Surat untuk Adinda; Balada Anak Rantau

Alma Wahdie | Wednesday, August 31, 2016 |
Ini adalah salah satu bentuk dari random thought yang sering kali melesat muncul begitu saja. Tulisan yang nantinya ternyata adalah curahan pikiran dan perasaan ini,merupakan repost dari status di akun FBku. Dibuatnya dadakanku waktu itu, tanggal 14 Agustus 2016. Aku ingat itu hari Minggu. Ada banyak momen yang membuat bulan Agustus tahun ini jadi penuh cerita. Penuh gejolak hati dan pikiran (eaaaa.... padahal tiap hari gitu juga LOL)

Masing-  masing dari kita tentu punya beragam peran dalam keseharian hidup. Aku pun begitu.
Cuplikan postingan ulang di bawah ini adalah saat aku berperan sebagai kakak; sebagai si sulung; sebagai cucu pertama di garis ayah; sebagai... sebagai.



Kenalkan (atau mungkin udah pada kenal).
Bukan! Yang ganteng ini bukan Pak Jokowi, walaupun banyak yg bilang mirip dan bahkan pernah dikirain anak-anak di lampu merah kalo beliau adalah Pak Jokowi [Oh, My!]
Sampe-sampe pada datengin pintu mobil (yg emang terbuka kacanya) buat menyapa. Beliau bagi uang sedikit pada mereka. Eh, salah satunya teriak, "Ada Pak Jokowi wooiii. Kami dikasih duit nah (sambil ngacungin uang pemberian ayah) Hahaha...
Ga nyangka sampe segitunya orang ngirain mirip. LOL

OK. Ku ulangi lagi ya perkenalannya.
Kenalkan, ini dua orang kesayanganku, kebanggaanku, jiwaku, cintaku, Ayah Ibuku.
Aku ga lebay toh?
Karena SEMUA ORANG pasti cinta orang tuanya (dengan caranya masing-masing). Bahkan caraku menyayanginya pun berbeda dengan cara ketiga adikku menyayanginya.
Begitu juga cara mereka menyayangi kami pun akan berbeda dengan setiap orang tua lainnya dalam menyayangi anak mereka masing-masing. "Semua orang beda-beda", kata ayah ketika aku kadang kesulitan berkomunikasi dengan adikku. Dari sana aku belajar banyak.

Ayah dan ibu juga saling sayang dengan cara mereka sendiri. Tentang kisah cinta mereka? aku tak tahu banyak, karena kalau kami, keempat putrinya ini bertanya, maka keduanya akan tersipu malu, akan tertawa saling menggoda perihal siapa yg naksir siapa atau perihal cerita jaman PDKT via Handy-talky hahaha...

Bagaimana sayangnya? Hanya ayah dan ibu yang tau perasaannya. Mungkin lebih besar dari pada gunung menurutku :) Buktinya ada kami berempat sekarang.

Seperti apa bentuknya? Yang ini mungkin aku bisa sedikit menilai dari apa yg kami lihat,dengar dan rasakan (kaya judul lagu haha).
Saling sayang mulai dari saling support kerjaan, saling support mendidik kami, menjaga kami, membekali kami dengan pelajaran adat:moral:agama:dan nilai hidup.
Saling sayang dengan keterikatan. Dimana ayah selalu suka masakan ibu dan sering kali bilang ke aku (mungkin pernah ke adek-adek juga), "Masakan ibu ini enak loh. Makonyo ayah seneng ngajak kawan makan di rumah terus gawean ibu tu cepet, sigap nian."
hahaha, soal ayah memuji dan mengagumi masakan ibu yang enak memang sering disampaikan langsung ke ibu. Lalu kemudian direspon ibu dengan tawaan karena menganggap ayah sekedar menggoda, lalu berakhir dengan candaan dan gelak tawa. Kami yg kadang melihat dan mendengar keduanya ini ikut senyum-senyum bahkan juga ikut tergelak bersama.
Soalan ibu yang emang segala kerjaannya itu PRO atau sigap cek cek cek alias cepat dan bagus itu, entah pernah disampaikan ayah langsung atau ayah malu-malu menyampaikannya. Jadilah memujinya dengan diam-diam menyampaikannya padaku (mungkin ke adek-adek juga).

Cara mereka menyayangi, menunjukan sayang, perhatian memang berbeda dengan orang lain. Karena sekali lagi memang setiap orang itu berbeda. Yang pasti, yang kurasakan adalah rumah penuh cinta dan sayang. Pun cara mereka menyayangi kami, empat orang anak putrinya.

"Sekolahlah ke tempat besar, biar kenal potensi diri, biar biso bersaing dan bangun kompetensi. Success and survive!" itu kata ayah.
Terinspirasi dari kakaknya yang pernah membawanya sekolah ke Jakarta walaupun akhirnya kembali lagi waktu itu. Kami tak bosan dengar cerita ayah tentang jaman sekolah, jaman susah, jaman berjuangnya.
"Pilihlah di mano bae asal emang pilihan hati jadi menjalaninyo dak setengah-setengah dan sukses gek. Di mano bae harus biso bawa diri, harus biso bergaul dg uong. Jangan minder. Ibuk doain terus semoga jadi anak sholeha dan sukses," kurang lebih begitu pesan ibu yang jarang menceritakan kisahnya kalo tidak kami yg meminta.

Tentang sekolahnya, tentang perjalanannya ikut sanak keluarga, tentang persaudaraan, tentang hidup prihatin.
"Orang tidak tahu, jadi jangan marah kalo dengar omongan yang mengusik. Karena mereka tidak tahu maka tak mengapa. Nanti biar lihat sendiri, asal kita punya prinsip hidup dan tau arah tujuan kita. Jangan lupa sholat biar di mana pun," itu kataku pada adik-adikku.
Ada banyak pengorbanan dua orang hebat ini dalam perjalanan hidup kami. Ada rumah cinta yang kami rindu untuk segera kembali. Ada banyak hal yang lebih dari cukup untuk kami mengetahui bahwa kami pergi untuk kembali.

Bandung,
Minggu, 14 Agustus 2016.

Buat adik-adikku, anak ibu dan ayah yang sedang berjuang. Selamat belajar, sayang.

2 comments:

  1. Tapi boleh jujur mbak memang mirip sekali lo dengan pak jokowi.
    Wah kisahnya sungguh menarik nih mbak coba kalau difilmkan pasti menarik kan, ahi hi hi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...
      Mas orang ke-sekian yang bilang mirip :D

      Delete

Hola!
Tinggalin komentar dong, biar saling kenal^^
Terima kasih sudah mampir!

Go Get Yours!

https://www.shopback.co.id/?raf=Drt1dR