Pagelaran Budaya Melayu Sumatera, Riau

Alma Wahdie | Monday, April 27, 2015 |
Poto bersama kedua MC
Assalammualaikum.
Selamat pagi, teman- teman.
Dalam kesempatan ini, saya mau berbagi tentang acara pagelaran budaya Siak, Riau yang berlangsung beberapa hari lalu. Acara ini diselenggarakan pada hari Kamis, 23 April 2015.

Seperti biasa pada semester ini, saya ada kelas di FPBS setiap sore.
Selepas menghadiri sesi di kelas hari itu, saya berjalan pulang melewati gedung amphitheater UPI.
Ramai sekali orang- orang berkerumun di sana. Saya yang selalu penasaran mendekati kerumunan itu, karena memang saya ada waktu untuk melongok sebentar ke sana.

Ternyata, ada kegiatan komunitas anak Riau UPI di sana. Mereka sedang menyelenggarakan acara pagelaran budaya kabupaten Siak, salah satu kabupaten yang ada di provinsi Riau.
Dari penjelasan panitia yang saya peroleh bahwa acara akan dimulai pada pukul 19.00 wib.
Akhirnya saya melanjutkan perjalanan pulang dan  mencatat jadwal itu. Nampaknya perlu sedikit hiburan untuk rutinitas bulan ini. Diam- diam saya masukkan ke dalam agenda hari itu.
Sepanjang jalan menuju pulang di samping gedung amphitheater itu dipajang hasil poto- poto para photographer dengan tema kabupaten Siak, Riau. Ada banyak sekali gambar di bingkai yang menggambarkan keadaan alam, adat budaya, tarian daerah, dan panorama Riau.







Kakek bercerita dengan cucunya
Akhirnya, saya dapat menghadiri acara malam itu. Sebelumnya saya mengundang kakak untuk ikut serta, namun kak Neni sedang berhalangan untuk bergabung. Karena memang ingin menonton pagelaran itu, saya pun pergi sendiri lagi pula venue acara tak jauh dari kediaman saya.

Pengeran murka karena putri pergi tanpa ijinnya
Saya juga sedang ada janji sedari sian untuk bertemu teman saya, bang Bomans. Beberapa hari lalu, setelah perjalanan kami ke Stone Garden (lihat serunya cerita kami ke sana DISINI) kartu memori kameranya say pinjam^^ Saya berjanji mengembalikannya hari itu. Akhirnya saya mengundang Bomans untuk hadir ke pagelaran itu sekalian untuk mengembalikan kartu tadi.

Ternyata di sana saya juga berjumpa dengan bang Irwan, teman kami dari Aceh, juga Ilham dari Riau. Jadilah kami menikmati suguhan penampilan budaya bersama malam itu.

Acara dimulai dengan beberapa sambutan dari petinggi yang jauh- jauh datang dari kabupaten Siak, Riau. Penyelenggara benar- benar bekerja keras untuk menggelar acara ini.

Saya pribadi sangat suka dengan tata panggung, lighting, dan ornamen yang ada di atas sana. Acara disusun dengan teater bercerita tentang "Raje Kecik" yaitu orang yang mendirikan atau pemula di tanah Siak.

Bermula dengan adegan kakek yang menasehati cucu lelakinya yang pulang sekolah terlambat.
Sang kakek bertanya tentang pelajaran yang diperoleh cucu selama sekolah hari itu. Ternyata cucu kesulitan mengikuti pelajaran sejarah, akhirnya kakek pun menceritakan asal muasal tanah mereka, tanah Siak, Riau.

Awal mula terbentuknya komunitas atau daerah Siak adalah dari perang saudara awalnya karena iri yang dimiliki oleh kakak perempuan putri yang akhirnya membuat bualan sehingga terjadi salah sangka bahkan berujung kemarahan yang tersulut fitnah.

Raja kecik yang merupakan anak dari Raja dan permaisuri yang kemudian mempersunting seorang gadis. Menikahlah mereka, namun kakak perempuan puteri ini iri hatinya dan membawa berita bahwa ayah mereka sakit sehingga putri pun diminta pulang.

Adegan berlanjut dengan penampilan sholawat nabi dari tim penari aceh.
Merupakan sholawat tentang keindahan bersabar, keputihan hati.
Tim penatri begitu kompak melantunkan senandung sholawat sembari bergerak cepat senada dengan iringan rebana yang dipukulnya.

Formasi tarian Aceh (sholawat nabi)
Bagi adat melayu yang cenderung berlandaskan ajaran Islam, hendaklah istri meninggalkan rumah atas ijin suami. Sehingga putri pun berkata bahwa ia akan menunggu suaminya pulang terlebih dahulu, karena suami sedang pergi. Namun, akal bulus si kakak tetap memaksa putri untuk pulang tanpa ijin, dan inilah awal fitnah akan ia tujukan pada adiknya. Karena terdesak dan rasa khawatir akan keadaan ayahandanya, putri pun pergi pulang tanpa menunggu pangeran kembali. Ternyata ayahnya dalam keadaan baik- baik saja melainkan sebagai alasan agar serta merta kakak perempuannya dapat mefitnahnya.

Tersebarlah berita yang menceritakan bahwa pangeran membiarkan istri pergi sendiri, juga berbagai macam cerita tak sedap lainnya; bahwa istri tak deiperlakukan baik akhirnya pulang ke rumah orang tua, dan sebagainya. Mendengar desas- desus itu, pangeran pun murka. Istrinya ia ceraikan. Sebagai perempuan baik, putri menerima perceraian itu karena ia merasa memang salahnya pergi tanpa pamit dan membuat pangeran didera fitnah keji itu. Namun, putri tetap menyayangi pangeran raje kecik itu, sehingga ia tak mau menikah dengan orang lain lagi.

Ayahanda putri merasa bersalah dan pergi menemui pangeran, namun karena masih tersulut amarah dan api dendam, pangeran tak menghiraukan pernyataan ayah mertuanya. Kemudian teater kembali terang dengan terpaan cahaya kuning, muncul lah para pemain angklung dan konduktornya serta penyanyi yang diiringinya menyanyikan lagu melayu. Indah sekali.

Persembahan permainan Angklung, lagu Melayu
Penyanyi lagu melayu bersenandung merdu diiringi permainan Angklu
Kakak perempuan putri yang tamak itu memaksa putri untuk menikah dengan pemuda lain yang merupakan pewaris keluarga kaya raya. Karena tak ingin menikah dengan paksaan, putri pun mengajukan syarat yang juga merupakan pesan tersiratnya bahwa ia tak mau menikah dengan siapapun kecuali jika yang dicintanya telah pergi.

AKU HANYA INGIN MENIKAH JIKA KAU BAWAKAN KEPALA RAJE KECIK SEBAGAI MAHARNYA!!!

Kemarahan putri karena paksaan kakaknya itu membuatnya berlafal demikian.
Tak ayal karena sombong, pemuda itupun menyanggupipermintaan putri. Ia berkata bahwa akan bertarung dengan pangeran. Beberapa tari selingan menemani penonton lakon malam itu. Ada tari Kipas Lampung, Tari Muda- Mudi Melyu, Tari Piriang, dan macam- macam tarian daerah Sumatera lainnya. Dibawakan dengan apik sekali dan sangat menghibur, apalagi musik pengiringnya live bukan rekaman; dimana gendang ditabuh mengiringi tarian dan suara merdu penyanyi turut memberikan nuansa indah tarian- tarian malam itu


Pangeran memenangkan pertarungan dg lelaki yang menginginkan putri dan akhirnya mereka kembali bersama lagi
Akhirnya, pertarungan berakhir dan pangeran Raje Kecik lah yang menjadi pemenangnya.
Putri tersedu menangis meminta maaf pada pangeran atas kelalaiannya di masa silam. Pangeran yang juga masih tetap menyayangi putri pun memaafkannya.

Untuk menjalani hidup baru merekapun hijrah ke sisi lain tanah Riau, yang sekarang disebut sebagai kabupaten Siak. Raje kecik dan keturunannya inilah yang pada akhirnya menjadi nenek moyang penduduk asli Siak, Riau.

Demikianlah cerita teater budaya Riau malam itu.
MC menutup rangkaian cara pagelaran budaya Siak, Riau

Terlalu banyak kamera hihiii... mata kita seliweran :P

Penari dan kakek tua. Photographer: Bomans

Proud of you all! Poto bersama pelakon teater dan penari. Pic by Bomans

Rangkaian acara pun berakhir tepat pukul 23.00 WIB.
Setelah mengucapkan selamat pada para pelakon dan penari yang sukses membawakan suguhan malam itu, kami pun pamit pulang. Banyak sekali pendukung acara yang membuat rangkaian acara menjadi sukses, kami penonton benar- benar terhibur dan menikmatinya, terima kasih. Membawa rasa senang dalam hati karena terhibur dan mendapatkan pelajaran sejarah dan budaya daerah Riau. Pagelaran malam itu juga pengobat rindu pada kampung halaman, muik- musik melayu mengingatkan suasana rumah :-)
Alhamdulillah.

Mari kita lestarikan budaya lokal kita!

Terima kasih sudah membaca, semoga menambah khazanah pengetahuan tentang Riau.
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa...


No comments:

Post a Comment

Hola!
Tinggalin komentar dong, biar saling kenal^^
Terima kasih sudah mampir!

Go Get Yours!

https://www.shopback.co.id/?raf=Drt1dR