Nongkrong vs. Belajar

Alma Wahdie | Monday, April 27, 2015 |
"Aku ga bisa belajar kalo sepi,karena nanti malah tidur."
"Kalo rame aku malah ga bisa konsentrasi, dong."
"Rame mah ga belajar aku, sayang ngelewatin momennya."
"Bisa sih belajar sambil kegiatan lainnya. Aku sih OK aja."

Teman- teman termasuk yang mana hayo???
Ini semua tergolong gaya belajar alias learning styles. Setiap orang memiliki gaya belajar masing- masing. Hal ini tentu saja mempengaruhi bagaimana kecenderungan setiap individu dalam memproses materi yang ada dalam keadaan terbaiknya.

Saya sendiri termasuk individu yang memiliki gaya belajar campuran, yakni kinestetik, audio, dan visual. Saya termasuk orang yang kurang maksimal menangkap materi pelajaran kalo suasana sepi.
Bagaimana mengetahui gaya belajar kita?

 Saya sendiri baru memahami gaya belajar saya setelah sekian lama mencoba berbagai keadaan belajar. Semasa proses belajar saat ini, saya menemukan gaya belajar saya campuran lantaran kecenderungan saya seperti kalimat pertama tadi. Saya justeru akan tertidur jika belajar dalam suasana hening alias sepi. Lebih mudah bagi saya memahami suatu bacaaan atau menulis dengan iringan musik dan/ atau sambil menyalakan TV/ memutar video. Sehingga sesekali saya dapat melirik tayangan yang ada atau bahkan sekedar memainkan HP dapat mewakili salah satu gaya belajar saya yang kinestetik. Bahkan, akhir- akhir ini saya punya mainan baru.
Yaitu benang wol!
Alhasil, saya pun belajar sambil sekali- kali berhenti untuk merajut. Benar- benar campuran memang. Saya bukan orang yang akan diam mengerjakan sesuatu jika sendiri. Ada banyak hal yang akan saya lakukan untuk menyelingi jam belajar saya, bisa dikatakan bahwa sebenarnya saya tak punya jam belajar.

WOW!!!

Jangan ditiru ya, Teman- teman hahaa.
Karena memang begitulah cara saya melakukan sesuatu jika sendiri. Bisa saja awalnya saya menulis blog, lalu sembari berpikir memilih- milih kata saya akan menggambar atau mewarnai. Makanya, jangan heran kalau postingan di blog saya sering kali tidak konsisten jumlahnya. Bisa saja saya menulis satu post sehari, namun bisa hanya satu  post selama sebulan. Hohoho

Tapi, berbeda lagi jika melakukan sesuatu secara berkelompok.
Misalnya bekerja bersama tim untuk menghitung ulang jumlah topi yang akan dibagikan pada peserta senam. Saya akan melakukannya dengan serius, tanpa menyelinginya dengan hal lain. Bahkan hanya sekali- sekali saja berbicara menimpali. Jika begitu bentuknya, saya akan menjadi fokus sekali.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bahwa saya tidak harus berada dalam situasi senyap atau sepi tanpa suara untuk fokus pada suatu hal. Tidur ditengah hingar bingar musik tetangga yang sedang hajatan pun saya bisa ahahhaa. Belajar pun demikian, saya tidak mempunyai aturan khusus untuk itu. Lebih sering saya menyalakan televisi sebagai teman saya membaca, sesekali saya lirik jika ada info yang ingin saya perhatikan. Selebihnya hanya saya dengarkan saja. Malah terkdang saya bosan dengan hingar bingar televisi yang itu- itu saja, akhirnya saya mendengarkan radio atau playlist dari MP3. Saya juga suka belajar, membaca, menulis, menggambar, mewarnai, atau melakukan kegiatan lainnya sambil nyemil hehehe (yang ini juga jangan ditiru yaaa... nanti gendut dan cute kaya aku LOL). Lebih suka wafer ataupun minuman yang bercita rasa coklat. Mungkin seperti khasiat coklat yang kita tahu bahwa coklat menambah jumlah salahsatu jenis hormon dalam tubuh yang membuat kita merasa rileks alias senang (plus jerawat kalo kebanyakan huhuhuhuu T_T).

Well, bagaimana pun gaya dan cara belajarnya, pastikan kita memahaminya dengan baik, sehingga kita dapat mengatasi efek negatifnya pula (jika ada). Misalnya seperti saya, yang akan lebih produktif melakukan sesuatu dengan hati riang jika ada coklat tadi, atau sambil ditemani teman- teman yang berdendang ria. Hal ini jika terlalu sering diikuti lumayan berpengaruh negatif nantinya alias menimbulkan efek ketergantungan. Jadi seimbangkanlah! Jangan membiarkan gaya dan cara ini menguasai diri kita sehingga kita tak bisa berbuat optimal dengan positif.

Sepertinya memang otak saya sudah cakap memilah hal apa yang menjadi prioritas dan sebagainya.
Jika pekerjaan yang menuntut saya untuk berkordinasi dengan anggota tim lainnya, secara default saya akan bekerja profesional, dengan waktu yang ada dan target yang harus dicapai, maka saya akan sendirinya fokus pada upaya pencapaian target tersebut.

Untuk belajar hari- hari alias kewajiban harian yakni membaca, saya tidak menyediakan waktu khusus. Maka dari itu, saya meyiasatinya dengan membuat rak buku rendah dan dekat dengan tempat tidur saya. Sehingga, setiap saat saya dapat meraihnya sebagai selingan manakala saya sedang melakukan hal lain.

Inilah keuntungan jika kita mulai mengenali gaya belajar kita.
Kita bisa mengatasi alias mencari cara untuk mendukung hal tersebut agar semakin optimal tentunya.
Ayo, kenali gaya dan cara belajar teman- teman!

Nongkrong vs. Belajar??? No problemo!!!

Terima kasih telah membaca^^

2 comments:

Hola!
Tinggalin komentar dong, biar saling kenal^^
Terima kasih sudah mampir!

Go Get Yours!

https://www.shopback.co.id/?raf=Drt1dR