Life is a Choice!

Alma Wahdie | Friday, January 30, 2015 | |

 

 Sebuah Pandangan atas Phenomenon, Kurikulum Pendidikan Indonesia


U
ntuk sekolah atau tidak sekolah; untuk maju atau tidak maju; untuk bahagia atau tidak bahagia bahkan, untuk hidup atau tidak hidup adalah pilihan setiap individu. Sama halnya dengan untuk ikut berkontribusi atau tidak; untuk berkontribusi aktif atau pasif; untuk peka atau sedikit peka atau tidak peka sama sekali; itu adalah pilihan. Tak munafik pastilah semua orang akan memilih yang terbaik. Tentu saja untuk hidup daripada mati; untuk sekolah daripada tidak sekolah (jika ada kesempatan); juga untuk bertahan dalam kehidupan sosial dengan menjadi sangat peka untuk keharmonisan daripada terlempar keluar lingkaran. Namun, ketertarikan alam bawah sadar untuk memilih yang terbaik itu terkadang tak sejalan dengan tingkah laku yang direfleksikan oleh sang pemilih.
Begitu pula halnya dengan pendidikan. Begitu banyak pilihan petunjuk pelaksanaan sebuah siklus pendidikan yang masing- masing memiliki program unggulan sehingga bersaing satu sama lain. Kurikulum adalah sebuah perdebatan sepanjang pemangku kebijakan mencoba memaparkan keunggulan tiap kurikulum yang dijunjungnya. Perdebatan yang tentu saja kita tahu jawabannya, yaitu kelebihan dan kelemahan lalu perbandingan dengan kurikulum tandingannya. Bukankah semua memang berpasangan? Ada baik tentu ada buruk, bukan? Maka dari itulah perlu ada kerendahan hati untuk berfikir jernih agar mampu mengevaluasi secara objektif daripada memihak secara subjektif atas apa yang diunggulkan.
K.H.R. Zainuddin Fananie (1934) dalam bukunya yang berjudul Pedoman Pendidikan Modern yang kembali dicetak pada Januari 2011 mengemukakan pentingnya pendidikan karakter yang dirumuskan dalam istilah ‘kebiasaan baik’ dalam berfikir maupun berperangai. Hal ini sejalan dengan salahsatu tujuan Kurikulum 2013 tentang pendidikan karakter. Maka, jika diperdebatkan tentang bahwa tujuan ini telah ada dalam Kurikulum sebelumnya, tentu saja! Bahkan jauh sebelum itu juga para pakar pendidikan berfikir keras untuk merumuskan hal ini dalam sebuah dokumen petunjuk pelaksanaan pendidikan resmi yang dinamakan Kurikulum ini. Jauh ketika masih jaman penjajahan di tahun 1934. Lalu, bukankah memang esensi pemberlakuan kurikulum baru ini adalah sebagai perpanjangtanganan dari kurikulum sebelumnya. Artinya, ini adalah upaya perbaikan untuk mencapai tatanan pendidikan yang lebih baik tentunya. Pendidikan untuk kemajuan, yakni lebih baik dari hari ke hari (Zainuddin Fananie).
Kelemahan Kurikulum 2013 yang diperdebatkan telah didengar dan dicatat oleh tim perumus Kurikulum, lalu apakah tidak ada pemberian waktu untuk kembali meninjau, kembali memperbaiki sesuai saran dan kritik yang ada daripada kembali ke kurikulum lama dengan konsekuensi tak maju sesuai definisi kemajuan di atas tadi?
Kurangnya waktu pelatihan guru sehingga pelaksanaan di lapangan kurang maksimal, lambatnya pendistribusian bahan ajar, bahkan kritik atas konten bahan ajar yang dinilai salah sama sekali. Ini adalah kritik yang membangun tentunya bagi tim perumus. Menilik tujuan mulia dari pemberlakuan Kurikulum 2013, demi perbaikan nilai moral masyarakat, demi penyelamatan jati diri bangsa, tentulah kritik tadi tak bisa serta- merta membuat kita berhenti dan memutar arah. Bukankah memang akan selalu ada halangan dan rintangan untuk sebuah perjalanan hebat?
Masih seperti disampaikan oleh salah satu pendidik terbaik Indonesia, Zainuddin Fananie, tentang tujuan pendidikan sebagai penunjuk jalan kebaikan kepada siapa saja agar nantinya dapat memilih jalan tersebut dengan kesadaran sendiri, sejatinya pendidik, sebagai pejuang, harus tetap berkuat hati menjalankan amanah mulia tersebut. Bukan untuk memaksa, tapi unntuk mengarahkan. Sehingga, belum sempurnanya Kurikulum yang ditawarkan, seiiring berjalannya waktu, tentulah pendidik masih memiliki otoritas penuh untuk tetap mendidik dan mengajar demi mencapai tujuan pendidikan yang dirumuskan. Sembari tim perumus memperbaiki kekurangan yang disampaikan oleh semua pengamat tadi, pendidik, dalam hal ini guru, berhak memilih untuk melanjutkan pendidikan dalam kemajuan atau kembali memutar arah yang track record-nya sudah menjadi rahasia umum. You choose!
(3/1/15 oleh AlmaWahdie)
“Semua pendidikan itu kita tujukan/ dasarkan pada kebaikan yang telah ditentukan Pengatur Alam (Tuhan) supaya yang kita didik menjadi orang sopan/ bangsa yang mulia serta tinggi derajatnya (Z. Fananie)

No comments:

Post a Comment

Hola!
Tinggalin komentar dong, biar saling kenal^^
Terima kasih sudah mampir!

Go Get Yours!

https://www.shopback.co.id/?raf=Drt1dR