masyarakat perkotaan skrg udh melek buku. Apalagi para emak. Ensiklopedi buat bocah yg mehong aj laris manis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya,ya.
      Emang masih kontras.
      Tp semoga dg semangat kendala2nya bisa diatasi

      Hapus
  13. Benar banget Mbak..bangun budaya literasi dari lingkungan keluarga dulu...Kalau sudah dasarnya kuat, Insya Allah akan meningkat ke tingkat masyarakat :)

    BalasHapus
  14. Semoga dapat menular semangat ayah ibunya kepada generasi penerus ^^

    BalasHapus
  15. Kebiasaan membaca memang harus dibentuk ya, enggak bisa serta merta terjadi begitu saja.
    Aku senang belakangan ini mulai marak perpustakaan dan taman bacaan. Semoga suatu saat nanti minat baca di Indonesia akan meningkat ya. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Alhamdulillah banget mulai bertebaran.

      Hapus
  16. Benar sekali, untuk budaya literasi memang di mulai dari diri sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak.
      Kalo kitanya udah suka, tinggal menularkan ke yang lain.

      Hapus
  17. Beruntung punya orangtua yang mendukung aktivitas membaca. Memang sebaiknya, membangun literasi dimulai dari rumah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Alhamdulillah.
      Semoga kita jg bisa menciptakannya yaa...

      Hapus
  18. WAh mba di sumsel mananya? Aku baru pindah k pulau ini ikut suami di pali. Hm bener mba yang bikin sedih peringkat negara kita itu kalah oleh beberapa negara Afrika :(
    Suka malu kalau di kelas di bahas ini sama sensei :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiks.
      Iya mbak. Sedih rasanya liat kenyataan x_x

      Deket tuh mbak. Saya juga di kabupaten, di Muara Enim ikut suami. Wah, kapan2 bisa meetup kita mbak 😉

      Hapus
  19. MasyaALlah ayahnya Mba Ama keren sangat! semoga kita juga bisa mencontoh beliau untuk keluarga kita ya Mba, untuk 'menyelamatkan' generasi kita minimal. aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamin.
      Alhamdulillah, Mbak Arin.
      Tinggal anaknya ini nih yg kurang jaga x_x

      Hapus
  20. Alhamdulillah dari dulu saya suka baca, lalu setelah itu jadi pengen nulis. Dulu waktu cuma ada koran sebagai bahan bacaan, kolom pertama yang dibaca adalah surat pembaca. Entah kenapa dulu suka banget membaca bagian tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, keren mbak.
      Kotan kan lumayan masuk bacaan berat yah. Hehhee...

      Mungkin karena redaksi bahasanya kaya mewakili sudut pandang kita kali ya? 😉

      Hapus
  21. eh iya dulu aku suka mengisi TTS di koran tiap Minggu. Sekarang HP lebih menarik daripada koran yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak.
      Kalah tts sekarang, hp udah banyak fitur menarik yg suka bikin kita nyuri-nyuri waktu.

      Hapus
  22. Setuju mba, keluarga sangat berpengaruh dalam membangun budaya literasi.
    Semoga kita semua bisa ya mba.
    Nice share :)

    BalasHapus
  23. Duuh, glekh banget ituuu, berarti Indonesia tambah merosot yaa...
    Nah, dan agaknya soal minat baca rendah ini iya bisa jd sebab tdk seimbang. Sementara di kota (besar) tampak sdh sangat melek buku yg di desa kurang terkena penggalakkan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi mbak, itu salah satu faktornya. Tapi melihat keadaan sekarang, daerah tersebut kok bisa lebih melek main fb di smartphone ya? 😁

      Kayanya bisa juga berliterasi dg lebih positif kalo ada kemauan mah 😉

      Hapus
  24. Budaya membaca memang perlu banget didukung oleh semua pihak, termasuk para blogger.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak.
      Semoga kita jg bisa menebar manfaat dari tulisan kita yaaa...


      Amiiin

      Hapus
  25. Kadang kalau ingat bagaimana dulu suka merengut kalau disuruh perbanyak baca buku ketimbang main panas-panasan sama Ibu, saya jadi ketawa. Karena pada akhirnya kebiasaan itu terbentuk juga. Jadi suka baca Majalah Bobo juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayanya Bobo perlu liat nih!
      Banyak fansnya di sini ❤

      Hapus
  26. Bobo, RPAL, RPUL, hehe sama... Juga tentang Dad's storynya :)
    PR dunia literasi memang, Mbak. Yuk, bangun kesadaran dari diri sendiri dan keluarga. Tulisan yg menarik, terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak.
      Temen akrab kita ya kertas-kertas itu 😉

      Alhamdulillah, makasih mbak Tatiek.

      Hapus
  27. Tugas kita, para pecinta buku, untuk ikut serta dalam program melek membaca dan menulis agar bisa mendongkrak rendahnya minat di bidang tersebut. Bukankah salah satu penyebab peringkat tersebut karena sebagian besar masyarakat kita belum menganggap pentingnya kehadiran sebuah buku. Buku masih dianggap benda mahal dan tidak terlalu perlu. Karenanya saya sangat setuju dengan kehadiran taman-taman bacaan yang didirikan oleh orang atau kelompok masyarakat. Niatnya sih, suatu hari nanti saya juga bisa membuka sebuah atau lebih taman bacaan yang tidak hanya sekadar tempat membaca namun dapat menjadi pusat literasi masyarakat sekitar. Doakan ya mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiin allahumma aaamiiin.
      Semoga segera terwujud niat membangun taman bacaannya, Mbak.

      Saya juga pengen banget bikin taman bacaan. So far masih nyiapin buki dan tempatnya.

      Hapus
  28. jika dibanding ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, gairah membaca saya pun jelas menurun. Dan ini artinya PR besar buat saya.

    BalasHapus
  29. Waktu kuliah harus pinter-pinter milih lingkungan yang mendukung untuk baca buku selain modul kuliah nih

    BalasHapus
  30. Mba alma, aku juga belakangan agak kurang nih semangat membacanya. Di keluarga harus aku maksimalkan lagi ya agar makin banyak yang membaca

    BalasHapus
  31. Majalah bobo itu favorit banget emang..zaman sekarang majalah bobo harus bersaing dgn gadget untuk merebut perhatian anak2

    BalasHapus
  32. AKu suka baca tapi akhir akhir ini lagi males... ☹️ Entah kenapa. Mm, nanti kalo punya anak.. aku mau biasain anakku baca dari kecil supaya terbiasa dan kalo dia lg ga baca buku rasanya ada yg janggal hehe.. kayaknya emang harus dibiasain dr kecil deh mbak ��

    BalasHapus
  33. jamannya kali ya mba Al, yang bikin beda.
    Aku juga heran di tempatku sini, rendah sekali minatnya

    BalasHapus
  34. Aku sekarang lagi malas baca juga mbak. hiks hiks hiks. biasanya minimal sebulan satu buku aku habiskan ini malah nihil. duh duh duh. eh tunggu, tapi tiap malam aku bacain buku cerita untuk anakku, jadinya enggak begitu malas baca kaan? #pembelaandiri

    BalasHapus
  35. Karena orang tua teladan. Dan pengaruhnya sangat besar bagi anak-anak di rumah.

    Miris yaa kalo liat range tingkat bacanya Indonesia. Tapi hopefully, semakin membaik.

    BalasHapus

Hai! Terima kasih sudah mampir yaaa...
Mari tinggalkan jejak biar aku tahu kalau kamu udah ke sini ;)
Mana tau nanti aku mau main juga ke tempatmu!^^

COPYRIGHT © 2017 ALMA WAHDIE | THEME BY RUMAH ES